29.6 C
Jakarta

Hantu Khilafah: dari LGBT hingga Hepatitis Akut

Artikel Trending

KhazanahTelaahHantu Khilafah: dari LGBT hingga Hepatitis Akut
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Beberapa waktu lalu, masyarakat, khususnya netizen, di media sosial kembali heboh dengan munculnya pasangan gay, yakni Ragil dengan pasangannya di podcast Deddy Corbuzer.  Melalui twitter, tagar LGBT trending. Banyak yang menghujat Deddy Corbuzer karena dianggap tidak mendidik. Akhirnya, video tersebut di take down di akun youtube Deddy Corbuzer.

Pro kontra dengan kaum lGBT semakin panas melalui argument keagamaan. Pelbagai influencer yang mengambil pendekatan dari perspektif keagamaan, mulai dari hindu, budha, hingga Islam juga hadir. Apalagi, tersebar video lama yang disampaikan oleh Mahfud MD, Menteri Polhukam (politik, hukum dan keamanan RI), tentang komentarnya perihal LGBT. Menyikapi tentang kehadiran LGBT, bagaimanapun, kita sangat tidak membenarkan perilaku dan pilihan itu. Perihal pasangan, kita sepakat bahwa, laki-laki berpasangan dengan perempuan, sebaliknya pun demikian. Mempelai laki-laki dan perempuan ada pada rukun nikah yang wajib dipenuhi dalam pernikahan. Maka ketika ada pasangan sesama jenis, kita tidak sepakat dengan hal itu.

Diantara banyaknya komentar, judgement serta dalil-dalil agama yang dikemukakan oleh netizen, narasi yang tidak boleh kelewatan untuk kita komentari, yakni narasi kelompok khilafah yang menembak sistem pemerintah kapitalis. Maraknya LGBT membuktikan bahwa, dampak dari kapitalisme. Apabila Indonesia menganut sistem khilafah, maka tidak aka nada lagi LGBT, tutur mereka.

Belum selesai persoalan LGBT, munculnya penyakit hepatitis akut yang menyerang anak kecil belakangan ini, menyita perhatian kita semua. Setelah wabah Covid-19 yang belum selesai. Kehadiran penyakit hepatitis menjadi sinyal buruk kepada kita semua tentang Kesehatan masyarakat.

Sejak resmi terpublikasi sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh WHO, jumlah laporan kasus hepatitis terus bertambah. Tercatat lebih dari 170 kasus dilaporkan oleh lebih dari 12 negara. WHO pertama kali menerima laporan pada 5/4/2022 dari Inggris Raya mengenai 10 kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis of Unknown Aetiology) pada anak-anak usia 11 bulan—5 tahun pada periode Januari—Maret 2022 di Skotlandia Tengah. (CNBC, 8/5/2022).

Lagi-lagi, kelompok khilafah bukannya mengedukasi masyarakat untuk tetap waspada agar bisa terhindari dari penyakit tersebut.  Sebaliknya, mereka justru menjadi provokator dengan menyudutkan peran pemerintah dalam sistem demokrasi yang bobrok. Tidak memprioritaskan masyarakat, bahkan tidak becus melakukan penanganan terbaiknya. Lebih jauh, kampanye yang dilakukan tidak ada bedanya dengan sebelumnya, yakni tegakkan khilafah maka semua bisa diselesaikan dengan baik.

BACA JUGA  Pentingnya Moderasi Beragama dalam Kehidupan Keberagaman

Masalah LGBT hingga penyakit Hepatitis merupakan dua masalah yang trend beberapa belakangan ini dibicarakan oleh publik. Keduanya banyak sekali narasi pembelakaan, penghakiman, edukasi bahkan provokasi digencarkan oleh netizen.

Baik LGBT atau Hepatitis Akut, tidak ada hubungannya dengan khilafah

Nadirsyah Hosen, atau yang akrab dipanggil Gus Nadir, menyindir keberadaan kaum LGBT di masa pemerintahan khilafah. Dalam tulisan tersebut, Gus Nadir menjelaskan bahwa, di jaman khalifah dulu, ada beberapa khalifah yang gay, diantaranya: Khalifah al-Watsiq bin al-Mu’tashim Billah, Khalifah al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik, Khalifah al-Amin bin Harun ar-Rasyid.

Menurut Gus Nadir, kelompok khilafah yang menyalakahkan sistem pemerintah karena adanya LGBT justru tidak fair. Seharusnya, kalau ingin disalahkan, ya semuanya. Mulai dari sistem pemerintah, atau salahkan pelakunya, jangan tebang pilih. Bukan mereka namanya, jika tidak langsung menembak sistem yang salah, lalu berdalih sistem khalifahlah paling benar diiantara sistem mereka.

Mari kita berlindung dari seluruh jenis kelompok Islam yang mengkampanyekan khilafah, teror ataupun sejenisnya. Mari kita tetap keukeuh dan ikhtiar tidak menukar nasionalisme dengan janji syurga yang dikampanyekan oleh mereka. Semoga kita semua tidak terlena oleh janji syurga yang dikampanyekan oleh kelompok tersebut seakan sudah memiliki kapling syurga.

Islam semacam itu dapat memecah keutuhan NKRI. Negara yang memiliki banyak sekali keragaman budaya, ras dan suku dihancurkan oleh sekelompok orang yang membawa agama untuk kepentingan politik, dengan menyoroti pemerintah sebagai thagut, sistem pemerintah yang rusak, hingga kebobrokan pemerintah yang menjadi faktor segala penyebab masalah terjadi.

Jika kita masih ingin tetap nyaman tinggal di Indonesia, anak cucu kita di masa depan masih melihat bagaimana kebebasan memeluk agama sangat bisa dimiliki, wajib untuk menjauh dari segala bentuk iming-iming khilafah. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru