Ikhtiar Memanusiakan Manusia


0
5 shares

Dalam catatan hariannya, Ahmad Wahib berkata: “Walaupun kita mengatakan diri kita sebagai penganut Islam, belum tentu bahwa pikiran kita telah berjalan sesuai dengan Islam.” Statemen Ahmad Wahib tersebut terasa sangat mengena kala kita menengok realitas keberagamaan masyarakat kita hari ini. Di mana berupa-rupa aksi intoleran, seperti terorisme kerapkali terpentaskan tanpa segan di hadapan kita.

Kita tahu, di Barat, Islamophobia mewabah parah sejak tragedi robohnya menara WTC pada 11 September 2001 lalu, yang diduga diotaki jaringan teroris Al-Qaeda. Anehnya, aksi-aksi anarkis semacam ini malah mengatasnamakan pembelaan terhadap Islam atau akrab dikoarkan sebagai jihad fi sabilillah. Imbasnya, Islam yang digadang senantiasa menebarkan kedamaian, cinta dan kasih sayang, mulai dipertanyakan keshahihannya.

Buku yang bertajuk “Karena Kau Manusia, Sayangi Manusia” ini hadir sebagai upaya untuk mengurai kembali kekusutan Islam tersebut. Lewat Gus Dur dan Gus Mus, Dr. Abdul Wahid hendak membuktikan bahwa Islam sejatinya tidak pernah melegitimasi segenap ekspresi keagamaan yang dengan teganya memberangus hak bahkan nyawa orang lain. “Mestinya”, kata Gus Dur, “keyakinan dan ketaatan seseorang kepada syariat terejawantah dalam kecintaan pada sesama manusia”(hlm. 28).

Berbeda dengan buku seri “Para Sufi Menjawab” yang cenderung bernuansa vertikal(bainal khalik wal makhluk), buku Dr. Abdul Wahid ini lebih menyoroti dimensi horizontal manusia sebagai khalifatullah fil ardh yang dieksplorasi melalui pesan-pesan kemanusiaan dari Gus Dur dan Gus Mus.

Sebagai ikon pluralisme di Indonesia, Gus Dur tanpa enggan membaur, berkawan, dan menyemai kerukunan dengan manusia lain tanpa tersekat atribut personal yang melekat, semisal agama dan keyakinan.

Sosok beliau yang humanis ini tentunya menuai beragam tafsiran, ada yang mengagumi dan mengapresiasi, ada pula yang mencibir dan menyinyiri. Terhadap kelompok kedua ini Gus Dur selalu bisa bersikap cuek saja atau⎼dalam istilah Madura⎼settel kopok, bahkan ketika beliau mendapatkan teror pembunuhan pada masa rezim Soeharto dulu.

Baca Juga:  Mewaspadai Gerakan Kelompok Pengusung Khilafah

Kesibukan Gus Dur melayani manusia, membantu orang-orang yang lemah dan tertindas, memperjuangkan hak-hak minoritas yang terdzalimi merupakan bukti totalitas pengabdian beliau terhadap kemanusiaan. Greg Barton menuturkan bahwa beliau selalu membuka tangan bagi siapapun yang sowan ke dhalem-nya, dari kalangan akar rumput hingga kaum elitis, dari meminta nasihat, hingga sekadar meminta nama bayi yang diinginkan.

Maka tak ayal, dalam skala nasional maupun Internasional, Gus Dur merangkul berbagai penghargaan dari ide-ide dan realisasi rasa kemanusiaannya yang begitu besar, salah satunya adalah Medals Of Valor yang dianugerahkan oleh Wiesenthal Center, New York, untuk tokoh yang gigih menegakkan pluralisme dan multikulturalisme(hlm. 16)
Senada dengan Gus Dur, Gus Mus pun tidak kalah lantang menyuarakan pesan-pesan perdamaian, toleransi, dan kasih sayang antar sesama. Berbeda dengan Gus Dur yang lebih mengakrabi dunia politik, KH. Ahmad Mustofa Bisri atau kita kenal sebagai Gus Mus, lebih menekuni jagad kesenian dan kesusastraan.

Latar inilah yang turut membingkai pribadi beliau menjadi penuh kesantunan dan kesahajaan.

Pesan kemanusiaan acapkali beliau sampaikan dalam berbagai kesempatan, utamanya melalui akun media sosial yang beliau miliki. Hal ini bukan tanpa alasan. Realitanya, media sosial kerapkali menjadi arena saling hujat dan memaki-maki sesuka hati. Di tengah kesemrawutan ini, Gus Mus hadir dan selalu mengingatkan kita.

Menurut Gus Mus, manusia adalah wakil tuhan di muka bumi yang notabene menyandang sifat-sifat ketuhanan, seperti pengasih dan penyayang, alih-alih memusuhi dan bertikai. “orang yang merendahkan sesama makhluk Allah, merasa dirinya lebih tinggi, seperti saat iblis merendahkan adam” dawuh Gus Mus di akun Twitternya—@gusmusgusmu(hlm. 160). Dawuh-dawuh Gus Mus ini bukan sekadar kalimat yang sepi implementasi.

Baca Juga:  Pancasila, Ketegangan Kreatif, dan Pencarian Harmoni

Beliau telah mematrikan keteladanan lewat sosoknya yang selalu tampil bersahaja, penuh wibawa dan ramah terhadap sesama.
Dr. Abdul Wahid membabat buku ini menjadi empat bagian, diawali dengan hikmah-hikmah dari Gus Dur dan Gus Mus, kemudian disusul dengan kisah-kisah inspiratif guna menegaskan ajaran kemanusiaan kedua tokoh ini yang akan dielaborasi pada bagian selanjutnya.

Buku ini diparipurnai dengan humor-humor segar nan luhur dari Gus Dur dan Gus Mus. Tidak hanya mewartakan kecerdasan dan kejenakaan kedua ulama ini, humor menjadi salah satu wasilah bagi kedua tokoh kharismatik ini untuk membangun persaudaraan dengan manusia lain yang berbeda identitas.

Bagi pengkaji fenomena sosial-keagamaan, barangkali ajaran kemanusiaan Gus Dur dan Gus Mus yang diangkat dalam buku setebal 240 halaman ini dapat menjadi alternatif untuk menjawab pelbagai anomali-anomali sosial yang tengah melanda. Dialek yang sederhana menjadikan buku ini sangat mudah dicerna dan layak kita jadikan medium untuk merefleksi nalar kemanusiaan kita, yang agaknya kian tertelungkup di bawah egoisme pribadi.

Judul Buku: Karena Kau Manusia, Sayangi Manusia;
Mewarisi Perjuangan Kemanusiaan Gus Dur dan Gus Mus
Penulis: Dr. Abdul Wahid, M.Ag.
Cetakan: I, Oktober 2018
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 240 Halaman
ISBN: 978-602-391-627-6

Peresensi: Nuril Ahnar, Mahasiswa Institut Keislaman Annuqayah (Instika), Guluk-guluk Sumenep.


Like it? Share with your friends!

0
5 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.