28.3 C
Jakarta

Ini Cemburu Yang Dibenarkan oleh Islam

Artikel Trending

Rasa cemburu memang acap kali menghiasi panggung pernikahan. Ya, perasaan ini terkadang membuat kehidupan rumah tangga lebih mempesona jika dimaknai sebagai bentuk perasaan cinta kepada pasangan, bukan sekedar cemburu buta yang lebih didominasi nafsu dan seruan setan. Namun, cemburu romantis yang mampu mempererat ikatan asmara agar lebih beraroma sayang.

Meneguhkan kembali jalinan kasih mesra yang seolah pudar dengan berbagai kesibukan psikis dan fisik yang mulai mengendorkan ikatan cinta diantara pasangan suami istri. Cemburu yang berakhir indah adalah ketika pasangan tersebut mampu mengelolanya dengan bijak, bukan api cemburu yang diakhiri dengan perceraian.

Rasulullah sendiri pernah berbicara perihal cemburu. Cemburu dalam batas yang normal adalah perkara yang wajar. Bahkan, cemburu merupakan perkara yang disyariatkan, dan lelaki yang tidak mempunyai rasa cemburu kepada istrinya diancam dengan ancaman yang sangat keras. Sebagaimana hadis nabi yang disebutkan dalam kitab Syu’abul Iman karya Imam Nawawi,

ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ أَبَدًا : الدَّيُّوثُ وَالرَّجُلَةُ مِنَ النِّسَاءِ ، وَمُدْمِنُ الْخَمْرِ  ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَّا مُدْمِنُ الْخَمْرِ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ ، فَمَا الدَّيُّوثُ ؟ ، قَالَ : الَّذِي لَا يُبَالِي مَنْ دَخُلُ عَلَى أَهْلِهِ  ، قُلْنَا : فَمَا الرَّجُلَةُ مِنْ النِّسَاءِ ؟ قَالَ : الَّتِي تَشَبَّهُ بِالرِّجَالِ

 “Tiga orang yang tidak akan masuk surga: Dayyuts, wanita yang ar-rajulah dan peminum khamr.” Para sahabat lantas bertanya kepada nabi, “Wahai rasulullah, perihal pecandu khamr kami sudah paham maksudnya, lalu apa makna Dayyuts?”. Nabi pun menjawab, “Yaitu orang-orang yang tidak peduli siapa yang mendatangi anak dan istrinya”. Para sahabat bertanya lagi, “Lalu apa wanita ar-rajulah itu?”. Nabi menjawab, “Adalah wanita yang menyerupai laki-laki”. (HR. Al-Baihaqi).

Dalam kitab kitab Faidul Qadir, Juz 3 hal 327, Imam Al-Munawi berpendapat,

أن الديوث ذلل حتى رأى المنكر بأهله فلا يغيره

Ad-Dayyuts adalah sebuah kerendahan atau kehinaan, sehingga ketika ia melihat anak-istrinya melakukan kemungkaran ia tidak cemburu.

Sedangkan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ul Fatawi Ibn Taimiyah juz 32 hal 141 mengatakan,

والديوث: الذي لا غيرة له

Ad-Dayyuts adalah lelaki yang tidak punya rasa cemburu.

Kendati demikian cemburu itu merupakan bumbu pernikahan, bukan pemantik perseteruan diantara pasangan suami istri. Ibnu Al-Qayyim Al-Jauzi mengatakan, “Cemburu pempunyai batasan, jika batasan ini dilanggar maka ia akan menjadi tuduhan dan persangkaan yang buruk terhadap orang yang baik, dan jika kurang dari batasan ini, maka ia akan berubah menjadi kelalaian dan kesembronoan.” (Mendulang Faidah Dari Lautan Ilmu, Ibnu Al-Qoyyim Al-Jauziah hal 164)

BACA JUGA  Hukum Orang Sholat Yang Tidak Menghadap Kiblat, Sahkah Shalatnya?

Kita dapat mengambil contoh, seorang suami yang bertakwa hendaknya ia cemburu pada istrinya ketika sang istri melanggar aturan syari’at, semisal berinteraksi dengan lawan jenis (bukan mahram) tanpa adanya hajat yang benar-benar mendesak, atau berdandan dengan memamerkan auratnya kepada laki-laki lain, bertelponan atau sibuk di dunia maya taanpa ada keperluan penting dan berbagai ungkapan serta tingkah negatif yang bertentangan dengan norma-norma islam.

BACA JUGA  Benarkah Korban Pesawat Jatuh Tergolong Syahid?

Istri pun demikian, istri yang shalihah hendaknya ia bersikap bijak (khusnuddzan) dan tak mudah terprovokasi tanpa didasari bukti yang nyata tatkala ia mendengar berita miring perihal pasangannya. Klarifikasi terlebih dahulu dan kedepankan perasaan positif lalu selesaikan dengan kepala dingin dan baik-baik ketika dijumpai tanda-tanda ketidaksetiaan pasangannya.

Ketika kita menilik kehidupan Rasulullah, beliau juga tidak lepas dari rasa cemburu, justru dengan cemburu nuansa mahligai rumah tangga lebih menggigit, masing-masing istri saling berlomba-lomba memikat suami dengan berbagai kiat. Inilah potret cemburu romantis sepanjang masa yang hendaknya dijadikan sebagai sandaran kemesraan pasangan suami istri dalam meniti bahtera rumah tangga.

Yakinilah bahwa pasangan hidup kita merupakan sebuah anugerah yang patut disyukuri. Dialah jodoh kita dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Yang patut kita sadari bahwa setiap rumah tangga pasti ada saja problematika yang semua ini perlu kita carikan solusinya. Bukan malah membiarkannya larut. Hal ini setidaknya menjadi peringatan agar masing-masing pasangan suami istri menyadari bahwa hidup berumah tangga merupakan medan perjuangan bukan hanya sekedar arena bersenang-senang semata. Semua pasti ada konsekuensinya.

Sebelum mengakhiri artikel ini, menarik untuk kita simak bersama salah satu syair yang sangat populer milik Syaikh Muhammad Al-Kharimi,

“Alangkah indahnya cemburu itu terjadi sekali saja

Dan alangkah buruk cemburu itu terjadi setiap waktu

Barangsiapa yang senantiasa menuduh pasangannya

Dan senantiasa mencurigainya berdasarkan dugaan semata

Maka ia rentan menggiring pasangannya untuk melakukan apa yang dituduhkan kepada dirinya secara terang-terangan.” (Syaikh Muhammad Al-Kharimi)

Ziadatul Widadz, Alumni Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyyah Situbondo Jawa Timur

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru