Islam dari Hati adalah Islam Sejati


2
220 shares, 2 points
Islam Sejati

Beberapa waktu lalu, seorang pemuda menyuarakan terang-terangan akan memenggal kepala presiden. Apa yang diucapkannya tidak selaras dengan pakaian islami yang dikenakannya. Lebih parah lagi, dengan lantang pula dia menggemakan takbir setelah berucap layaknya teroris itu. Dalam video yang tersebar, pemuda tersebut tidak sendiri. Ada puluhan orang dan salah satunya seorang ibu berjilbab yang juga menggemakan takbir. Mereka beranggapan itu adalah bagian dari jihad, yang menerapkan amalan Islam Sejati degan kaffah.

Persoalan mendasarnya bukan pada kumpulan orang yang berdemo menyuarakan aspirasinya mendukung salah satu paslon presiden, namun pada perilaku brutalnya. Mereka mengotori citra Islam yang damai menjadi agama yang menakutkan. Orang yang tidak sesuai dengan paham golongan mereka jadi halal darahnya, sekalipun dia menganut agama yang sama. Bagi mereka tidak penting agama yang dipeluknya, sekalipun Islam jika menyalahi paham kebenaran golongan mereka, maka dia kafir dan orang kafir harus dibinasakan.

Entah apakah mereka menyadari bahwa sedang dikendalikan orang-orang yang memiliki agenda menguasai negara ini. Orang-orang yang mempengaruhi tersebut sengaja memicu kegaduhan menggunakan temeng agama dan jihad. Salah satu yang memanfaatkan kepolosan masyarakat yang gampang diprovokasi itu adalah kelompok radikalis, yang menginginkan negara ini menjadi negara khilafah. Tentu jelas siapa mereka itu. Menyikapi hal ini, K. H. Hasyim Muzadi dalam bukunya menegaskan Indonesia tidak boleh menjadi negara agama, karena di Indonesia banyak agama (hlm. 133).

Kehadiran buku Islam Sejati, Islam dari Hati ini relevan untuk merespon perilaku berislam masyarakat Indonesia sekarang. Merupakan kumpulan esai K. H. Hasyim Muzadi yang keseluruhan tulisannya memaparkan kegelisahannya melihat carut-marut kehidupan beragama umat Islam di Indonesia. Semisal dalam salah satu esainya Ia merespon kelompok yang akan merusak tatanan negara Indonesia dengan mendirikan negara Islam. Menurutnya menjalankan syariat tidak harus mendirikan negara Islam.

Baca Juga:  Beragama dalam Politik

Islam Sejati dan NKRI

“Pada tahun 1983 para ulama Sunni menegaskan bahwa NKRI itu final. Sehingga, kita tinggal mengisinya saja. Terimalah wadahnya, pakailah mekanismenya yang ada untuk pelaksanaan syariat, tetapi dalam konteks NKRI. Ini amanat mereka. Jadi, tidak perlu teriak-teriak penegakan syariat, langsung saja kerjakan. Langsung saja zakat, shalat, mendirikan madrasah, atau yang lainnya, selesai” (hlm. 217).

Adalah tugas orang-orang berpendidikan mengajarkan kepada masyarakat bagaimana berislam yang baik. Berislam yang mengayomi, berisi kasih sayang bukan kebencian. Berdakwah mengajak mereka yang belum Islam untuk memeluk Islam dengan cara yang makruf (baik), bukan dengan cara mungkar (kekerasan). Untuk bisa demikian, perlu memadukan fikih dengan tasawuf, karena jika berpatokan pada fikih saja, dakwahnya hanya terpaku pada halal-haram atau kafir-musyrik. Menopang dakwah dengan fikih dan tasawuf agar tidak terjebak, sebagaimana kata K. H. Hasyim Muzadi, sekarang kerjaannya mengkafir-kafirkan orang Islam, padahal ulama kita dulu mengislamkan orang kafir (108).

Buku ini memuat 12 esai-esai pilihan dengan penuturan ringan dan mudah dipahami. Memang model penulisan dari tokoh yang pernah menjabat ketua umum PBNU tahun 1999-2009 ini, seperti berdialog langsung kepada pembaca. Tulisan-tulisannya hampir serupa dengan model tulisan-tulisan dua tokoh NU lainnya, Gus Dur dan K.H. Salahuddin Wahid. Mereka bertiga sama-sama menyuarakan ajaran Islam dari hati yang penuh kasih sayang, bukan dari emosi yang diliputi dengki dan benci.

Dalam hal memanjakan pembaca, penerbit berhasil menghadirkan kemasan buku yang menarik, mulai dari sampul hingga layout isinya. Hal itu bisa dilihat dari bagaimana kutipan-kutipan penting diberi halaman khusus untuk mempermudah pembaca mengingat pesan inti sari tulisan. Selain itu, pembaca tetap akan terpesona membaca dari halaman awal sampai akhir tanpa merasakan jenuh. Selebihnya, buku ini perlu dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami Islam sejati, yaitu Islam yang lahir dari hati.

Baca Juga:  Menganut Islam yang Penuh Damai

Judul : Islam Sejati, Islam dari Hati
Penerbit : Noura Books
Cetakan : ke-1, Maret 2019
Tebal buku : 249 halaman
ISBN : 978-602-385-850-7

*Muktir Rahman, disamping membaca dan menulis, sekarang mengajar di kampus Isntik Annuqayah, Sumenep, Jatim.


Like it? Share with your friends!

2
220 shares, 2 points

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Muktir