24.6 C
Jakarta

Hijrah Ustaz Abu Bakar Ba’asyir dan Transformasi Wacana Relasi Agama-Negara

Artikel Trending

KhazanahOpiniHijrah Ustaz Abu Bakar Ba’asyir dan Transformasi Wacana Relasi Agama-Negara
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Ustaz Abu Bakar Ba’asyir—selanjutnya ditulis ABB—adalah sebuah fenomena. Ketokohannya di gerakan radikal-terorisme tidak diragukan lagi. Ia giat mempropagandakan paham radikal. Ia lihai merekrut orang masuk ke jaringan teroris. Ia juga dikenal keras menolak Pancasila sebagai dasar negara. Namun, belakangan sikapnya bergeser. Dalam sebuah rekaman video ia menyatakan telah menerima Pancasila sebagai dasar negara.

Di kesempatan lain, dalam sebuah wawancara di kanal YouTube, ABB kembali menyatakan dirinya menerima Pancasila dan tidak menganggapnya bertentangan dengan Islam. Ia menyebut, secara prinsipil Pancasila sudah sesuai dengan ajaran Islam. Hanya saja, Pancasila belum dipraktikkan secara penuh sehingga acapkali masih banyak kekurangan di sana-sini.

Apa yang terjadi pada ABB barangkali merupakan apa yang disebut filosof Thomas Kuhn sebagai shifting of paradigm alias pergeseran paradigma. Yakni satu kondisi ketika seseorang atau kelompok mengalami perubahan cara pandang dan pemikiran dari satu keyakinan yang telah dianggap “norma” menuju cara pandang baru yang berlawanan dengan keyakinan sebelumnya.

Bagaimana Terjadi Perubahan Paradigma?

Pergeseran paradigma di kalangan tokoh pada dasarnya ialah fenomena biasa. Mendiang Buya Syafi’i Ma’arif misalnya, semasa mudanya pernah menjadi simpatisan gerakan negara Islam. Di masa mudanya, ia meyakini bahwa negara Islam ialah bentuk ideal dalam berpolitik bagi umat Islam. Seiring luasnya pemahaman dan kesadaran intelektual, pandangan itu pun berubah. Sampai akhir hayatnya, Buya Syafi’i Maarif dikenal sebagai nasionalis, humanis dan figur moderat yang pro-demokrasi.

Dalam pandangan Kuhn, pergeseran paradigma dimungkinkan terjadi manakala keyakinan lama yang dianggap normal mengalami peristiwa anomali alias penyimpangan dari cita-cita ideal awal. Dalam konteks ustaz Abu barangkali yang dimaksud dengan anomali itu ialah kegagalan gerakan radikal-teroris dalam mewujudkan cita-citanya. Seperti kita tahu, gerakan radikal-teroris selalu sesumbar bahwa cita-cita mereka ialah memperjuangkan kejayaan Islam sekaligus mewujudkan kesejahteraan umat.

Kelompok radikal-teroris selalu berjanji bahwa ketika sistem Islam (syariah) berhasil ditegakkan, dan khilafah Islam berdiri di muka bumi, secara otomatis umat Islam akan sejahtera dan maju peradabannya. Namun, janji-janji itu tidak lebih dari sebuah utopia belaka. Apa yang tampak di permukaan justru menujukkan realitas yang sebaliknya. Ideologi radikal-terorisme lebih banyak menimbulkan efek destruktif dan menyuburkan praktik kekerasan yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

BACA JUGA  GNAI dan Urgensi Mewaspadai Geliat Politisasi Agama

Barangkali karena hal anomalistik itulah, pendirian ABB akhirnya bergeser. Ia boleh jadi menyadari bahwa selama ini Pancasila justru berhasil mewujudkan cita-cita Islam tentang kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian. Pergeseran paradigma ABB ini kiranya akan mendorong munculnya reposisi wacana hubungan agama dan negara. Selama ini, wacana relasi agama dan negara kerap diklasifikasikan ke dalam tiga pandangan.

Kaum liberal-sekuler beranggapan bahwa negara dan agama merupakan dua entitas yang berbeda dan harus dipisah. Negara merupakan urusan publik sedangkan agama murni urusan privat. Sebaliknya, kaum konservatif menganggap relasi antara agama dan negara itu bersigat integralistik dalam artian menyatu.

Maknanya, negara harus berdiri di atas landasan norma dan hukum agama. Terakhir, kaum moderat beranggapan bahwa relasi agama dan negara bersifat mutualistik dalam artian saling membutuhkan. Pandangan moderat ini memahami relasi agama dan negara dalam konteks mutualistik, dalam artian saling membutuhkan dan melengkapi.

Akankah Kaum Konservatif Berubah Menjadi Moderat?

Pergeseran paradigma yang dialami ustaz Abu Bakar Ba’asyir ini boleh jadi akan mengubah posisi kaum konservatif yang tadinya anti-Pancasila menjadi lebih terbuka dan adaptif. Sehingga seiring berjalannya waktu suara-suara menentang Pancasila lama-kelamaan akan melemah dengan sendirinya. Ini artinya, perubahan paradigma ABB tentang Pancasila ini akan mendorong reposisi kaum konservatif menuju moderat.

Arkian, pergeseran pandangan ABB terkait Pancasila dan Islam ini memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa hakikatnya setiap muslim sejati pada akhirnya akan kembali ke paradigma moderatisme. Banyak tokoh dan pemikir Islam yang tadinya gandrung pada pemikiran dan ideologi radikal pada akhirnya mengubah haluan menjadi moderat lantaran menyadari bahwa radikalisme, ekstremisme, apalagi terorisme tidak menyediakan solusi atas problem keumatan, alih-alih justru menambah persoalan.

Praktik kekerasan sebagaimana menjadi ciri khas gerakan radikal-terorisme sampai kapan pun tidak akan membawa Islam kepada kesejahteraan apalagi kesejahteraan. Di saat yang sama, jika kaum konservatif mau berpikir obyektif, mereka akan mengakui bahwa Pancasila merupakan ideologi kebangsaan yang relevan dengan kondisi Indonesia yang majemuk

Jika kesadaran itu muncul, besar kemungkian akan terjadi semacam pertaubatan massal kelompok konservatif-radikal menuju paradigma keagamaan yang lebih moderat dan nasionalis.

Desi Ratriyanti
Desi Ratriyanti
Lulusan FISIP Universitas Diponegoro, bergiat di Indonesia Muslim Youth Forum.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru