29.6 C
Jakarta

Inilah Doa Saat Merasa Putus Asa dalam Menghadapi Masalah

Artikel Trending

Asas-asas IslamSyariahInilah Doa Saat Merasa Putus Asa dalam Menghadapi Masalah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Kesulitan dan kemudahan telah menjadi satu paket sunnatullah yang tak terpisahkan. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Insyirah ayat 5: Artinya: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Tetapi, seringkali ujian atau masalah yang datang terlampau besar hingga merasa putus asa dalam menghadapi. Hendaknya, kita perlu mengingat ukuran ujian yang diberikan Allah sesuai dengan kemampuan hamba-hambaNya. Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Tentunya, masalah dan ujian yang dihadapi para Nabi dan Rasul dengan manusia biasa sangat berbeda. Namun, ajaran dan doa-doa yang mereka amalkan patut kita teladani. Seperti saat Nabi Muhammad SAW berdakwah lalu mendapat perlakuan buruk dari penduduk Thaif. Mereka melempar nabi dengan batu-batu. Saat berteduh sebab merasa sakit akibat kaki yang berlumuran darah Rasulullah SAW berdoa.

اَللُّهُمَّ اِلَيْكَ اَشْكُوْ ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيْلَتِيْ وَهَوَانِيْ عَلَى النَّاسِ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ، وَاَنْتَ رَبِّي، اِلَى مَنْ تَكِلُّنِيْ اِلَى بَعِيْدٍ يَتَجَهَّمُنِيْ ؟ اَوْ اِلَى عَدُوٍّ مَلَكْتَهُ اَمْرِيْ ؟ اِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ غَضَبٌ عَلَيَّ فَلاَ اُبَالِيْ وَلَكِنْ عَافِيَتَكَ هِيَ اَوْسَعُ لِيْ، أَعُوْذُ بِنُوْرِوَجْهِكَ الَّذِيْ اَشْرَقَتْ بِهِ الظُّلُمَاتُ، وَصَلُحَ عَلَيْهِ اَمْرُ الدُّنْيَا وَاْلاَخِرَةِ مِنْ اَنْ تُنَزِّلَ بِي غَضَبُكَ اَوْ تَحُلُّ بِي سَخَطُكَ، لَكَ الْعَتْبَي حَتَّى تَرْضَي، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّبِكَ.

Artinya:

“Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu atas lemahnya kekuatanku dan sedikitnya usahaku serta kehinaan diriku di hadapan manusia. Engkaulah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang yang lemah dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan diriku. Kepada orang yang jauh yang menyerangku ataukah kepada Zat yang dekat yang mengatur urusanku. Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli. Aku berlindung terhadap cahaya wajah-Mu Yang menerangi kegelapan dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat, dan kemurkaan-Mu yang akan Kautimpakan kepadaku. Engkaulah Yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya dan upaya selain dan Engkau.”

Artinya:

“Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu atas lemahnya kekuatanku dan sedikitnya usahaku serta kehinaan diriku di hadapan manusia. Engkaulah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang yang lemah dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan diriku. Kepada orang yang jauh yang menyerangku ataukah kepada Zat yang dekat yang mengatur urusanku. Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli. Aku berlindung terhadap cahaya wajah-Mu Yang menerangi kegelapan dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat, dan kemurkaan-Mu yang akan Kautimpakan kepadaku. Engkaulah Yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya dan upaya selain dan Engkau.”

Artinya:

“Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu atas lemahnya kekuatanku dan sedikitnya usahaku serta kehinaan diriku di hadapan manusia. Engkaulah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang yang lemah dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan diriku. Kepada orang yang jauh yang menyerangku ataukah kepada Zat yang dekat yang mengatur urusanku. Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli. Aku berlindung terhadap cahaya wajah-Mu Yang menerangi kegelapan dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat, dan kemurkaan-Mu yang akan Kautimpakan kepadaku. Engkaulah Yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya dan upaya selain dan Engkau.”

BACA JUGA  Suntik Bius Saat Puasa, Batalkah Puasanya?

Artinya:

“Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu atas lemahnya kekuatanku dan sedikitnya usahaku serta kehinaan diriku di hadapan manusia. Engkaulah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang yang lemah dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan diriku. Kepada orang yang jauh yang menyerangku ataukah kepada Zat yang dekat yang mengatur urusanku. Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli. Aku berlindung terhadap cahaya wajah-Mu Yang menerangi kegelapan dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat, dan kemurkaan-Mu yang akan Kautimpakan kepadaku. Engkaulah Yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya dan upaya selain dan Engkau.”

Artinya: “Allahuma Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan, tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu.”

Doa Nabi tersebut memicu kesedihan bagi malaikat. Malaikat Jibril pun menawarkan untuk menghukum penduduk Thaif yang telah durhaka dan menentang dakwah Rasulullah. Tetapi, hal tersebut ditolak Rasulullah. Ia justru kembali berdoa dan percaya bahwa suatu saat penduduk Thaif akan menerima dan memeluk Islam. Seorang Nabi yang telah diberi kelebihan dan mukjizat oleh Allah tanpa meminta, justru selalu melibatkan doa dalam kesenangan atau kesedihan. Jika, kita amati doa Nabi Muhammad di atas, rasa rendah hati dan kodrat manusia biasa yang lemah dan tak berdaya telah menggetarkan hati malaikat.

Ketika menghadapi masalah besar, dan kita tidak berdaya mengatasinya. Kita bisa menggunakan munajat Rasulullah tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah telah memberi contoh dalam peristiwa Thaif. Rumusnya, in lam takun ghadbaka ‘alayya fala ubali “ditaruh di tempat rendah sekali pun beliau rela asalkan Allah tidak marah. Jika berdo’a dengan kalimat meminta adalah bagus, memohon menunjukkan masih ada jarak. Sedangkan, curhat kepada Allah artinya menunjukkan kedekatan. Ketika seorang hamba memiliki kedekatan dengan Allah, kita bisa mengobrol atau bercerita tentang masalah yang kita hadapi dengan lebih nyaman. Maka, berdoalah tentang hal apa pun. Sebab, tidak ada hal di dunia ini yang luput dari izin Allah. Masalah kecil hingga besar pun selalu punya jalan keluar. Berdoa, dan percayalah Allah pasti mengabulkan.

Marisa Rahmashifa, Pegiat literasi berdomisili Malang. Mengenyam pendidikan strata 1 di UIN Malang Jurusan Sastra Inggris.

 

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru