25.7 C
Jakarta

HEADLINE: Mengapa Penting Sekali Menangkap Munarman?

Artikel Trending

EditorialHEADLINE: Mengapa Penting Sekali Menangkap Munarman?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Penangkapan Munarman oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri di kediamannya, Perumahan Modern Hills, Cinangka, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (27/4) kemarin, menyisakan tanda tanya. Sebagian masyarakat, terutama tetangga dekat Munarman, mengaku kaget bahkan tidak percaya bahwa aktivis HAM itu terlibat terorisme. Pasalnya, ia orang baik dan bergaul pada sesama.

Pria asal Palembang yang tengah menjadi pengacara Habib Rizieq Shihab (HRS) memiliki perilaku baik dengan masyarakat sekitar. Berdasarkan JPNN, sejumlah jemaah Masjid Ar-Rohmat Modernhill, yang jaraknya 100 meter dari rumah Munarman mengungkapkan, ia adalah sosok dermawan dan humble. Tidak ada gelagat mantan koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) itu radikal apalagi terlibat penggerakan aksi teror.

Warga juga menuturkan, beberapa bulan lalu sebelum kasus Habib Rizieq mencuat, Munarman sempat memberikan sumbangan Rp100 juta untuk menaikkan kubah masjid. Munarman ingin pembangunan Masjid Ar-Rohmat cepat selesai

“Beliau itu enggak pernah absen jemaah Subuh. Kalau lagi di rumah, pasti Tarawih berjemaah dan salat lainnya. Beliau kalau kerja suka pakai ojek warga kampung. Enggak ada jeda antara beliau dengan warga kampung,” ungkap salah satu warga Modernhill yang minta namanya tidak disebutkan.

Ada hubungan emosional antara masyarakat sekitar dengan Munarman. Sekalipun ia terkenal garang di televisi, keras ketika berbicara, bagi masyarakat justru yang terjadi malah sebaliknya. Fakta ini tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Konsekuensinya jelas, yaitu terciptanya resistansi masyarakat terhadap pemerintah di satu sisi, sekaligus semakin besarnya pembelaan terhadap gerakan Munarman juga segala yang berhubungan dengannya di sisi lainnya.

Masalahnya adalah, hal itu akan berdampak pada anggapan bahwa penangkapan kemarin sangat tidak penting dan tidak masuk akal. Ini tentu saja menjadi masalah karena menyangkut integritas pemerintah di mata masyarakat.

Munarman boleh saja dermawan secara laku keseharian. Semua pelaku teror selama ini juga memakai trik tersebut. Dermawan atau tidak bukan alasan jika berkenaan dengan penanganan gerakan bawah tanah seperti terorisme ini.

BACA JUGA  Refleksi Hari Sumpah Pemuda: Indonesia Terjebak Kubangan Puritan Ekstrem

Yang perlu digarisbawahi adalah, kita tidak sedang berperang melawan FPI apalagi Munarman. Tidak. Kita tengah memerangi terorisme dan sinyal gerakannya, yang beberapa waktu terakhir FPI juga terlibat. Munarman sekalu representasi FPI terkena dampak dinamika politik FPI tersebut. Meski secara ideologi mereka menentang aksi teror, faktanya di lapangan justru terjurumus di dalamnya. Keterjebakan tersebut, boleh jadi, karena ulah teroris militan itu sendiri.

Karenanya, menangkap Munarman itu penting untuk menyabotase jaringan teror. Ibaratnya, kita mau menanggulangi terorisme dengan membakar lumbungnya. Di dalam lumbung banyak orang dari berbagai kalangan. Ada yang terikat organisasi terorisme atau tidak, dan ada yang berlatar justifikasi ideologis maupun pragmatis.

Pemerintah memiliki tugas untuk memastikan persatuan bangsa terpelihara dan masyarakat hidup dalam rasa aman tanpa dibayangi terorisme. Karena itu, setelah Munarman ditangkap, tugasnya adalah memberikan kebijakan secara adil dan mengedukasi masyarakat. Tujuannya adalah agar terorisme menjadi musuh bersama, sekaligus menghapus stigma terhadap pemerintah yang dianggap represif terhadap umat Islam.

Penangkapan Munarman sangat penting sebagai langkah administratif membangunkan kesadaran masyarakat akan bahaya terorisme yang bisa merasuki siapa saja. Mari kita tunggu hasil pemeriksaan kepolisian, dan tidak terburu-buru memberi anggapan yang negatif kepada otroritas terkait. Apalagi ditambah dengan fitnah mengenai isu sensitif;kabangkitan komunis PKI. Alih-alih selesai, masalahnya akan semakin runyam dan kita semua yang terkena dampaknya.

Terorisme, dalam rupa jihadis maupun separatis, adalah dua PR besar bangsa. Kita tengah memerangi mereka, dan apa yang menimpa Munarman merupakan salah satu perang melawan terorisme atau yang diduga terjerat jaringan terorisme tersebut. Mari tetap bersama menjaga bangsa tercinta kita, Indonesia.

Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru