Hadits Menurut Interpretasi Orientalis


Hadits adalah salah satu sumber tasyri’ dalam Islam. Urgensinya semakin nyata melalui fungsi-fungsi yang dijalankannya sebagai penjelas dan penafsir Al-Qur‟an, bahkan sebagai penetap hukum yang independen sebagaimana al-Quran sendiri. Secara umum, hadits dipahami sebagai segala ucapan, perbuatan, dan taqrir nabi Muhammad SAW, mengingat begitu pentingnya hadits, hadits telah diajarkan sejak dini.  Umat islam secara umum seyogianya telah menanamkan kecintaan anak-anaknya terhadap nabi dan mengajarkan hadits sejak dini, sehingga jika mereka tak sanggup mengajarkan pun, sangat riskan jika tidak mendaftarkan anak-anaknya ke Madrasah Diniyah terdekat. Bukan merupakan hal yang tabu lagi jika kita membahas hadits berdasarkan perspektif islam itu sendiri, sehingga dalam essai ini penulis akan membahas hadits ditinjau dalam perspektif Orientalis.

Sebelum membahas lebih lanjut, alangkah baiknya jika kita mengetahui dulu apa itu Orientalis dan Orientalisme.  Kajian ‘Barat’ dan ‘Timur’ yang disebut dengan ‘West’ atau ‘Occident’ dan ‘East’ atau ‘Orient’ merupakan faktor demarkasi yang menjadi fokus kajian Orientalisme. Istilah  Orientalisme menurut kamus Oxford English Dictionary, digunakan bagi subjek dan karya-karya para Orientalis dan sarjana-sarjana berkenaan dengan kebudayaan, sejarah, bahasa, dan masyarakat Asia atau dunia Timur, semenjak abad 18 masehi ketika tradisi kajian itu dimulai. Di Jerman dan Skandinavia, Orientalistik merupakan istilah yang sama dengan Orientalism meskipun perbedaan istilah ini terkadang mengakibatkan kebingungan ketika mengkaji Orientalisme.

Munculnya kata Orientalisme karena adanya kajian dunia Timur oleh orang-orang Barat sehingga dunia seakan terbelah menjadi dua; Timur dan Barat. Kata Orientalisme sendiri mula-mula digunakan pada 1815, tetapi menurut Rodinson, istilah itu telah digunakan di Inggris sejak 1779 dan di perancis pada 1799. Istilah itu mulai tercantum dalam Dictionnaire de I’Academie Francaise pada 1838. Ketika mengkaji dunia Timur, sejak abad kesembilan belas Masehi, Orientalisme sebagai sebuah disiplin ilmu pengetahuan memfokuskan pada aspek bahasa, teks, dan sejarah budaya masyarakat Islam.

Menariknya, gerakan mempelajari Islam justru telah ada sejak abad ke-12. Pada saat itu, beberapa rahib barat pernah datang ke Andalusia di masa kejayaan Timur. Mereka belajar di sekolah-sekolah di sana, menerjemahkan al-Quran serta buku-buku berbahasa Arab ke dalam bahasa mereka dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Diantara mereka adalah Jerbert yang terpilih menjadi Paus Roma pada tahun 999 M, Pierrele Aenere (1156-1092), dan Gerard de Gremone (1187-1114). Setelah kembali ke daerah asalnya, mereka mulai mengajarkan Ilmu yang telah diperoleh tersebut, sehingga dalam beberapa tahun, universitas-universitas di Barat bergantung sekali pada buku berbahasa Arab. Jadi, Timur yang nampak dalam Orientalisme adalah suatu sistem representasi yang dirangkai oleh keseluruhan perangkat kekuatan yang membawa Timur ke dalam keilmuan Barat, kesadaran Barat, dan kemudian Keimperiuman Barat. Sekalipun hal ini sudah dikritik oleh Richard King. Dia mengatakan, pemahaman itu tergantung oleh objektifitas dan ideal netralitas absolut. Artinya, tidak selamanya apa yang menjadi bahan kajian Barat merupakan upaya penghancuran Timur dalam kerangka hegemoni ke-Baratan. Terdapat peristiwa yang melegenda antara Timur dan Barat, yaitu ketika perang salib. Ia merupakan tantangan bagi kaum Kristen Eropa terhadap dunia Islam, khususnya di Asia. Keristen menganggap Islam yang pertama kali menyerang mereka sejak tahun 632, bukan saja di Syria dan Asia kecil, tetapi juga di Spanyol dan Sisilia, sehingga pada akhirnya meletus perang salib. Fakta ini menjadi hal yang tidak mustahil jika pada akhirnya gerakan pemikiran yang bernama Orientalisme seringkali dicurigai dan banyak menuai kritik. Baik kritik itu dari umat Islam ataupun dari bangsa Barat sendiri.

Para Orientalis tidak semuanya sama dalam memandang Islam, termasuk di dalamnya Hadits. Dalam bidang Hadits, sikap para Orientalis tidak terlepas dari sikap dan pencitraan mereka terhadap Nabi Muhammad. Sebab, bagaimanapun pembicaraan tentang Hadits akan selalu berhubungan dengan Muhammad yang perkataan, perbuatan, dan persetujuannya melahirkan Hadits. Dalam konteks ini, pencitraan Muhammad di mata Orientalis dapat dipandang dari dua sisi. Satu sisi Muhammad dipandang sebagai Nabi dan Rasul yang telah membebaskan manusia dari kezaliman. Pandangan ini dikemukakan antara lain oleh De Boulavilliers dan Savary. Di sisi lain, Muhammad dipandang sebagai paganisme, penganut Kristen dan Yahudi yang murtad yang akan menghancurkan ajaran Kristen dan Yahudi, intelektual pintar yang memiliki imajinasi yang kuat dan pembohong, serta seorang tukang sihir yang berpenyakit ayan. Pandangan ini dikemukakan antara lain oleh D’Herbelot, Dante Alighieri, Washington Irving, Hamilton Gibb, Goldziher, dan Joseph Schacht.

Menurut M. Musthafa Azami, Orientalis yang pertama kali melakukan kajian hadits adalah Ignaz Goldziher, seorang Yahudi kelahiran Hongaria (1850-1920 M), melalui karyanya yang berjudul Muhamedanische Studies pada tahun 1980 yang berisi pandangannya tentang Hadits. Menurutnya, hadits merupakan refleksi yang mucul dari kecenderungan masyarakat arab pada awal perkembangan Islam yang kemudian terbentuk menjadi sesuatu yang terorganisir dengan rapi dan memiliki kekuatan hukum. Adapun Sunnah dipahami sebagai tradisi atau kebiasaan yang berlaku dalam komunitas muslim yang berkaitan dengan keagamaan atau hukum, baik setelah islam datang atau sebelumnya, yang berlangsung terus Goldziher, kata sunnah berasal dari istilah paganisme (mutsalah watsani) , yang kemudian diadopsi oleh Islam. Dalam pandangannya, istilah sunnah telah eksis sejak era Jahiliyah yang merujuk pada adat-istiadat orang arab warisan nenek moyang mereka.

Pendapat lain menyatakan bahwa Orientalis pertama yang mengkaji Hadits adalah Alois Sprenger. Dalam pendahuluan bukunya mengenai riwayat hidup dan ajaran Nabi Muhammad, dia mengklaim bahwa hadis merupakan kumpulan anekdot. Menurut Muir, dalam literatur hadits nabi nama nabi Muhammad sengaja dicatut untuk menutupi bermacam-macam kebohongan dan keganjilan. Terlepas dari kontroversi di atas, hal yang perlu diketahui adalah bahwa ternyata Goldziher telah berhasil menanamkan keraguan terhadap Orientalis hadits yang dilengkapi dengan studi-studi Ilmiah yang dilakukannya, sehingga karyanya dianggap sebagai “kitab suci” oleh para Orientalis sendiri. Namun demikian ada pula Orientalis yang memiliki pandangan yang lebih jernih dan bertentangan dengan kedua ilmuan di atas. Freccland Abbott, misalnya dalam bukunya Islam and Pakistan (1908) membagi substansi hadits menjadi tiga kelompok besar. (1) hadits yang menggambarkan kehidupan Nabi secara umum, (2) hadits yang dipermasalahkan karena hadits-hadits itu tidak konsisten dengan ucapan nabi, dan (3) hadits yang menceritakan wahyu yang diterima oleh Nabi.            

Dari penjelasan di atas, pendapat-pendapat Orientalis mengenai Hadits, secara umum terbagi ke dalam dua pendapat, ada yang sepemikiran dengan keumuman umat islam, ada juga yang justru bertolak belakang. Tapi bagaimanapun kerasnya pendapat dan kritikan dari Orientalis, mestilah umat islam tidak lantas bersumbu pendek sehingga membenci mereka, bahkan kritikan itu seyogianya bisa menjadi motivasi dan batu loncatan untuk mengembangkan lagi riset-riset, metode-metode, sehingga bisa mendudukan dan menjawab argumen-argumen dan kritikan-kritikan yang dilancarkan oleh Orientalis.

       

Baca Juga:  Apakah Semua Hadis Ada Asbab al-Wurudnya?

Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
1
Sedih
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Wow Wow
1
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
4
Suka
GUSMAIL