34.4 C
Jakarta

Ibadah Kurban, Hikmah Spiritual dan Hikmah Sosial

Artikel Trending

Asas-asas IslamFikih IslamIbadah Kurban, Hikmah Spiritual dan Hikmah Sosial
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. – Peringatan hari raya Idul Adha selalu jatuh pada tanggal 10 Dhu’l-Hijjah setiap tahunnya. Jika tidak ada perbedaan, hari besar umat Islam tersebut akan diperingati muslim di Indonersia pada tanggal 9 Juli 2022. Idul Adha identik dengan pelaksanaan ibadah kurban, yaitu penyembelihan hewan ternak atau kurban yang sesuai dengan syariat Islam.

Pada tahun 2022 ini, masyarakat muslim Indonesia patut bersyukur lantaran pemerintah sudah memberikan kelonggaran untuk berbagai pelaksanaan ibadah keagamaan. Hal itu dilakukan usai melandainya angka kasus positif Covid-19 dibandingkan tahun sebelumnya. Seperti pelaksanaan ibadah Idul Fitri, rangkaian ibadah Idul Adha pun diperkirakan dihadiri oleh masyarakat luas di manapun berada.

Namun bagaimanapun kondisi pelaksanaan Idul Adha atau Idul Qurban nanti tentu harus dijalankan dengan hati tulus dan ikhlas, terutama saat penyembelihan hewan kurban. Tidak sedikit masyarakat muslim yang mengikuti prosesi penyembelihan hewan kurban untuk sebatas adu gengsi harta yang dimiliki dan sekedar mengadakan jamuan makan daging gulai bersama sanak keluarga.

Padahal terdapat hikmah spiritual dan hikmah sosial yang dapat menuntun seorang muslim untuk tidak taklid buta serta memahami tujuan ibadah kurban dalam Islam.

Tuntunan Hikmah Spiritual

 Jatuh setiap tanggal 10 Dhu’l-Hijjah. Idul Adha juga merupakan momentum puncak pelaksanaan ibadah haji di Baitullah dan juga melaksanakan penyembelihan hewan kurban. Muslim yang mampu secara finansial telah diwajibkan oleh Allah SWT. untuk mengeluarkan hartanya dalam membeli seekor hewan kurban.  Kurban mempunyai hakikat yang sangat dalam dan perlu diketahui bersama.

Melalui penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, menyatakan bahwa secara etimologis kata ‘kurban’ berasal dari kata ‘qaraba’, ‘yaqrubu’, ‘qurbanan’, mengarah pada terjemahan ‘mendekat’. Secara terminologis, Imam Khatib Syirbini mendefinisikan kurban sebagai “Segala yang disembelih dari hewan ternak untuk mendekatkan diri  kepada Allah SWT. dimulai pada hari ied hingga akhir waktu tasyrik”.

Artinya penyembelihan hewan kurban dalam Islam perlu dilandasi dengan niat bertaqarrub kepada Yang Maha Kuasa. Sebab selalu ada manfaat bagi yang menjalankan ibadah yang Allah perintahkan. Apalagi jika hati dan pikiran selalu menghadirkan Allah dalam setiap aktivitasnya. Maka mereka adalah orang yang menurut Qs. Al-Anfal ayat 2, “bergetar qalbunya kalau mengingat Allah”.

Pelaksanaan penyembelihan kurban bukan semata-mata budaya tahunan masyarakat muslim, apalagi sekedar mengikuti tradisi agama sacrificial (sessajen). Dalam kitab suci al-Qur’an, Allah berfirman bahwa Dia tidak membutuhkan daging-daging hasil sembelihan makhluk-Nya, tapi keikhlasan dan ketakwaan seorang hamba yang mengerjakannya.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS. al-Hajj ayat 37).

BACA JUGA  Hukum Tidur di Waktu Khutbah Jumat

Ibadah kurban yang jatuh pada hari Tasyrik juga menjadi momentum untuk kembali mengingat Allah SWT. dalam setiap aktivitas di hari itu. Nabi Muhammad SAW. bersabda, “Sesungguhnya hari itu (tasyrik) hari untuk makan, minum dan mengingat Allah”  (HR. Muslim). Sehingga pelaksanaannya bukanlah sebatas simbol atau ritual kepercayaan tanpa arti.

Keikhlasan dan ketakwaan yang disebutkan tadi mampu meningkatkan hikmah spiritualitas seseorang untuk terus terikat pada cahaya rabbaniyyah (ketuhanan), ihsan, rasa insaniyyah (kemanusiaan), serta akhlak budi pekerti.

Alasannya karena terdapat kisah keluarga sakinah mawaddah dan rahmah dari Nabi Ibrahim a.s., Siti Hajar dan anaknya Nabi Ismail a.s. Khususnya peristiwa kepatuhan seorang Nabi Ismail untuk mengikuti perintah ayahnya Nabi Ibrahim, setelah mendapat wahyu dari Allah untuk menyembelih puteranya. Awal mula peringatan kurban tersebut tentu sudah diketahui bersama bagaimana akhirnya, sampai saat ini masyarakat muslim terus menjalankannya sekali dalam setahun.

Lewat ibadah kurban pula, seorang muslim sejati akan mendapat kesadaran intensif tentang akibat dari setiap aktivitasnya selama ini. Menunjukkan pribadi yang lebih bertanggung jawab secara moral kepada Allah, kepada insan dan lingkungan sekitarnya.

Ciptakan Kerukunan Sosial

 Menurut para ulama, daging kurban hasil sembelihan dibagi atas tiga, yaitu dimakan, diberikan kepada kaum dhuafa dan disimpan untuk suatu keadaan yang mendesak. Pembagian itu sesuai dengan sabda Nabi, “Makanlah, simpanlah dan bersedekahlah”. Ketiganya mungkin terdengar biasa saja, tapi jika dilakukan dengan berlandaskan ketakwaan serta niat tulus ikhlas karena Allah, maka aktivitas tersebut akan terasa nikmat.

Pengaplikasian ibadah kurban dengan cara saling berbagi kepada kelompok yang membutuhkan akan menghidupkan rasa solidaritas sosial. Dengan begitu, dapat mendorong tumbuhnya watak penuh toleransi, menebar kasih sayang, hingga menjalin kerukunan hubungan antara kelompok kaya dan kelompok miskin.

Kesenjangan sosial yang selama ini menjadi masalah bersama sedikit demi sedikit akan tertutupi, bila sifat egoisme berhasil ditaklukkan. Menurut para ahli sufi terkemuka –yang pendapatnya sudah sering dibaca- pelaksanaan ibadah kurban bukan sekedar ritual penyembelihan hewan, namun juga menjadi momen penyembelihan sifat ego dari diri tiap manusia.

Kalau saja praktek seperti itu bisa terus dijalankan tanpa harus menunggu hari raya Idul Adha, bukan tidak mungkin tingkat kemiskinan di Indonesia berangsur turun. Oleh sebab itu ibadah kurban tidak boleh sekedar dipandang sebagai hari mengumpulkan hewan kurban dan disembelih secara bersama.

Lebih dari itu, ada hikmah spiritual dan hikmah sosial yang mengarahkan pada praktik keberislaman terkait rangkaian ibadah seseorang dalam hubungannya dengan sesama insan dan alam sekitarnya.***

Oleh: Andi Novriansyah Saputra

 

Andi Novriansyah Saputra
Andi Novriansyah Saputra
Freelancer dan Penulis, Alumni UIN Alauddin Makassar.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru