31.7 C
Jakarta

HTI dan Pemboikotan Masjid: Gerakan Ideologisasi Khilafah Melalui Buletin Kaffah

Artikel Trending

KhazanahTelaahHTI dan Pemboikotan Masjid: Gerakan Ideologisasi Khilafah Melalui Buletin Kaffah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Siapa yang tidak tahu buletin dakwah kaffah yang biasa di sebar ketika jum’atan di masjid? Saya menemukan buletin ini dua kali di masjid daerah Yogyakarta. Pertama, di masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kedua, di masjid Al-Iman yang terletak di daerah Kelebengan (mahasiswa UGM pasti tahu daerah ini).  Keberadaan buletin ini juga pernah disinggung oleh PPIM UIN Jakarta yang melakukan penelitian atas sirkulasi dan publikasi buletin jum’at di 100 masjid di lima kota. Hasilnya adalah ada beberapa kota yang tersebar buletin kaffah, di antaranya: Pandeglang, Bogor, Bandung Sukaharja dan Gresik. Tidak hanya itu, buletin ini juga pernah dikritik dalam laman website NU Online sebab menyebarkan narasi kebencian di dalamnya.

Apa yang menjadi masalah dari buletin ini? Tahukah kamu bahwa buletin ini adalah murni milik HTI sebagai salah satu upaya untuk menyebarkan visi besarnya yakni ajakan kembali ke Islam yang berarti mendirikan negara khilafah di Indonesia. Saya menemukannya tepat pada hari Jum’at beberapa waktu lalu untuk melaksanakan sholat dhuhur. Sebagian masyarakat mungkin tidak akan tahu tentang siapa dalang di balik dari buletin ini. Akan tetapi, di antara ribuan lembar narasi yang disebarkan setiap jumat tersebut, pastilah ada beberapa orang yang akan membaca dan membawanya pulang ke rumah.

Di samping itu, ia terus menjadi sarana kampanye yang cukup strategis meskipun media sosial menempati ruang yang sangat luas beberapa tahun belakangan ini. Saya justru membayangkan bahwa, pasti ada bapak yang tidak menggunakan media sosial, dan membaca narasi pada kertas itu akan membuatnya merasa bahwa dirinya harus ikut memperjuangkan Islam dengan cara kaffah, ikut menolak negara yang tidak dipimpin oleh pemimpin Islam dan menganggap negara Indonesia ini adalah taghut karena tidak berlandaskan ajaran Islam.

Pemboikotan masjid ala HTI

Dalam melihat perjuangan aktivis HTI, setidaknya ada dua motif yang perlu diperhatikan. Pertama, motif politik. Motif ini sesuai dengan tahun politik ataupun memanfaatkan situasi politik yang panas. Artinya, para aktivis HTI akan menyebarkan narasi yang berhubungan dengan pemerintah, bobroknya kondisi kenegaraan, yang bermuara kepada ajaran kembali kepada Islam. Propaganda yang dilakukan oleh HTI untuk menarik simpati masyarakat selalu disuarakan dalam bentuk narasi dengan klaim kebenaran untuk mendirikan negara Islam. Akhirnya, puncak dari segala narasi propaganda yang disebarkan adalah solusi mendirikan negara Islam. Narasi dari buletin ini sama dengan propaganda yang disebarkan di website keislaman muslimahnews, yang juga milik HTI. Liciknya, mereka tidak hanya bergerak di media sosial, akan tetapi di ruang nyata untuk  terus menghidupkan ideologi bobrok yang membawa nama Islam untuk kepentingan kelompok tertentu.

BACA JUGA  Belajar Bijak Bermedia Sosial dari Kasus Eko Kuntadhi

Kedua, motif ideologi. Para aktivis HTI membawa ideologi berbentuk Khilafayah Islamiyyah sebagai visi yang dijadikan tonggak perjuangan. Sangat jelas bahwa ini adalah motif utama dalam setiap narasi yang dikampanyekan. Motif ini ditandai dengan tuduhan bahwa Indonesia menerapakan ideologi sekuler-kapitalis dengan wujud demokrasi. Sehingga, HTI menganggap bahwa seharusnya Indonesia mendirikan negara Islam sebagai ideologi yang paling benar. Apalagi menjadi mayoritas muslim di sebuah negara, seharusnya Indonesia sudah sejak dari dulu menerapkan sistem negara Islam agar negara ini tidak dikuasai oleh Barat. Dengan demikian, penyebaran propaganda yang dilakukan oleh HTI ini, dianggap sebagai aktivitas dakwah untuk penyadaran terhadap ideologi Islam. Berdasarkan dua motif di atas, kita dapat memahami bahwa, cara HTI untuk memboikot masjid adalah dengan menyebarkan buletik dakwah kaffah yang konsisten dilakukan.

Loyalitas tanpa batas

Kalau kita perhatikan, satu hal yang dimiliki oleh pengikut HTI, meskipun sudah dibubarkan tahun 2017 silam, loyalitas para pengikutnya justru tetap besar. Mampukah kita seperti pengikut HTI yang masih saja tetap loyal meskipun organisasinya sudah dibubarkan oleh pemerintah. Keberadaan buletin kaffah ini adalah bukti bahwa HTI masih tersebar luas di berbagai daerah Indonesia. Apa yang semestinya kita lakukan?

Pergerakan HTI di dunia nyata menuntut kita untuk melakukan aksi serupa. Penyebaran buletin di setiap jum’at kepada masjid perlu dilakukan dengan cara yang sama untuk meng-counter narasi yang disebarkan oleh kelompok HTI. Konten yang berisi ajakan khilafah, kebencian kepada sesama umat muslim, terlebih kepada pemerintah yang dianggap sebagai musuh Islam, perlu kita counter dengan narasi Islam yang ramah, damai, kita menolak Indonesia dan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Mampukah kita melakukan hal itu? Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru