31.3 C
Jakarta
Array

Islam dan Pembangunan

Artikel Trending

Islam dan Pembangunan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Dalam suatu sisi, agama dipercaya dapat menuntun umatnya menuju jalan yang terang benderang dan sejahtera. Dalam konteks ini, agama tidak hanya mengajarkan ketauhidan, melainkan juga masalah kesejahteraan. Artinya, agama juga mengajarkan kepada umatnya untuk meraih kehidupan yang serba kecukupan. Di sisi lain, justru agamalah yang menjadi biang suatu masyarakat yang menganut paham tersebut menjadi terbelakang, tertingggal dan miskin jiddan.

Adalah benar bahwa agama juga merupakan salah satu faktor kemiskinan. Seorang beragama adalah mereka yang menjalankan dan menghabiskan kehidupannya berdasarkan doktrin agama tersebut. Dalam kaitannya dengan ini, ada doktrin agama yang dapat mengarahkan pemeluknya dalam kehidupan yang serba terbatas. Lazimya, paham yang digunakan landasan dalam menjalani hidup bermasyarakat dan beragama adalah jabariyyah (fatalisme). Paham ini menganggap bahwa manusia tidak memiliki kehendak sama sekali, semua perbuatan manusia sudah ditentukan oleh Tuhan. Implikasinya, orang yang menganut paham ini cenderung pasif. Bahkan, kemiskinan dianggap sebagai pemberian Tuhan yang tidak perlu ditolak atau dirubah.

Atas fenomena ini, muncullah sebuah aliran atau paham Qadariyyah (Free will) . Paham ini menganggap bahwa segala perbauatan manusia tidak ada intervensi dari Tuhan. Jadi, kemiskinan, keterbelakangan dan lain sebagainya bukanlah pemberian dari Tuhan, melainkan manusia itu sendiri yang memiliki kebebasan kehendak. Jadi, mau menjadi si miskin atau si kaya tergantung usaha manusia itu sendiri.

Pada perkembangannya, para ulama salaf yang shaleh, berdasarkan pengetahuan dan keyakinan yang mendalam, telah menyatakan bahwa percaya kepada takdir dan ketetapan Tuhan (Qadla’ dan Qadar), sama sekali tidak menghambat pekerjaan dan menghambat kreativitas manusia. Justru menjadi penggerak ke arah kerja keras, cerdas, dan ikhlas.

Manusia adalah makhluk merdeka (QS. Yunus: 108). Akan tetapi, di dalam kemerdekaannya itu ada batasan-batasan, yakni hukum atau ketentuan Tuhan. Artinya, manusia diberi kebebasan untuk melakukan apapun. Akan tetapi, hukum Tuhan mengatakan bahwa jika manusia berbuat baik, maka akan diganjar pahala dan di masukkan di Surga. Sebaliknya, jika manusia melakukan kejahatan, maka akan diganjar dosa dan akan masuk Neraka.

Pada dasarnya, agama mengajarkan pada umatnya untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Jadi, tidaklah tepat jika ada yang mengatakan bahwa agama adalah biang keterbelakangan manusia. Islam, misalnya, Alquran dan As-Sunnah menunjukkan jalan bisnis. Dalam bahasa Anif Sirsaeba (2006), “ Berani Kaya, Berani Takwa.”

Islam dan Pembangunan

Islam, melalui kitab suci Alquran mengatakan bahwa fungsi dan eksistensi manusia di dunia ini adalah melaksanakan tugas kekhalifahan (QS 2:30), yakni membangun dan mengolah dunia seisinya guna untuk kemakmuran manusia itu sendiri dan tentunya agar manusia semakin bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itulah sebab, Tuhan melengkapi makhluk manusia berbeda dengan binatang, dan malaikat. Quraish Shihab dalam buknya “ Membumikan Alquran” (2007:300-301), merinci keistimewaan dan potensi manusia.

Pertama, kemampuan untuk mengetahui sifat, fungsi, dan kegunaan segala macam benda (QS 20:31). Inilah yang tidak dimiliki makhluk Allah lainnya, yakni potensi yang diberikan manusia sehingga ia dapat menemukan hukum-hukum dasar alam raya dan mengolah melalui berbagai eksperimen dan penelitian yang mendalam sehingga penemuan itu dapat bermanfaat bagi kehidupan.

Kedua, Tuhan telah menaklukkan alam raya untuk diolah manusia (QS 14:32-33). Tuhan menciptakan gunung-gunung, lautan, sungai, hujan, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan lain sebagainya untuk manusia. Dengan potensi yang dimiliki manusia, maka alam raya dapat dijadikan sebagai “sahabat” bagi manusia itu sendiri. Akan tetapi, disini eksistensi Tuhan tetap ada, bahkan Tuhannlah yang menaklukkan alam raya dan manusia sekalipun.

Ketiga, Tuhan memberikan petunjuk bagi manusia yang hidup di bumi (QS 20:123). Melalui wahyu, Allah memberikan petunjuk bagi manusia secara terperinci dan bersifat umum. Petunjuk umum inilah yang memberikan kesempatan manusia untuk berfikir dan memaknai petunjuk itu sesuai dengan koteks sosio-historis manusia.

Keistimewaan dan potensi yang dimiliki manusia seperti yang telah disebut tentunya dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa manusia seharusnya hidup sejahtera dengan melakukan pembangunan yang berdasarkan agama.

Islam sebagai agama yang universal, mempunyai konsep pembangunan yang bersifat menyeluruh, menyetuh, dan menghujam ke dalam jati diri manusia. Sebab, yang dibidik Islam tidaklah semata berdasarkan material belaka, melainkan juga menyentuh jantung keimanan (spriritual) manusia itu sendiri.

Masih menurut Quraish Shihab, bahwa ada beberapa landasan utama pembangunan dalam Islam. Pertama, tauhid. Islam mengubah suatu kaum yang pertama kali dibidik adalah ketauhidan dan akhlaknya. Ketauhidan atau keimanan terhadap Tuhan Yang Esa adalah modal dasar pembangunan. Sebab, keyakinan yang benar akan melahirkan tata nilai yang benar pula.

Kedua, Rububiyah. Setelah ketaudihan sudah dibangun diatas landasan yang benar, maka selanjutnya yang dibangun adalah mengoptimalkan anugerah Tuhan. Melalui rahmat dan petunjuk-Nya, manusia harus mensyukurinya. Syukur tidak cukup diucapkan dalam bentuk lisan, melainkan juga harus diejawantahkan dalam bentuk tindakan, misalnya, menggunakan dan mengolah segala anugerah yang diberikan oleh tuhan sesuai tujuan dan nilai keadilan. Sejengkal tanah sekalipun harus diolah dan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh dan untuk manusia.

Ketiga, Khilafah. Prinsip selanjutnya dibebankan pada manusia itu sendiri dalam tataran sebagai pengemban amanat menjadi pemimpin atau wakil Tuhan di muka bumi. Misi utamanya adalah memakmurkan bumi dan mensejahterakan, mengayomi, memelihara, dan membina kehiduapan manusia. Prinsip pembangunan yang dijalankan bukanlah berdasarkan modal, melainkan pemerataan yang berkeadilan.

Dalam hal pembangunan, Islam “mengutuk” kebutuhan-kebutuhan poko dimonopoli oleh seorang atau sekelompok tertentu. Terkait hal ini, baginda Rasulullah Saw. bersabda: Manusia memiliki hak bersama dalam air, api, garam, dan rumput.” Hak kepemilikan itu tentunya didapatkan dengan kerja keras, cerdas, dan ikhlas (QS 63:10). (N).

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru