26.3 C
Jakarta

Islam Cinta Berlawanan dengan Islam Radikal dan Cerca

Artikel Trending

Milenial IslamIslam Cinta Berlawanan dengan Islam Radikal dan Cerca
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Sungguh begitu penting asas cinta dalam Islam. Sehingga, Alquran dan hadisnya merekam dan menjadikan sebagai landasan serta dasarnya. Sedemikian hadis mengatakan: “Tak ada agama bagi orang yang tak menggunakan cinta dan akal.”

Semesta cinta mengantarkan Islam kepada keagungan. Ia berpijak melewati jalan rasional-argumentatif dan cinta-dinamis yang menjadi piranti konstruksi ideologis di dalamnya dan implimentasiya seorang muslim.

Dengan menjalankan segala perintahnya dan menjahui segala larangannya, temasuk sikap ektrem dan radikal, serta ajaran yang di bawa Rasullullah dengan hati yang ikhlas dan akhlak orang yang mencintai Allah, maka ia sesungguhnya telah berusaha membangun peradaban: agama cinta.

Tabiat Islam, sesungguhnya berorentasi kepada kebajikan. Seperti kata Prof. Anemarie Schimmel, “sebuah agama tak kurang-kurangnya untuk menempuh puncak cinta sesama yang sama-sama mencari kebaikan.” Dan, untuk mencapainya, agama harus terjalankan dengan mendahulukan al-Makruf, ketimbang al-Mungkar. Bukan al-Mungkar tetapi mangkir dari al-Makruf.

Oleh Penciptanya, agama selalu dipromosikan Islam cinta. Baik di/ke/dalam/semua penjangkarannya, mau pun fenomenologinya. Sebab itulah, agama direkaciptakan untuk mengubah manusia. Dari perilaku keterbencian menuju prilaku kecintaan yang rahmah. Dan dari sikap Islam cercah menuju sikap Islam cinta.

Nabi pun yang turun adalah Nabi agung berakhlak mulia dengan mempunyai konsep cinta terajarkan kepadanya: Nabi Muhammad. Bukan hanya kepada umat Islam, tetapi juga umat agama lain. Seperti dalam salah satu potongan sabdanya, terkatakan bahwa: “Cinta adalah asas (ajaran agama)-ku.”

Islam Cinta Adalah Islam Nabi

Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi kita, umatnya, untuk saling membenci dan saling menyalahkan kepada sesama hambanya, kalau mengikuti ajarannya atau mengaku umatnya. Sebab, tidak ada kekuatan selain kekuasaan Tuhan, dan tidak ada kebenaran dan kebertahuan selain pemilik ke-Mahabenaran dan ke-Mahabertahuan, yaitu Allah Swt.

BACA JUGA  Ustaz Amiruddin Dewa: Amir Khilafatul Muslimin Borneo, Si Paling Fatalistik Membahayakan Umat

Sebagaimana tersebutkan dalam Alquran, “Hakikat cinta hamba kepada Allah ditunjukkan dengan meninggalkan segala persoalan dunia yang menjadi penghalang bermahabah kepadanya guna meraih cinta yang sempurna” (QS al-Imran 31-32, (2). Dalam ayat yang lain terkatakan, “Mendekatkan diri kepada Tuhan dengan mensucikan jiwa dari berbagai macam kotoran yang melekat pada jiwa dan hati kita yang bening dan tulus” (QS at-Taubah 24 (3).

Dengan demikian, jika melihat ajaran dari Alquran dan Hadis di atas, kita sebagai umat muslim, tidak ada alasan lain untuk tidak berperilaku bijak, toleran, dan menghargai perbedaan serta mengakui kesetaraan dan membuka ruang dialog dan komunikasi dengan sesama hamba. Bahkan, tidak alasan untuk membenci, melakukan perbuatan konservatisme, radikalisme, ekstremisme, terorisme, cercanisme, dan liberalisme berlandasan agama.

Islam, Alquran dan hadis telah mejelaskan bahwa Islam tidak mengajarkan ekstremisme agama. Melainkan sikap-sikap rahmah. Islam tidak mengajarkan sikap-sikap radikalisme atas nama agama. Akan tetapi mengajarkan sikap adil, dan bijaksana. Dan Islam tidak menerapkan liberalisme agama, tapi menerapkan konsep plural, ingklusif yang moderat. Bahkan, Islam hakikatnya mengutuk sikap atau ajaran teror, radikalisme, konservatisme, liberalisme.

Sebagaimana perkataan, “cintailah semua orang, niscaya engkau berada di antara bunga mawar dan taman-taman surgawi”. Dan, “perlakukanlah orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan”. Sebab, “tujuan kita satu yakni kebahagiaan, tapi jalan kita berbeda”. Dari itu, kita harus berislam dengan cinta, supaya surga niscaya. Bukan berislam dengan cerca. Itu.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru