32.1 C
Jakarta

Jangan Jadikan Agama untuk Alat Politik!

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanJangan Jadikan Agama untuk Alat Politik!
image_pdfDownload PDF

Semenjak masih dalam kandungan manusia sudah dibekali akal untuk mengenal eksistensi Tuhan. Ketika dilahirkan ke dunia, manusia mulai diberi tanggung jawab untuk membenarkan Tuhan sebagai satu-satunya sesembahan.

Sebagai Dzat yang tak kasat mata, Tuhan sangat tidak mungkin diindera. Karena itu, agama hadir untuk memediasi manusia yang butuh atas kehadiran Tuhan. Muncul pertanyaan nakal bin nyentrik, “Boleh nggak bertuhan tanpa beragama?”

Terlepas dari pertanyaan tersebut, sebuah pertanyaan baru muncul dan sepertinya pertanyaan ini menjengkelkan. Begini bunyi pertanyaannya, “Jika agama hadir untuk manusia, boleh nggak menjadikan agama untuk kepentingan politik?”

Saya tahu agama memang hadir untuk manusia. Tapi, sangat tidak beradab siapapun yang menjadikan agama untuk kepentingan politik yang berpotensi untuk meraih kekuasaan yang bersifat individualis. Agama lebih menempatkan nilai-nilai kemanusiaan di atas kepentingan politik.

Sederet argumentasi saya itu tidak bermaksud bahwa politik itu buruk. Saya tetap mengakui politik itu layaknya pisau yang memiliki dua fungsi: bisa positif jika pisau ini digunakan untuk sesuatu yang benar dan sebaliknya bisa negatif jika pisau itu digunakan untuk sesuatu yang salah.

Agama, bagi Gus Dur, seharusnya tidak mengurus persoalan politik praktis. Agama memiliki ruang tersendiri untuk memediasi manusia melakukan komunikasi dengan Tuhan. Mengikutkan agama dalam ranah politik akan sangat mungkin timbul sebuah pertentangan yang sengit.

Gus Dur sesungguhnya sangat tidak suka mengikutkan agama dalam ranah politik. Karena, hal itu ibaratnya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Buktinya, banyak kelompok yang membawa instrumen agama di ranah politik akibatnya nilai-nilai kemanusiaan terpaksa dikorbankan.

Biasanya yang getol membawa instrumen agama demi politik disebut oleh Gus Dur dengan kelompok separatis. Kelompok separatis ini jika disederhanakan sekarang adalah kelompok radikalis. Apapun sebutannya kelompok ini telah meletakkan kepentingan politik di atas nilai-nilai kemanusiaan. Jelas itu keliru.

BACA JUGA  Penulis Kritis Dapat Ancaman Kelompok Radikalis, Mungkinkah?

Kegundahan Gus Dur atas munculnya kelompok radikalis seiring dengan keiinginannya untuk membubarkan kelompok tersebut. Beriring waktu kelompok radikalis yang dicita-citakan oleh Gus Dur bubar pada akhirnya gulung tikar.

Saya yang sangat jauh dari tingkat ma’rifatullah hanya berbaik sangka, Gus Dur itu wali. Gus Dur mampu membaca peristiwa di masa depan yang tidak dapat dijangkau oleh manusia pada umumnya. Insyarat kewalian Gus Dur sudah tercium oleh orang banyak, tak terkecuali masyarakat di Indonesia. Sekalipun Gus Dur sendiri tidak mengaku dirinya wali. Memang begitu orang yang sudah sampai pada ma’rifatullah. Tidak perlu mempertontonkan kepada orang lain.

BACA JUGA  Ustadz Fatih Karim dan Kepentingannya dalam Belajar Islam

Terkait kejengkelan Gus Dur dan tentunya seluruh orang Indonesia atas munculnya kelompok radikalis, sebuah kritik yang cukup memukul disampaikan oleh Gus Yaqut, Menteri Agama RI. Katanya begini: “Agama sebisa mungkin tidak digunakan sebagai alat politik, baik untuk menentang pemerintah atau merebut kekuasaan, atau mungkin untuk tujuan-tujuan yang lain.”

Wejangan yang disampaikan Gus Yaqut mungkin terdengar umum. Namun, karena kala pesan itu disampaikan lagi marak-maraknya kelompok radikalis berbuat kisruh di Indonesia, kritik Gus Yaqut secara tidak langsung mencolek kelompok tersebut. Seakan wejangan itu menegur pengikut-pengikutnya yang sudah kelewatan batas dalam berdakwah.

Kelompok radikalis melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh agama. Aksi-aksi yang dilakukannya banyak bertentangan dengan misi agama, yaitu tegaknya keadilan dan kemanusiaan. Semisal, menghina kehormatan Presiden Jokowi kemarin, mencela fisik Gus Dur tempo dulu, dan lain sebagainya. Sungguh keterlaluan memang kelompok radikalis ini. Mereka merasa paling benar sendiri.

Sebagai penutup, Tuhan adalah Dzat yang memiliki sifat ar-Rahman atau Pengasih atas semua makhluk-Nya tanpa terkecuali, baik yang muslim maupun yang non-muslim. Sifat pengasih ini hendaknya dapat diimplementasikan dalam kehidupan manusia dengan tidak merendahkan orang lain, apalagi sampai menyesatkan dan mengkafirkan mereka.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru