Islam dan Relawan Literasi


0
6 shares
Internet/ist

Secara umum, produktivitas yaitu kemampuan menghasilkan sesuatu. Kepemilikan gaya guna dan daya fungsi menjadi keniscayaaan yang akan terus dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan hidup. Kemampuan menghasilkan ini sering disebut dengan output. Seorang manusia, terlebih di era persaingan seperti saat ini, dituntut untuk selalu inovatif dalam memanfaatkan peluang. Jika dia belum bisa menciptakan peluang, maka sebisa mungkin dia harus mampu memanfaatkan setiap peluang yang ada.

Output dari sebuah input. Semakin banyak yang bisa kita hasilkan dari apa yang kita investasikan, semakin dekat pula hidup kita dengan produktivitas. Misalnya kita menginvestasikan 4 jam dari waktu tiap harinya untuk 1 tugas kantor. Tapi ternyata kita bisa menyelesaikan 2 sampai 3 tugas dalam 4 jam tersebut. Itulah produktivitas. Selalu erat kaitannya dengan kuantitas dan efektifitas.

Mohammed Faris, pendiri Productive Muslim Academy menyatakan bahwa produktivitas merupakan gabungan dari fokus, waktu dan energi. Ketiganya merupakan komponen utama penyusun dari sebuah ekosistem produktifitas. Ada produsen, konsumen, dan pengurai. Ketika ketiga unsur tersebut menyatu, maka terciptalah produktivitas. Dan apabila salah satu dari ketiganya tidak ada, maka sama dengan ketiadaan ketiganya.

Produktivitas juga berbicara tentang kemanfaatan. Produktif  berarti bisa memanfaatkan kesempatan yang kita punya untuk menghasilkan manfaat. Ada dua poin di sini. Pertama memanfaatkan kesempatan yaitu dengan menyediakan waktu kita untuk hal-hal yang bermanfaat. Kedua menghasilkan manfaat yang tak lain adalah menjadi pribadi yang bermanfaat. Maka pertanyaannya, sudahkah kita sebagai muslim menggunakan waktu-waktu kita dengan baik? Sudahkah kita sebagai hamba Allah memberi manfaat nan luas di muka bumi ini?

Produktifitas dalam Islam

Dalam banyak hal, Islam selalu menyinggung tentang kebermanfaatan. Dan acapkali, kebermanfaatn ini selalu berhubungan dengan sebuah produktifitas.Mari sama-sama kita pelajari bagaimana Islam mengajarkan produktivitas. Allah tidak memilih manusia-manusia yang diutus-Nya karena berdasarkan hidup mereka yang luang. Allah tidak menjadikan mereka para nabi sebab waktu mereka yang kosong. Meskipun amanah kerasulan datang, para nabi tetap menjadi pekerja yang handal.

Baca Juga:  Agar Tidak Mabuk Informasi

Nabi Nuh sebagai tukang dan berkecimpung dalam perindustrian, Nabi Daud membuat baju-baju besi, Nabi Zakaria sebagai tukang kayu, Nabi Musa sebagai penggembala.Nabi Yusuf sebagai pedagang dan penasihat. Nabi Ayyub sebagai seorang saudagar perniagaan. Bahkan nabi Muhammad yang memiliki begitu banyak mu’jizat harus menjalani kehidupannya sebagai seorang penggembala dan pedagang. Nabi-nabi ini sadar, bahwa dakwah yang diembannya tidak hanya membutuhkan semangat dan kompetensi saja, tapi juga memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Dalam Qur’an Surat at-Taubah, Allah berfirman: “Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu.” Allah telah menjanjikan kepada nabi-Nya (red: hambanya), bahwa keberhasilan hanya dapat dicapai dengan sebuah kesungguhan. Man Jadda, Wa jada, begitulah Allah berjanji kepada hambanya yang beriman.

Allah juga menuntut seorang hambanya untuk selalu berusaha mencari sebuah peluang produktifitas. Sebagaimana firman Allah dalam Qur’an Surat al-Jumu’ah ayat sepuluh; “Jika kamu selesai menunaikan shalat, maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah sebagian dari karunia Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda, sebagaimana yang diceritakan oleh ‘Aisyah RA bahwa Allah ʽazza wa jalla menyukai jika salah seorang di antara ummat Islam melakukan suatu amal secara itqan.” (HR. At-Tabrani). Itqan berarti menyempurnakan, atau bekerja dengan sempurna. Terkadang kita masih kerja setengah-setengah. Meninggalkan pekerjaan dengan segala kendala tanpa mau mengevaluasinya. Padahal itqan juga bermakna melakukan amal secara efektif dan efisien sehingga optimal dari segi proses dan waktu.

Relawan Literasi

Setelah memasuki erra milenial yang oleh sebagian kalangan dianggapsebagai generasi Y-Z, Islam mengalami sebuah kemunduran yang sangat memprihatinkan. Dulu, saat dunia barat yang saat ini sudah maju masih terbelakang, Islam mampu hadir sebagai sebuah pelita keilmuan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Ribuan, bahkan ratusan ilmuan berhasil lahir dari kalangan muslimin dan muslimat Islam.

Baca Juga:  Kuatkan Budaya Literasi, Teruskan Perjuangan Kartini

Dengan menjadikan al-Qur’an sebagai pedomannya, mereka berhasil menelurkan banyak temuan yang mencengangkan. Bahkan tak jarang mampu menemukan sesuatu yang baru dan menyalahi dogma atau pemahaman yang sudah ada. Sebagai contoh Al Khawarizmi yang mampu menemukan angka nol. Padahal, sebelumnya dunia tidak mengenal angka ini. Penemuan inipun membuat dunia terperangah dan tertarik untuk mempelajari Islam.

Setelah era keemasan ini mencapai puncaknya, Islam tak mampu melanjutkan pencapaian ini. Bahkan banyak diantara karya ilmuan Muslim yang hilang, bahkan beberapa diantaranya di perbarui oleh barat, bahkan beberapa diantaranya diklaim begitu saja. Titik balik ini seakan menjadi sebuah prahara bagi Islam. Dan tentu saja menjadi sebagai sebuah tantangan bagi ummat Islam.

Adanya pembaruan semangat untuk terus bermanfaat dan menghasilkan (produktifitas), perluuntuk digalakkan kembali. Barangkali, jika keilmuan yang kita miliki belum mampu menggali keunikan dan pengetahuan yang disajikan oleh al-Qur’an. Sebagai Muslim, kita juga bisa membaca tanda-tanda yeng telah dituliskan oleh Tuhan melalui alamnya. Bukankah alam ini juga ayat-ayat yang dituliskan oleh Tuhan? Benar, kan?

Kita juga bisa membaca dimensi apapun dalam keseharian kita. Begitupun menulis. Tidak sebatas hanya goresan dalam kertas, tapi juga menorehkan karya nyata yang berdampak pada diri dan sekitar kita! Dari baca-tulis, lahir ide-ide hebat yang bisa merubah dunia. Tengoklah pahlawan-pahlawan kita. Bukankah tidak ujug-ujug bangsa ini jadi merdeka? Kecintaan mereka akan literasi lah yang menjadi faktor penting dalam mewujudkannya. Jiwa merdeka telah tumbuh dalam dadanya sebelum ia memerdekakan Negaranya.

Maka teman-teman, beruntunglah kita yang menyukai aktivitas ini. Karena paling tidak, kita telah memerdekakan diri kita sendiri. Semoga tulisan ini mampu bermanfaat bagi kita, dan tentunya mampu menjadikan diri kita siap untuk menjemput takdir sebagai pahkawan literasi. InsyaaAllah.

 

Baca Juga:  Yakinkan ‘’Mereka’’ Bisa Menulis!

Like it? Share with your friends!

0
6 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
M Arif Rohman Hakim
Bukan siapa-siapa. Hanya anak pasangan petani sederhana yang tidak ingin hidupnya berlalu saja tanpa makna. Terobsesi pada kata-kata yang cerah-gerakkan manusia. Senang mendengar dan berbagi cerita, namun tak pernah mau berbagi suaranya dengan yang lain. Sebab, menulis merupakan sarana yang digunakannya untuk berbagi.