30.4 C
Jakarta
Array

HTI: Sesat dalam Bernegara dan Berpikir

Artikel Trending

HTI: Sesat dalam Bernegara dan Berpikir
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Jakarta, Harakatuna.com — Penulis buku HTI: Gagal Paham Khilafah, Makmun Rasyid mengatakan bahwa HTI, tidak saja gagal memahami teks-teks para ulama, Piagam Madinah, namun sesat dalam bernegara. Gagasan ini diperkuat oleh Direktur Eksekutif Institute Pancasila dan Kewarganegaraan (IPK), Syaiful Arif, “HTI itu mengalami sesat pikir ya. secara proses berpikir mengalami kesesatan, dalam hubungannya antara Islam, pancasila, dan khilafah” di D Hotel. Jalan Sultan AGung 9, Guntur, Jakarta Selatan.

HTI, sudah masuk dalam warning. Mengapa? karena sudah memberikan sinyal keras kepada pemerintah dan yang menolak gagasan Khilafah. “Jika yang dibawa bendera putih maka itu bendera pergerakan dan jika bendera hitam itu bendera perang. Belakangan ini, bukankah bendera hitam banyak dikibarkan?,” tutur Makmun Rasyid saat di wawancarai tim Harakatuna Media.

Syaful Arif pun membuktikan kesesatan berpikir HTI, misalnya: “Kalau HTI ingin mendirikan Khilafah di Indonesia menurut saya mereka itu tidak paham bahwa Imamah itu sudah didirikan di Indonesia. Itulah mereka sangat gagal berfikirnya, jadi yang milih pemimpin itu adalah kumpulan dari orang yang pintar mengurai dan mengikat jadi tokoh-tokoh yang dikumpulkan untuk memilih sang imam dan membaiatnya,” katanya.

Indonesia bukanlah kampung akhirat yang tidak mengalami naik-turun layaknya iman seseorang. Jika ada yang belum baik, maka seharusnya HTI bersama-sama pemerintah membantu memperbaikinya, bukan membusukkan pemerintah dan memojokkan pihak-pihak terkait. Akhirnya, sibuk menjelekkan pemerintah namun luput berbuat untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia.

“HTI itu bunyi nyaringnya, tapi minim pelaksanaannya yang menguntungkan Indonesia ini. Justru mereka yang membuat Indonesia ini tidak stabil, karena sibuk mencari kesalahan pemerintah dan menghujatnya,” pungkas Makmun Rasyid.

Lebih lanjut Makmun mengatakan, “Indonesia ini lebih dekat dengan sebutan Daulatul Muslimin, sebuah tempat yang di dalamnya beragam agama. Piagam Madinah itu bukan Daulatul Islam atau Daulah Islamiyah, apalagi Negara Khilafah. Piagam Madinah adalah konstitusi pertama di dunia. Apakah itu hanya buatan orang-orang Islam atau Nabi Muhammad membuatnya sendiri dan menyodorkan kepada non-Muslim, kemudian dipaksa (dalam wilayah publik bukan privat) untuk mengikuti ijtihad Nabi Muhammad? Tidak. Diajak berunding dan akhirnya menghasilkan Piagam Madinah, dikepalai oleh Nabi Muhammad SAW,” tutup Makmun Rasyid.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru