29.6 C
Jakarta

Hizbullah dan Transformasi Jaringan Teroris di Indonesia

Artikel Trending

Milenial IslamHizbullah dan Transformasi Jaringan Teroris di Indonesia
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Arab Saudi, melalui Kementerian Luar Negeri, memberi dukungan terhadap keputusan Jerman menjadikan Hizbullah sebagai organisasi teroris, dan melarang seluruh aktivitasnya di sana. Negara pimpinan Raja Salman itu juga mendesak masyarakat internasional juga mendukung langkah Jerman, demi satu tujuan: pertarungan menghadapi terorisme.

Dilansir Tempo, sebenarnya apa yang dilakukan Jerman merujuk terhadap langkah Uni Eropa yang menempatkan sayap militer Hizbullah sebagai organisasi teroris, namun tidak untuk sayap politiknya. Selain itu, keputusan Jerman juga dilatari desakan Amerika Serikat dan Israel. Tidak hanya Arau Saudi, dukungan serupa juga datang dari organisasi Yahudi.

“Kami sekarang berharap negara-negara Eropa lainnya akan melihat secara dekat keputusan Jerman dan mencapai keputusan yang sama mengenai kebenaran tentang Hizbullah,” ujar David Harris, Komite Yahudi Amerika, pada Jum’at (1/5) pagi. Berita ini cukup mengagetkan. Hizbullah sebagai organisasi Islam Syiah sudah banyak dicap teroris, lalu bagaimana nasibnya di Indonesia?

Kalau kita menilik sejarah, Hizbullah sudah ada sejak zaman kolonial. Bahkan laskar Hizbullah adalah militansi rakyat sipil, terutama yang Muslim, dalam berjuang berperang mengusir penjajah. Karenanya, keberadaan Hizbullah penting sekali untuk diapresiasi. Ia memiliki peran besar dalam perlawanan-perlawanan dalam rangka memerdekakan Indonesia.

Sungguhpun demikian, hari ini, seiring dengan dinobatkannya sebagai organisasi teroris di Jerman, Hizbullah di Indonesia menjadi patut untuk dilihat kembali. Apakah masih ada, atau sudah lenyap ditelan masa. Atau justru bertransformasi, mengubah orientasi gerakan. Semua ini penting diulas: masihkah Hizbullah adalah pahlawan bangsa, atau mesti dianggap ancaman bangsa?

Hizbullah: Transformasi dan Dinamika

Kalau merunut peta genealogis organisasi radikal, atau pergerakan radikalisme, kita akan disuguhi fakta bahwa dari waktu ke waktu, mereka bukan sesuatu yang statis. Dari zaman ke zaman, lintas ruang sosial dan iklim politik, eksistensinya sangat fleksibel. Oleh karena itu, radikalisme memiliki dua sisi. Ia bisa bestatus baik, juga berstatus jahat. Perspektiflah yang menentukannya.

Doktrin radikal yang dikenal hari ini adalah peruncingan dari definisi idealnya. Saat berusaha melawan penjajah, Hizbullah di Jawa Timur misalnya, adalah pahlawan, dan pergerakannya baik serta memang harus dilakukan. Ia baik bagi kita, Indonesia, tetapi radikal bagi pergerakan milenial. Yang salah adalah penjajahan, maka perlawanan radikal tak dikategorikan sebagai pembangkangan.

Beda halnya dengan hari ini. Sekalipun Hizbullah tidak mengemuka lagi, tetapi basis pergerakan radikalnya memilik keturunan. Di sini ada Darul Islam (DI), Jamaah Islamiyah (JI), Al-Qaeda Indonesia, MIT, JAD bahkan ISIS. Kesemuanya sama-sama bergerak secara radikal, menentang pemerintahan yang sah. Hizbullah dulu demikian, tetapi dianggap baik karena status pemerintah kolonial tidak sah. Meski berkuasa, jika secara konsensus ilegal, maka harus dilawan.

Karena pemerintahan Indonesia bersifat sah, maka pergerakan radikal menjadi ilegal. Hizbullah memang sekarang tidak menampakkan muka, karena telah berubah wujud. Masalahnya, harus disebut apakah perubahan tersebut: transformasi atau dinamika? Tentu ini tak bisa digeneralisasi. Barangkali bahkan Hizbullah melakukan keduan.

BACA JUGA  Demo Bela UAS dan Provokator Pemecah Belah Umat

Artinya, radikalisme di Indonesia tetap memiki agenda utama: merebut posisi politik tertinggi, yang dibungkus dengan narasi ‘kebangkitan Islam’. Hizbullah yang dulunya bernama demikian, kini lahir Hizbullah-Hizbullah lain dengan agenda politik yang sama. Di Jerman posisinya sudah dipojokkan, dikurangi aksesnya. Lalu apa yang perlu dilakukan di Indonesia?

Maka kembali lagi, yaitu melihat dinamika politik dan transformasi pergerakan mereka. Tidak harus Hizbullah untuk dikatakan teroris, karena di Indonesia belum tentu terorisme menggunakan nomenklatur yang sama dengan Eropa. Yang terang, seperti apapun terorisme bertransformasi, ia mesti dibungkam. Negara kita punya satu senjata ampuh, yang kita kenal sebagai Pancasila.

Pancasila Pusaka Indonesia

Apa yang terjadi pada Hizbullah di Jerman, adalah apa yang terjadi dengan jaringan teroris di berbagai negara. Mereka diisolasi, meski kadang isolasi tersebut menjadi pemantik teror-teror mereka. Negara yang teritorinya luas sekali tidak mudah menjaga dari rongrongan terorisme. Tetapi ada satu pegangan yang mesti dicatat, Pancasila dapat menangkal agenda para perusak negara.

Telah banyak organisasi teroris lahir, berkuasa, melemah, bertransformasi, lalu berjaya lagi. Siklus mereka tak pernah habis, meski semua paham bahwa basis perjuangannya sama, ingin merongrong persatuan Indonesia. Di sini Hizbullah sudah bertransformasi menjadi JAD atau JAT, misalnya, maka kedua organisasi ini yang mesti dikekang pergerakannya.

Untuk meniru Jerman, Indonesia punya medan sendiri. Bukan lantas karena Hizbullah di sini tidak ada, lantas kita enteng dan anteng tidak berbuat apa saja. Justru harus ada refleksi diri, organisasi teroris apa yang mesti dikonter narasi dan dibatasi semua aksesnya. Mau Hizbullah atau bukan, selama itu organisasi teroris, maka membungkam adalah keniscayaan.

Pancasila adalah perekat, pusaka yang menyelamatkan bangsa ini dari segala bentuk perpecahan, lebih-lebih akibat terorisme. Namun demikian, Pancasila adalah teks tertutup, tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali dengan kitalah yang mengamalkan segala esensi setiap silanya. Ia menjadi tolok ukur perlawanan Indonesia terhadap terorisme, dalam wujud apa pun ia bertransformasi.

Jerman sudah memulai, meski secara de facto ia berkiblat kepada Uni Eropa. Selama ini, di Indonesia penanggulangan terorisme tidak pernah mengambil kebijakan frontal, kecuali pembubaran HTI beberapa tahun lalu. Padahal ia tak mati. HTI tak lenyap, tak bungkam, ia hanya berdinamika politik dan bertransformasi nomenklatur. Tetapi pergerakannya sama saja: radikal.

Barangkali mempertanyakan kinerja pemerintah adalah keharusan. Harus ada langkah tegas melawan terorisme, tidak bisa tawar-menawar. Sespirit Hizbullah, JAD, JAT, bahkan MIT yang di Poso harus dibungkam ke akar-akarnya. Mungkin alasannya adalah kesulitan akses. Tetapi kenapa tidak pernah ada pengumuman yang jelas, transformasi teroris mana yang benar-benar ingin diberantas di negeri ini?

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…
Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru