29.4 C
Jakarta

Harun Yahya: Salah Satu dari Sekian Penceramah yang Menjual Islam

Artikel Trending

“Saya mencurahkan banyak cinta untuk perempuan, cinta adalah kualitas seorang manusia. Cinta membuktikan kualitas seorang Muslim,” kata Adnan Oktar dalam sidang Oktober 2020, dilansir dari CNN Indonesia. Sosok Harun Yahya, nama pena yang disematkannya menjadi topik pembicaraan serius bagi kalangan umat Muslim, khususnya Indonesia. Pantas saja, berbagai postingan dirinya melibatkan perempuan-perempuan yang mengiringi.

Bagaimana tidak, ketika namanya begitu tersohor di Indonesia sebagai ilmuwan Muslim, ternyata di dunia luar justru pemikirannya ditertawakan. Masih segar bagi kalangan yang lahir 90-an, pada saat masih belajar tatap muka, teknologi belum secanggih seperti sekarang ini. Pernah suatu waktu disuguhkan video pembantah teori evolusi. Ya, siapa lagi kalau bukan dari Harun Yahya. Saya pernah menontonnya bersama teman kelas, waktu itu menjadi media pembelajaran yang amat sangat apik tatkala belum kenal dengan YouTube dkk.

Tidak hanya itu, dalam konsep cinta yang diyakini, khususnya relasi dengan perempuan. Harun Yahya dengan gagasan anehnya, salah satunya yakni menganjurkan perempuan berdadan dengan begitu cantik dengan pakaian setengah badan (bikini). Apalagi dengan berbagai foto bersama perempuan disampingnya yang selalu menggunakan pakaian bikini. Parahnya lagi, ia mengaku memiliki 1000 pacar dan memiliki 69.000 pil kontrasepsi di rumahnya.

CNN Indonesia mengabarkan bahwa Hakim Pengadilan Turki menjatuhkan hukuman penjara seribu tahun kepada penceramah Muslim, Adnan Oktar alias Harun Yahya Karena terbukti melakukan tindak kejahatan seksual, ia ditangkap pada 2018 silam setelah kepolisian Turki menyelidiki dugaan kejahatan keuangan yang dilakukan oleh dia dan organisasi yang dibentuknya.

Nama Oktar melejit sebagai pendiri organisasi Islam, penceramah, penulis ratusan buku, ilmuwan dll. Pemikiran-pemikirannya yang menentang terhadap teori evolusi Darwin serta mengatakan bahwa teori Darwinlah yang kemudian menyebabkan adanya tindakan terorisme.

Di Indonesia, nama Harun Yahya justru dikenal dengan ilmuwan Muslim yang tersohor, bahkan kita bisa melihat nama dan karyanya diabadikan sebagai bahan referensi buku Biologi kelas 12 SMA  yang ditulis oleh Langkah Sembiring dan Sudjino. Ramai sekali di Twitter beredar sebuah buku yang mengutip Harun Yahya. Kenyataan tersebut perlu ditinjau ulang oleh para pakar pendidikan, akademisi khususnya Kemendikbud berkenaan dengan referensi yang digunakan oleh para sekolah agar tidak menimbulkan kerancuan.

BACA JUGA  Menyoal Tagar Indonesia Darurat HAM yang Salah Kaprah

Ilmuwan Palsu, Penipu yang Dibungkus dengan Agama

Harun Yahya bukanlah sosol ilmuwan Islam yang patut dibanggakan. Ia adalah penipu, penjahat, pemerkosa yang memiliki budak seks dengan segala keilmuan yang dimilikinya justru digunakan sebagai jalan mulus untuk melakukan tindak kejahatan. Apalagi dirinya sebagai seorang penceramah, pengaruhnya amat sangat besar terhadap Indonesia. Bahkan dirinyapun dinobatkan sebagai tokoh Muslim yang berpengaruh.

Kiranya sampai disini paham, bahwa sesuatu yang dibungkus secara Islami begitu apik menjadi “previllege” dalam melakukan berbagai hal. Pemikiran-pemikirannya diadopsi sebagai bahan ajar generasi 90-an ketika belajar di masa silam. Buku-bukunya pun dijadikan bahan referensi untuk belajar, sampai saat ini, terngiang apa yang disampaikan oleh Harun Yahya tentang ketidaksinambungan teori evolusi dengan ayat penciptaan Al-Qur’an.

BACA JUGA  Pembubaran FPI, Kejutan di Penghujung Tahun

Di masa silam, justru apa yang disampaikan oleh Harun Yahya adalah penemuan yang amat sangat besar dan fantastik, alih-alih “Islam” dijadikan kambing hitam oleh orang-orang yang begitu licik, diamalkannya sebagai jalan untuk mendapatkan uang.

Meski demikian, kita perlu berterimakasih kepada dirinya sebab sebelum era internet sekarang, ia sudah mengenalkan audiovisual yang bisa digunakan untuk belajar. Hanya berterimakasih untuk hal tersebut. Harun Yahya adalah sebuah representasi pendakwah menjual Islam kepada berbagai kalangan melalui karya-karyanya, ia hanyalah salah satu dari sekian ribuan penceramah yang selama ini hadir berdalih atas nama “Islam” kemudian justru diagung-agungkan oleh orang-orang.

Kita perlu banyak belajar untuk memahami berbagai sosok ilmuwan Muslim yang harus kita telaah, banyak hal yang harus kita pelajari untuk meningkatkan kapasitas keilmuan yang kita miliki, sehingga bisa memilih siapa yang seharusnya kita jadikan panutan. Apalagi ketika sesuatu dibungkus dengan “agama”, alih-alih terkadang membuat kita langsung mengikutinya tanpa syarat, mengaguminya tanpa “tapi” seolah-olah menjadi sebuah kebenaran mutlak yang datangnya dari Allah. Wallahu a’lam.

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru