Islam Itu Ramah dan Rahmah


-1
107 shares, -1 points

Saya membaca pernyataan Kanselir Jerman, Angela Merkel, bahwa Jerman telah gagal memahami bagaimana imigran muslim telah mengubah negara mereka, dan harus menerima kenyataan bahwa jumlah masjid lebih banyak daripada gereja di seluruh negeri. “Negara kita akan terus berubah, dan integrasi (proses pembauran) juga merupakan tugas bagi masyarakat dalam menghadapi imigran. Masjid misalnya, akan menjadi bagian lebih menonjol di kota-kota kita daripada sebelumnya”. Demikin termuat di Harian Frankfurter Allgemeine Zeitung.

Sebulan yang lalu saya baru pulang dari Jerman. Dalam beberapa kesempatan ngobrol dan berdialog dengan berbagai pihak di sana, saya mendapatkan informasi dan cerita-cerita bahwa Jerman adalah negara yang paling terbuka menerima dan memfasilitasi gelombang pengungsi muslim dari kawasan negara-negara Islam, terutama dari Turki dan negara-negara muslim yang sedang berkonflik. Bahkan masyarakat di desa-desa di Jerman secara sadar dan mandiri membuat perkumpulan-perkumpulan untuk membantu para pengungsi beradabtasi secara kultural, mencarikan akses pekerjaan dan akses pendidikan bagi imigran muslim yang masih usia pelajar.

Yang menarik bagi saya, mereka sama sekali tidak merasa terancam dengan kedatangan para pengungsi itu. Mereka bilang bahwa orang Islam pada dasarnya adalah ramah, cepat beradaptasi, dan bersikap toleran. Meski menurut pengakuan mereka, tentu masih ada kelompok-kelompok masyarakat dan politisi yang teriak-teriak menentang keadaan itu. Di negara-negara kawasan Eropa, sekarang ini populasi umat Islam berkembang cukup pesat, khususnya di kalangan usia muda. Mereka juga bisa bersikap ramah, mampu beradaptasi, berbaur, dan mudah diterima oleh masyarakat sekitar.

Dalam konteks inilah, saya kira bisa dipahami kalau ada seorang muslim yang terpilih sebagai Walikota London. Seperti di Indonesia, jika Islam diajarkan dengan cara-cara hikmah yang mampu beradaptasi dengan situasi lokal, bisa bertolerasi jika terjadi perbedaan. Maka, Islam akan menjadi agama yang secara dominan dipeluk oleh masyarakat di kawasan Eropa tanpa pedang, tanpa teror dan berbagai bentuk kekerasan lainnya.

Baca Juga:  Strategi Membunuh Cinta Tanah Air

Pertanyaannya, ada apa sebenarnya kok masih terus muncul kelompok-kelompok atas nama Islam yang melakukan teror dan berbagai bentuk kekerasan, siapa di belakang mereka, dan apa agenda mereka, bukankah dengan cara-cara itu justru muncul phobia dan kebencian dari orang luar…?

Anehnya, kok masih ada kelompok Islam yang tadinya berpaham moderat malah bersimpati atau mendukung tindakan-tindakan kekerasan atas nama Islam, atas nama nahi mungkar, dll. Padahal, mereka tau sejarah bahwa Islam bisa menjadi mayoritas di Indonesia karna cara-cara dakwah yang digunakan anti kekerasan, bisa beradaptasi dengan budaya lokal, dan tetap bertoleransi terhadap perbedaan. Bahwa Islam harus hadir dengan simpati, ramah, dan rahmah, bukan justru menciptakan ketakutan, kegelisahan, serta berbagai macam ancaman dan ketidaknyamanan.

Zaini Rahman, Instruktur PKPNU

 

 


Like it? Share with your friends!

-1
107 shares, -1 points

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.