30.3 C
Jakarta

Habib Rizieq Shihab, Perang Terminologi, dan Strategi Terorisme di Indonesia

Artikel Trending

Milenial IslamHabib Rizieq Shihab, Perang Terminologi, dan Strategi Terorisme di Indonesia
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Habib Rizieq Shihab kembali manggung dalam kegiatan dakwahnya usai bebas dari jeruji besi beberapa bulan yang lalu. Seperti biasanya, Habib Rizieq masih tetap seperti kebiasaannya dalam berceramah: berorator dan menggunakan bahasa yang tertata dengan ungkapan yang nyelkit. Di ceramahnya ini, ia mengajukan ungkapan-ungkapan provokatif untuk para jemaahnya.

Dalam ceramahnya yang terakhir, eks Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu menjelaskan tentang bahaya perang terminologi atau perang istilah. Menurutnya, di Indonesia saat ini terjadi fenomena di mana perbuatan yang salah malah diberikan istilah yang diperhalus. Sementara, perbuatan yang baik malah diberikan cap-cap yang buruk.

Memantik Bara Api

Perkataan-perkataan tersebut kemudian memantik api bagi jemaahnya. Memang sebagiannya betul, ada beberapa istilah yang dialamatkan dengan salah dan gegabah. Tapi, tidak semua hal-hal yang salah juga dijadikan sebagai pistol tembak atau “tanda” dari perihal tersebut.

Seperti yang dicontohkan Habib Rizieq. Ulama atau habib kerap diberikan cap negatif atau istilah jelek meski tiap harinya melakukan pekerjaan yang mulia. Menurut Habib Rizieq, hal itulah yang menjadikan kita sampai sekarang perang narasi dan terminilogi dan terus digelorakan.

“Ini namanya perang terminologi, saya minta kepada anda untuk jangan memberikan istilah-istilah yang bagus buat kejahatan. Jadi kalau ada koruptor, kadang-kadang istilah ‘koruptor’ nggak bikin orang jera saat ditangkap, sudah pakai baju oranye justru senyum, nggak ada beban difoto sebagai koruptor. Kata koruptor nggak bikin mereka jera, cari kalimat yang bikin mereka jera umpamanya ‘rampok uang rakyat’, ‘rampok negara’, ‘begal ekonomi’. Nah itu kalau dikasih istilah yang begitu nanti orang jera, orang malu,” kata Habib Rizieq dalam video yang diunggah di Islamic Brotherhood TV.

Menghindari Masalah

Sayangnya, perbandingan Habib Rizieq kurang tepat. Apa hubungannya cap negatif ulama dengan para koruptor? Lalu siapa yang memberi cap negatif tersebut? Dan siapa ulama-ulama yang dicap tersebut? Dan apakah itu ulama, yang benar-benar ulama? Pun kalua benar, berapa ulama Indonesia yang dicap negatif, sementara ulama alim di Indonesia sangat banyak–bahkan hingga sampai saat ini—tidak terdengar mereka ditangkap dalam kasus apa pun?

BACA JUGA  Maulid Nabi, Momentum Anti-Radikalisme, dan Tuduhan Keji Kaum Ekstremis

Jika ulama-habib atau yang mengaku ulama-habib, tapi kemudian pernah dan bahkan benar-benar melakukan tindak pidana, bukan salahnya orang lain juga untuk mengatakan ini dan itu. Termasuk jika ulama-habib melakukan kriminalitas, jika ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara, bukan salahnya hukum (hukum yang bekerja). Tapi memang salahnya ulama-habib ini yang perilakunya tidak benar dan minta ditukangi.

Bahkan klaim atau perang termenelogi yang berkabung selama ini, seperti kriminalitas ulama dan lain-lain, adalah buatan mereka sendiri. Buat apa? Untuk menutupi kesalahan-kesalahannya. Bisa saja hal tersebut untuk menghilangkan jejak, menghilangkan kriminalitasnya, dan dengan demikian orang merasa simpati dan empati kepadanya. Kalau kita analisis secara cepat-cepat, seperti itulah cara kerja mereka atau strategi mereka.

Strategi Bersuci Diri

Dan jangan heran bila besok dan entah kapan, terminologi tersebut dijadikan sebagai temeng untuk menutupi kerling mata ulama-habib dan kebejatan ulama-habib yang tetap setia di jalan kriminalitas atas nama agama. Karena, agama seringkali dijadikan sebagai tembok penangkal segala tuduhan kebejatan, meski memang benar-benar terbukti.

“Kadang dai/ulama capek umat diajarin berkali-kali tetap saja pakai yang alus-alus, jangan! Karena mereka orang-orang jahat menjuluki ulama-ulama kita dengan julukan yang jelek-jelek ulama kita disebut teroris, ekstremis, radikalis. Istilah yang gak bagus (seperti) pemecah belah bangsa, intoleran,” sebut Habib Rizieq.

Di situ juga masalahnya. Kalau memang ulama tidak mengajak ke perbuatan yang jelek dan ekstremis, radikalis bahkan teroris, tidak mungkin manusia Indonesia mau mengucapkannya. Kalau memang tidak ada ulama yang mengajak kepada jalan radikalisme, juga tidak mungkin kata radikalisme muncul di Indonesia. Sebab ada itulah, maka kemudian bahasa tersebut disematkan.

Strategi tersebut juga sudah lama dilakukan oleh pelaku terror di Indonesia. Karena, strategi tersebut sangat berguna bagi mereka untuk mengajarkan bahwa hanya modal kontra Bahasa, mereka dapat menipu umat. Dan jejak perbuatan terornya tertutupi oleh bahasa-bahasa agama itu.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru