29.8 C
Jakarta

Habis Radikalisme Terbitlah Komunisme

Artikel Trending

Di antara quote inspiratif RA Kartini, yang sarat pesan optimisme, adalah ungkapan ‘Habis gelap terbitlah terang’. Peribahasa tersebut mengajarkan, bahwa, setelah penderitaan akan ada kebahagiaan, setelah penjajahan akan ada kemerdekaan, setelah kesulitan akan hadir kemudahan. Tetapi bagaimana, misalnya, jika habis yang buruk justru terbit yang sama buruknya?

Hari-hari ini, sebagaimana kebiasaan hari sebelumnya, di negeri yang konon agamis dan menjunjung tinggi keadilan ini, polemik selalu memenuhi sudut-sudut. Sosial media, media massa, tidak pernah kehabisan bahan pemberitaan. Permainan tagar tidak pernah berhenti: satu sisi mengkritik eksklusivisme keagamaan, sisi lainnya mengkritik sekularisasi kenegaraan.

Keagamaan dan kenegaraan selalu menjadi pembahasan serius, meski Nurcholish Madjid sudah meninggalkan jejak yang jelas tentang relasi keduanya. Khilafah ala HTI dianggap representasi keagamaan, muncullah tagar #KhilafahWillBeBack, #KhilafahMelindungiMuslim, dst. Sementara, komunis selalu dihantukan, muncullah tagar, yang saat ini trend di Twitter, #PDI_PerjuanganUntukKomunis, atau #MakzulkanJKWBubarkanPDIP.

Kalau dicermati serius, dari setiap tagar trending, ada dua jenis narasi yang dibangun. Pertama, indoktrinasi khilafah oleh para radikalis HTI dkk. Jenis ini pasti dilakukan oleh para aktivis khilafah itu sendiri, dengan tujuan memprovokasi umat dengan pemerintah. Kedua, menyudutkan pemerintah dan segala kebijakannya. Dua jenis ini bisa dibaca dari empat tagar yang ada di paragraf sebelumnya.

Maka, kita, atau barangkali hanya saya sendiri, curiga, jangan-jangan wacana komunisme itu juga berasal dari aktor yang sama. Jangan-jangan, tuduhan kebangkitan komunis hanya framing untuk menutupi agenda yang sebenarnya, yaitu membuat masyarakat tidak lagi percaya pemerintah. Sebab, apa yang ada di fakta RUU HIP dengan yang berkembang di masyarakat jauh sekali berbeda.

Tidak menutup kemungkinan bahwa wacana komunisme adalah agenda siluman para aktivis khilafah, sekalipun RUU HIP itu sendiri membuka pintu komunisme. Sebagaimana diulas terdahulu, kaum radikalis dan komunis kerapkali saling tuduh. Luka lama umat Islam oleh PKI menuai sensitivitas sehingga mereka mudah sekali digiring melalui wacana komunisme.

Duel: Radikalisme vs Komunisme

Yang paling mengkhawatirkan dari setiap isu-isu yang beredar kencang di negeri ini bukanlah isu itu an sich, melainkan perang wacana tentangnya. Dalam perang wacana, pelintiran kebencian menjadi senjata wajib, dan hoax menjadi tidak terhindarkan. Duel radikalisme dengan komunisme bukan sesuatu yang absurd, dan tidak ada yang bisa menyangkal perang antara keduanya.

Perseteruan Islamis dan nasionalis, dari dulu, selalu tentang kekuasaan atau tatanan kepemerintahan. Sementara kalangan menghendaki negara ini berdasarkan Islam, kalangan lainnya menyetarakan semua agama, bernaung di bawah pluralisme. Kaum Islamis menuduh mereka komunis-sekuler, sementara komunis menuduh balik sebagai Islam radikal.

Sama-sama ingin merebut pemerintahan. Bedanya, yang satu mengatasnamakan ketuhanan, yang lainnya mengatasnamakan kemanusiaan. Perseteruan tersebut berlangsung dalam waktu yang lama hingga datang pemikir pembaharu yang, seperti disinggung di awal barusan, mencari titik temu antara agama dan negara. Meski demikian, dalam tataran ideologi, masing-masing pihak, yang Islamis maupun nasionalis, tetaplah tidak seharmoni yang diharapkan.

BACA JUGA  Keulamaan Habib Rizieq di Tangan Premanisme FPI

Ketidakharmonisan tersebut, meski dengan persentase yang kecil sekali, dapat dirasakan hingga sekarang, bahkan mewujud partai. PKS menjadi representasi kalangan Islamis, sementara PDI-P representasi nasionalis. Di tengah keduanya ada yang berhaluan ideologi moderat, misalnya PKB.

Ini semua tidak hendak mengklasifikasi partai, tetapi isu-isu yang ada bahkan midah sekali dibaca pergerakannya: apakah itu ulah kalangan Islamis atau ulah nasionalis. Kalangan Islamis berorientasi radikal, berupaya menjadikan Indonesia didominasi Islam. Baik dengan proyek NKRI Bersyariah hingga cita-cita menegakkan sistem khilafah.

BACA JUGA  Keulamaan Habib Rizieq di Tangan Premanisme FPI

Di sisi lain, kalangan nasionalis juga bergerak. Salah satu gerakannya, menurut analisis reaksi umat Islam, adalah RUU HIP yang diusulkan PDI-P. Para petinggi PDI-P bersikukuh bahwa RUU tersebut memiliki nilai mulia, yang kemudian disikapi interuptif oleh ormas-ormas Islam. Kenapa bisa bersatu semuanya? Sebab ini menyangkut luka lama, yaitu kekejaman PKI kepada umat Islam.

Meski komunisme sudah tidak akan bangkit lagi, isu RUU HIP terus membesar. Ia menjadi masalah kedua setelah masalah radikalisme. Baik radikalisme maupun komunisme, keduanya sama-sama meracuni Indonesia.

Perlunya Jadi Netizen Cerdas

Menyikapi isu yang sedemikian kompleks, kunci satu-satunya, sebagai langkah antisipasi, adalah menjadi netizen yang cerdas. Cerdas dimaksud adalah berkomitmen untuk, jika tidak bisa memecahkan masalah, jangan merunyamkannya. Tidak terlibat menjadi bagian dari isu, dan bersikap objektif—tidak bertendensi kepada partisan manapun.

Itulah cara yang pertama, berusaha untuk tidak menggolongkan diri secara fanatis terhadap golongan tertentu. Bukan berarti juga harus tidak mengambil sikap, melainkan bersikap secara objektif. Isu radikalisme dan komunisme adalah isu yang sensitif, yang jika salah sikap, akan berdampak kepada agama dan negara itu sendiri.

Selanjutnya adalah tidak terprovokasi oleh media manapun. Hoax dan pelintiran kebencian tak terhitung jumlah, dan korbannya tidak hanya menimpa orang awam. Filterisasi informasi menjadi keniscayaan. Persoalan radikalisme bersinggungan dengan agama, dan persoalan komunisme bersinggungan dengan negara. Untuk menghindari gesekan, kehati-hatian adalah kuncinya.

Isu komunisme bisa jadi adalah lanjutan isu radikalisme, juga bisa jadi ulah kaum radikalis itu sendiri. ini juga sudah dijelaskan pada tulisan sebelumnya, bahwa ada tendensi untuk menutup agenda para kaum radikal melalui pengalihan isu. Mereka sok membela Pancasila melalui kritik RUU HIP, agar identitasnya tak diketahui. Masyarakat pun diupayakan terkecoh, sehingga tidak percaya mereka dikatakan radikal karena juga bersuara membela Pancasila. Padahal, palsu.

Sudah cukup negara kelelahan menghadapi radikalisme yang tak juga sirna. Tidak lagi perlu ditambah isu komunise. Lebih-lebih, ternyata keduanya memiliki aktor yang sama. Sama-sama ingin memorak-perandakan negara, atau sama-sama sampah untuk Indonesia. Habis radikalisme, habis juga komunisme. Habis sehabis-habisnya.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru