Hati-Hati dengan Story-mu di Media Sosial


0
57 shares

Dizaman yang serba internet ini, tentunya tidak susah untuk melihat tulisan seseorang di story media sosialnya. Zaman ini seolah menuntut setiap warganet untuk mulai menuliskan kisah mereka. Dimulai dari wall di facebook. Ketika kamu membukanya akan ada banyak cerita dari teman-temanmu. Dan tentunya kamu juga bisa menuliskan apa yang kamu alami hari ini di wall facebook-mu untuk dibagikan dengan orang lain.

Lain halnya dengan facebook, instagram memintamu untuk menyajikan ceritamu lewat gambar. Disertai dengan beberapa karakter untuk menuliskan quotes. Kadang orang akan me-like story-mu karena fotomu atau karena quotes kamu yang menarik. Juga, ada yang mulai memadukan gambar dengan quotes motivasi yang menarik di story-nya. Pada akhirnya, stroy-mu masih saja akan menuntutmu menulis.

Seolah setiap media sosial punya caranya sendiri untuk memaksamu menulis. Begitupun dengan story di whatsApp. Kamu akan bisa membaca banyak story dari nomor kontakmu, atau kamu juga bisa menuliskan story-mu dengan karakter tertentu.

Tentunya ini membawa makna positif. Kamu yang dari tidak biasa menulis, akhirnya mulai menuliskan ceritamu. Walaupun masih pendek. Kata seorang penulis, Tereliye, bahkan kamu yang keseringan menulis story bisa lebih produktif dalam banyaknya menulis dari pada dia. 

Tapi sadarkah kamu, apa yang kamu tulis atau kamu baca dari story temanmu, kadang menggambarkan secara tidak langsung siapa kamu dan bagaimana pribadimu. Nah loh! Berikut tipe-tipe orang dalam menulis story:

Pertama, menuliskan setiap peristiwa. Kebanyakan dari kita mungkin akan melakukan hal ini. Membagikan cerita atau peristiwa yang sedang dialami, mulai sedang liburan sama teman, acara ulang tahun, wisuda, nikahan, volunteering atau yang lainnya.

Orang yang melihat lantas akan ber-ohhh ria. Oh, ini kegiatan dia sekarang. Tak apa, selagi kamu masih membagikan aktivitasnya dalam koridor yang baik-baik, orang-orang cenderung akan menilai baik dirimu. Tapi jangan kebablasan juga kalau cerita apa yang kamu alami, karena tidak semua orang butuh apa yang terjadi padamu. Hati-hati kamu bisa dinilai pribadi yang suka pamer. 

Kedua, menuliskan keluhan. Kebanyakan orang kita lihat masih saja mengisi story-nya dengan keluhan, curhatan, kemarahan dan ketakutan. Seolah story adalah diary tempat kamu menuliskan curhat. 

Tanpa sadar bahwa hanya sebagian orang yang akan peduli pada kondisi hatimu. Yang lain, mereka cuma akan menilai bahwa kamu mungkin orang yang lemah, atau kamu orang yang punya sifat buruk karena marah-marah di stroy. Apapun itu berhati-hatilah, tidak semua orang harus singgah dihatimu. Sebagaimana tidak semua cerita harus kamu tuliskan dan bagikan ke orang-orang. Apalagi kalau isinya keluhan.

Ketiga, menuliskan motivasi dan berbagi informasi. Nah ini nih tipe yang paling dicari. Orang-orang yang apa yang dituliskannya adalah untaian kalimat motivasi, suka berbagi info kegiatan positif semisal lomba atau volunteering. Sudah dapat kamu nilai sendiri bukan bagaimana tipe orangnya. Dibanding fokus pada apa yang terjadi pada dirinya dan hatinya, ia lebih memilih untuk fokus berbagi kebaikan.

Pada akhirnya mari kita sama-sama menyadari bahwa media sosial hanya tool yang dikembangkan untuk mempermudah kita. Salah satunya mempermudah kita membagikan cerita, khususnya dengan cara menulis. Tapi hati-hatilah dengan apa yang pernah kamu tulis, karena tidak semua hal wajib kamu bagikan. 

Mulai Bijaklah Kawan!!!

Baca Juga:  Fase Dakwah Hizbut Tahrir

Like it? Share with your friends!

0
57 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
4
Suka
Yuliaekasari