29 C
Jakarta

Habibie Muda, Gereja, dan Kesantunan Beragama

Artikel Trending

KhazanahOpiniHabibie Muda, Gereja, dan Kesantunan Beragama
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Suatu ketika, Rudy berjalan terseok-seok di tengah kota Aachen Jerman. Lelaki kelahiran Parepare tersebut baru saja berlari sekuat tenaga tanpa peduli arah jalan. Sebelumnya, di kampusnya di RWTH Aachen, ia baru saja membuat geram teman kuliahnya saat berdebat tentang sebuah hitungan Matematika. Alhasil, mahasiswa tersebut mengejarnya hingga Rudy berlari sekuat tenaga.

Di tengah keletihan usai berlari, Rudy melihat puncak menara sebuah gereja. Ia pun berjalan menuju ke sana. Sesampai di gereja tersebut, Rudy duduk di depan pintu gereja. Ada rindu yang membuncah di hatinya. Ia rindu kedamaian. Rudy rindu shalat. Dia juga merindukan suara ayahnya mengaji. Rudy menatap pintu indah gereja itu. Dia berdiri lalu berdoa dalam hati.

“Allah Swt… gedung ini dibuat oleh orang yang percaya kepada-Mu, mereka juga yakin kepada-Mu seperti saya yakin kepada-Mu. Namun, saya yakin bahwa orang itu, sebagaimana saya, menyadari bahwa hanya ada satu Tuhan. Bolehkah saya, dengan cara saya, masuk ke ruangan ini tanpa mengganggu yang lain? Memanjatkan doa untuk orangtua saya, saudara saya, dan banyak hal yang saya perlukan. Bolehkah?”

Setelah mengucapkan permohonan “izin” tersebut, Rudy masuk gereja. Ruangan gereja itu begitu indah. Lebih indah dari gereja saat dia bersekolah dulu. Sejak kecil, Rudy memang sudah akrab dengan sekolah Belanda, terbiasa dengan para romo yang mengajarkan pelajaran Agama Katolik. Rudy pun tak merasa risih sedikit pun memasuki gereja.

Bismillahirrahmanirrahim… Rudy mulai menjalankan ritual uniknya. Ia mengambil posisi duduk di deretan bangku paling belakang, kemudian melafalkan dengan lengkap seluruh bacaan-bacaan shalat. Dari takbir, hingga salam, shalat seperti biasanya. Namun, semua dilafalkan dengan sangat lirih, sehingga hanya bibirnya yang nampak bergerak. Hatinya berserah kepada Allah Swt.

Selesai shalat, Rudy berdoa. Dia memohon ampunan dan kasih kepada Allah Swt. Rudy pun tak kuasa menahan air mata yang mengalir di pipinya. Dia merasa begitu lelah. Dia berserah diri kepada Allah Swt. Setelah doanya selesai, energi dan semangat jiwanya bagai terisi kembali.

***

Di waktu yang  lain, kali ini saat sudah menempuh study S3; Rudy kembali terpuruk karena dokumen dan berkas-berkas penelitiannya dirampas oleh petugas dari Departemen Pertahanan Jerman Barat. Kebijakan politik NASAKOM dan anti-Barat Bung Karno di Indonesia membuat Rudy dianggap sebagai ancaman bagi kerahasiaan Jerman Barat.

Lagi-lagi, karena tak ada masjid di Aachen, gereja menjadi tempat Rudy mencari ketenangan di tengah kekalutan pikiran saat itu. Biasanya, Rudy menunggu sepi untuk shalat di gereja. Namun, hari itu pikirannya sedang begitu kacau, sehingga ia masuk gereja meski sedang ada misa.

Lonceng gereja dibunyikan pertanda misa segera dimulai. Orang-orang di dalam gereja berdiri menyambut perarakan, tapi Rudy tetap duduk dengan khidmat di pojok belakang. Saat semua kembali duduk, Rudy mulai berdoa dalam hati. Namun, bacaan Rudy terhenti sesaat ketika melihat siapa yang berkhotbah di depan altar.

Di sana, Rudy melihat seorang mahasiswa arsitektur yang baru datang dari Indonesia pada 1960, sekitar setahun sebelumnya. Rudy cukup mengenal wajah tersebut. Usianya tujuh tahun lebih tua darinya. Lelaki itu akrab dipanggil Romo. Dialah Romo Mangun. Dengan berwibawa, ia memimpin ibadah misa hingga selesai.

Rudy penasaran, kenapa laki-laki itu bisa berkhotbah di depan, padahal ia bisa dibilang “anak baru”. Bagaimana bisa orang Indonesia disuruh memimpin ibadah untuk umat di Jerman?

BACA JUGA  Menilik Jama’ah Tabligh, Konsep Jihad, dan Eksistensinya di Nusantara

Romo Mangun tersenyum saja melihat Rudy shalat di pojok belakang gereja. Selesai ibadah, Romo Mangun menemui Rudy di belakang gereja.

“Lho, Mas Romo. Kok tadi kamu di depan dan sekarang di sini?” tanya Rudy.

Romo Mangun hanya tertawa. “Ada juga saya yang tanya, Rud. Mengapa kamu shalat di sini?”

“Sebelum Mas Romo ke sini, saya juga sering shalat di sini. Aku menumpang saja, Mas. Aku butuh kedamaian Allah. Di sini, kan, tidak ada masjid,” jelas Rudy.

“Rudy.. Rudy.. seandainya satu dunia ini sepertimu,” Romo Mangun tersenyum.

Rudy menerka-nerka maksud perkataan Romo Mangun. “Seperti saya? Tukang ngotot maksudnya?” Rudy bertanya, dengan nada bercanda.

“Bukan, tetapi orang yang selalu yakin kalau Tuhan adalah yang Maha Pengasih. Apa yang dibuatnya, segala cobaannya, segala perbedaan di bumi, adalah bentuk cinta-Nya,” kata Romo Mangun. “Senang sekali melihat kamu nyaman berdoa di gereja dengan caramu sendiri. Ini justru bukti keimananmu tak mudah goyah, Rud”

Habibie dan Gereja

Cerita di atas adalah potongan-potongan kisah masa-masa muda B.J. Habibie saat menjalani studi di Aachen, yang digambarkan dalam buku Rudy; Kisah Masa Muda Sang Visioner (Bentang Pustaka: 2015) karya Gina S. Noer.

Dari kisah tersebut, kita melihat bagaimana “kenekatan” sekaligus keyakinan Habibie muda atau Rudy, bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Pengasih. Kondisi di Aachen saat itu yang masih belum ada masjid membuat kita maklum jika Rudy menjadikan gereja sebagai tempat untuk bisa mendapatkan kedamaian.

Meski di gereja, ia memohon izin kepada Allah Swt. untuk memanjatkan doa dan beribadah di tempat tersebut dengan caranya sendiri sebagai seorang muslim. Tentu sikap tersebut hanya dimiliki oleh orang yang memiliki keyakinan kuat bahwa Allah Swt. Akan tetapi menerima doanya di mana pun doa tersebut dipanjatkan, asalnya didasari hati yang suci dan kepasrahan. Gereja dan aktivitas ibadah misa di dalamnya tak membuat Rudy terusik, sebab ia sadar bahwa ia justru sedang “numpang” untuk mencari kedamaian:  …Aku menumpang saja, Mas. Aku butuh kedamaian Allah…

Meski begitu, Rudy tetap menjaga dan menghormati gereja tersebut sebagai tempat ibadah umat agama lain. Simak petikan doa Rudy: …Bolehkah saya, dengan cara saya, masuk ke ruangan ini tanpa mengganggu yang lain? Dari kalimat tersebut, terkandung kesadaran menghormati umat beragama lain yang “memiliki” gereja tersebut sebagai tempat ibadah. Ungkapan tersebut juga mencerminkan kesantunan Rudy dalam menjalin hubungan antarumat beragama.

Kisah tersebut adalah satu dari begitu banyak kisah inspiratif B.J. Habibie sepanjang hidupnya. Kisah B.J. Habibie tak hanya tentang kejeniusan atau kegemilangan beliau sebagai ilmuan dan teknokrat, atau terobosan-terobosan penting saat memimpin bangsa ini. Sebagai seorang ilmuan yang dikenal tak sekadar menekankan pentingnya penguasaan IPTEK, namun juga iman serta ketakwaan, B.J. Habibie punya kisah-kisah inspiratif yang memancarkan kearifan, kesantunan, dan keramahan beliau dalam beragama.

Pada 11 September 2019, Presiden Republik Indonesia ke-3 tersebut sudah pergi meninggalkan kita semua. Bapak Demokrasi sekaligus Bapak Teknologi tersebut pergi meninggalkan senyum ramah dan optimisme yang akan selalu dikenang seluruh bangsa Indonesia.

Al Mahfud
Penikmat buku, penulis lepas, Aktif menulis topik-topik radikalisme-terorisme, Alumni IAIN Kudus.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru