31.5 C
Jakarta
Array

ISIS Hadapi Tekanan Kehilangan Raqa dari Genggaman

Artikel Trending

ISIS Hadapi Tekanan Kehilangan Raqa dari Genggaman
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF
Harakatuna.com. Damaskus. Setelah serangan selama empat bulan oleh Pasukan Demokratis Suriah (SDF), yang didukung AS, kelompok militan Islamic State (ISIS) menghadapi tekanan kuat dan kehilangan ibu kota de factonya di Provinsi Raqa di Suriah Utara.
Personel SDF –aliansi petempur Kurdi, Arab dan Assyiria dan dipimpin oleh YPG Kurdi dan didukung oleh koalisi pimpinan AS– telah sepenuhnya merebut Raqa pada Selasa 17 Oktober, setelah menghapuskan petempur yang dicap teroris di jantung kekuasaan mereka di Suriah.
“Operasi militer di Raqa telah berakhir dan sekarang kota itu menghadapi operasi pencarian jaringan tidur jika ada,” kata Talal Silo, Juru Bicara SDF, melalui telepon kepada Xinhua.
Kota tersebut juga menghadapi penyisiran untuk mencari ranjau, sementara situasi di Raqa telah sepenuhnya dikuasai oleh SDF.
“Dalam waktu dekat, kami akan mengeluarkan pernyataan resmi mengenai pembebasan Raqa,” kata Talal Silo, sebagaimana dikutip Xinhua, seperti disitat Antara di Jakarta, Rabu 18 Oktober 2017.
“Tentu saja, Kota Raqa telah dibebaskan, dan operasi militer telah berakhir, tapi kami sedang menyisiri kota tersebut,” ia menekankan.
Kemenangan itu menandai kelahakan besar pertama Is di Suriah, sebab Raqa adalah Ibu Kota de facto kelompok fanatik tersebut.
Dalam satu pekan belakangan, satu kesepakatan dicapai antara SDF dan ISIS dengan penengahan suku setempat di Raqa bagi penyerahan diri mereka.
Sebanyak 3.500 warga sipil mengungsi dari kota itu selama satu pekan belakangan, selain 275 petempur lokal ISIS, sementara sebanyak 300 lagi orang asing masih berada di kota tersebut untuk menghadapi nasib suram mereka.
Pegiat suku Kurdi mengatakan petempur ISIS yang menyerahkan diri dibawa ke penjara di Kota Tabqa di pinggir Ar-Raqqah, sementara pegiat lain, terutama yang pro-Pemerintah Suriah, mengatakan koalisi pimpinan AS dan SDF mengizinkan mereka dipindahkan ke pinggir Provinsi Deir Az-Zour di Suriah Timur. Di sana militer Suriah bergerak maju dalam pertempuran melawan ISIS di daerah yang kaya akan minyak di dekat Irak.
Buat petempur asing ISIS, koalisi dukungan AS tidak menerima kepergian mereka, sementara Paris menentang pemindahan mereka sebab salah satu dari mereka adalah otak di balik serangan teror di Paris.
Orang asing tersebut adalah orang yang melawan sampai ajal sebelum SDF merebut kembali semua posisi mereka, termasuk stadion lokal di kota itu–yang menjadi posisi terakhir ISIS di Raqa.
Observatorium Suriah bagi Hak Asasi Manusia pada Selasa mengatakan sebanyak 3.250 orang, termasuk 1.130 warga sipil, telah tewas selama pertempuran empat-bulan di Raqa.
Anak-anak dan perempuan, tambah Observatorium tersebut, termasuk di antara warga sipil yang tewas, sementara sisanya korban jiwa adalah anggota ISIS dan petempur SDF.
ISIS mengumumkan Raqa sebagai Ibu Kota de facto pada 2014, setelah secara sepihak mengumumkan kekhalifahan di Suriah. Akhirnya, ISIS telah makin terpojok, saat pasukan militer Suriah dan sekutunya merebut kembali daerah yang pernah dikuasai ISIS di Deir Az-Zour.
Militer Suriah sepenuhnya mengepung petempur ISIS di berbagai daerah yang mereka duduki di Kota Deir Az-Zour dan mulai menyerang semua daerah itu.
Dengan goyahnya posisi ISIS di Deir Az-Zour, organisasi tersebut hanya memiliki kubu utama di Kota Bukamal di perbatasan dengan daerah yang dikuasai ISIS di Irak. Pertempuran untuk memperebutkan Bukamal diperkirakan akan menjadi yang terakhir melawan ISIS di Suriah.

(FJR)

Metrotvnews.com

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru