26 C
Jakarta

Idulfitri Khilafahers 1 Mei: Pura-pura Tampil Beda

Artikel Trending

Milenial IslamIdulfitri Khilafahers 1 Mei: Pura-pura Tampil Beda
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Kegalauan para Khilafahers dalam menentukan 1 Syawal 1443 H terlihat bagaimana ia membangun argumentasi. Pada momen Idulfitri kali ini, para Khilafahers ingin tampil beda. Ia tidak ingin sama dengan pilihan-pilihan syari pemerintah dan ormas Islam terpercaya di Indonesia.

Maka dari itu, dengan sangat yakin, mereka menggelar Idulfitri pada 1 Mei. Mereka Khilafahers (para aktivis HTI, eks napiter, teroris) di Indonesia, mengikuti apa yang telah diperintah oleh ISIS pusat, sebagai representasi imam dan keimanan mereka.

Khilafahers Buntu

Berlandasan bahwa hilal telah terlihat di Afghanistan, Mali dan Nigeria, para aktivis Khilafahers di Indonesia, membatalkan puasa pada 29 hari (tidak genap 30 hari sehingga tidak sama dengan hadis Nabi), dan menyeruh seluruh umatnya untuk menggelar Idulfitri sesuai perintah imam besar mereka.

Aktivis Khilafahers dan teroris di Indonesia, seperti Ibadurrahman, Giyanto, Sulthon Qolbi dan lainny,a menjalankan berlebaran pada 1 Mei 2022. Yang menarik, seluruh isi khutbah mereka adalah hanya menyampaikan tentang alasan-alasan mengapa mereka merayakan Idulfitri pada hari Minggu (suatu hari yang dibenci Khilafahers) 01 Mei 2022.

Para Khilafahers ini, menyusun argumentasi dan mencoba membikin mazhab sendiri. Mereka tampak mencari alasan-alasan sekadar ingin terlihat berbeda dengan Aswaja mainstream. Tapi yang aneh, selama ini mereka mengklaim pengikut Aswaja an sich. Di sinilah letak keruwetan cara berpikir para Khilafahers ini.

Mereka memakai dalil-dalil untuk kepentingan pragmatis. Mereka mempolitisasi ayat sekadar ingin tampil beda. Anehnya, masyarakat terkesan menerima dengan apa yang menjadi pilihan-pilihan mereka. Bahkan sampai saat ini, banyak yang mengikutinya.

Pertunjukan Sikap Plin-Plan

Sementara itu, sesama aktivis Khilafahers ada yang plin-plan dalam mengikuti arahan hisab imam. Ada yang sepakat dengan rukyah global (1 laporan untuk seluruh dunia), yang mengaku mengikuti mazhab Malikiyyah dan menyatakan ini ijma (kesepakatan).

Semantara aktivis Khilahfahers lainnya, mengikuti rukyah khusus (1 laporan untuk 1 negeri). Terkait ini mereka berlandasan pendapat Ikrimah pembantu Ibnu Abbas, Al Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar Assidiq, Salim bin Abdullah bin Umar bin Khottob, dan Ishaq bin Rohawaih. Pilihan ini adalah arahan rasional dari eks Napiter MIT Poso/JAD Bima.

Yang terjadi dalam penerimaan rukyah tersebut, para Khilafahers dan aktivis teroris di Indonesia membelah. Jika yang pertama mereka sebenarnya menjalankan tragadi dengan membuat maszab sendiri. Sedang jika memilih opsi kedua, mereka malu-malu, seakan-akan khawatir dianggap mengekor perintah pemerintah Indonesia.

Sikap Galau Khilafahers

Untuk pilihan terkahir mereka memilih ketetapan sebagai berikut: Majelis Syariah Jamaah Ansharu Syariah terkait 1 Syawal 1443 H: Setelah mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Bahwa penetapan 1 Syawal adalah perkara Syar’i, maka hendaknya didasarkan kepada dalil Syari’ah.
  2. Jama’ah Ansharu Syari’ah adalah bagian dari umat Islam yang berusaha memberikan landasan dan pijakan hukum terkait perkara Syar’i. Berdasarkan hal tersebut maka kami menganggap perlu untuk membuat ketetapan terkait 1 Syawal 1443 H
  3. Bahwa pada dasarnya dalam masalah ru’yatul hilal untuk penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal, Jama’ah Ansharu Syariah menganut madzhab jumhur ulama yaitu kalangan Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah serta tarjih Ibnu Taimiyah yaitu ikhtilaf matholi’ tidak dijadikan ‘ibroh atau dasar pertimbangan. Apabila hilal terlihat disuatu negeri maka berlaku atas seluruh negeri yang bersekutu dalam sebagian malam dengan negeri ru’yatul hilal terlihat bila kabar ru’yatul hilal tersebut telah diterima.
BACA JUGA  Melepaskan Lapas dari Cengkeraman Proyek HTI

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِيْنَ

“Berpuasalah karena melihatnya (hilal Ramadhan), dan berbukalah karena melihatnya (hilal Syawal), jika berawan (tidak bisa melihatnya) maka sempurnakanlah hitungan bulan menjadi tiga puluh.” (HR. Muslim & Nasa’i).

  1. Jama’ah Ansharu Syariah memandang bahwa masalah ini tergolong khilafiyah ijtihadiyah maka atas dasar siyasah syar’iyah apabila seorang muslim berada di negeri bermadzhab Syafi’iyah yang berpandangan setiap negeri memiliki ru’yatul hilal masing-masing maka hendaknya tidak menyelisihi madzhab mayoritas umat Islam setempat jika akan menimbulkan perpecahan umat.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ : أَنْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلصَّوْمُ يَوْمُ تَصُوْمُوْنَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ

“Dari Abi Hurairah (ia berkata): Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. “Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Dan (Idul) Adlha (yakni hari raya menyembelih hewan-hewan kurban) itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan”. (HR. Tirmidzi 632, Daruquthni 385)

  1. Bahwa telah diterima kabar dari timur tengah khususnya Saudi Arabia yang menetapkan istikmal, karena tidak ada kesaksian tentang penampakan hilal pada rukyatul hilal hari ini Sabtu, 29 Ramadhan 1443H.
  2. Diterimanya kabar dari beberapa negeri lainnya seperti Yaman, Qatar, UEA dan Mesir juga menetapkan istikmal karena tidak dapat melihat hilal pada hari ini Sabtu, 29 Ramadhan 1443H yang bertepatan dengan tanggal 30 April 2022.
  3. Apabila terjadi perbedaan hasil ru’yatul hilal maka hendaknya dalam hal ini setiap anggota Jama’ah Ansharu Syariah dapat menyikapinya sebagaimana perkara ijtihadiyah lainnya.

Maka atas berbagai pertimbangan di atas Majelis Syari’ah Jama’ah Ansharu Syari’ah menetapkan istikmal (menyempurnakan bulan Ramadhan menjadi 30 hari) dan 1 SYAWAL 1443 H jatuh pada hari SENIN, 02 MEI 2022.

Dengan melihat pilihan-pilihan mereka dan wacana yang coba ditawarkan Khilafahers, sangatlah plin-plan dan paradoks. Namun yang lucu, mereka merayakan Idulfitri tahun ini, sekadar ingin tampil beda, sesuatu sikap mental kalah: bukan fitri dan mental pemenang.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru