26.6 C
Jakarta

Gus Miftah dan Keterbukaan dalam Beragama

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Sebagai pendakwah, Gus Miftah konsisten menghadirkan dakwah yang santun, sehingga pesan-pesan dakwahnya mudah diterima oleh semua kalangan, tak terkecuali orang-orang yang baru mengenal Islam. Dakwah yang santun itu sedikit banyak mencolek dakwah kekerasan yang dilakukan oleh organisasi Front Pembela Islam (FPI) yang biasanya sulit berdamai dengan budaya yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia.

Gus Miftah melihat Islam itu sangat terbuka terhadap perbedaan. Gus Miftah bertanya: Apakah yang berbuat baik itu hanya orang Islam? Apakah orang non-Islam tidak bisa berbuat baik? Tidak benar kebaikan itu hanya milik dan dilakukan oleh orang Islam, melainkan pula orang di luar Islam. Tidak perlu mempersoalkan diterima atau tidak perbuatan orang di luar Islam. Tugas manusia itu hanya berbuat. Soal diterima atau tidak itu bukan urusan kita, tapi urusan Tuhan, manusia itu hanya berusaha.

Suatu ketika Nabi Musa mencari Tuhan. Sayang, Nabi Musa hanya ketemu orang miskin. Lalu, Tuhan berkata, “Musa, saya bersama orang miskin.” Tuhan tidak menyebutkan agama orang itu. Maksudnya, Tuhan tidak mempedulikan agamanya apa itu untuk berperilaku baik.

Selain itu, Islam terbuka terhadap budaya yang berkembang di tengah masyarakat. Tidak heran bila Gus Miftah menghadirkan dakwahnya dengan moto bukan mengagamakan budaya, tapi membudayakan agama. Soal menutup aurat di Indonesia dan di Arab itu berbeda. Di Indonesia aurat itu menemukan sikapnya, semisal, seorang penarik becak yang tidak harus pakai serban untuk mencari rezeki menyusuri perjalanan.

Tidak perlu mengkotak-kotakkan muslim dan non-muslim. Karena, agama itu tidak kaku. Agama itu terbuka terhadap perbedaan, termasuk perbedaan keyakinan. Islam sendiri tidak mempersoalkan bentuk, tapi lebih memfokuskan pada esensi. Esensinya paham monoteistik. Terserah, paham ini diimplementasikan dalam bentuk ibadah di masjid atau di luar masjid, bahkan masjid modelnya pun tidak perlu dipersoalkan.

Islam, bagi Gus Miftah, tidak mempersoalkan bahan yang dijadikan bangunan untuk masjid seperti keramik, kaca, dan lain-lain. Padahal, ada kemungkinan yang memproduksi bahan tersebut adalah orang non-muslim, bahkan pekerjanya pun bisa jadi non-muslim. Terus, apakah tidak boleh menggunakan bahan itu untuk tempat ibadah orang Islam? Jelas, agama memperbolehkan apapun itu dan siapapun yang memproduksi.

Indonesia itu adalah kamar besar yang di dalamnya berisi enam kamar: ada kamar Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha, dan Konghuchu. Perbedaan agama ini tidak perlu dipersoalkan, kendati di Indonesia terdapat kelompok tertentu yang mempersoalkan agama di luar Islam. Sebut saja, Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), terorisme, dan lain-lain.

Mempersoalkan agama sesungguhnya adalah sikap orang yang picik. Mereka picik melihat kebenaran yang memiliki cakupan yang sangat luas. Tidak perlu lagi, semisal, mempersoalkan ucapan Selamat Natal kepada orang Kristen selagi tidak mengubah keyakinan yang tertanam kuat dalam hati. Bahkan, Gus Miftah sendiri selalu mendapat ucapan selamat Hari Raya Idhul Fitri dari tetangga dekatnya yang beragama Nasrani, sehingga sikap baik mereka mendorong Gus Miftah mengucapkan Selamat Natal pada saat mereka merayakannya.

Orang-orang yang suka menghakimi dan menyalahkan orang lain dalam persoalan agama sesungguhnya itu bukan tindakan yang dibenarkan oleh agama sendiri. Agama tidak mengajarkan pemeluknya melakukan tindakan yang amoral. Biasanya orang semacam ini menjadikan agama sebagai jembatan untuk meraih kepentingan yang bersifat sesaat: kekuasaan di tengah pesta politik. FPI yang menggunakan jubah pasti tidak sepenuhnya murni kepentingan agama. Di sana FPI terjebak dalam ranjang kenikmatan politik.

Seharusnya, agama dihadirkan dalam berpolitik untuk menjadi tameng agar tidak melakukan tindakan yang amoral, bukan malah memanfaatkan agama untuk meraih kekuasaan. Agama yang sifatnya sakral anti kepentingan akan menjadi sesuatu yang tidak berdaya guna saat dihadirkan di tengah kepentingan yang berbau politik. Sehingga, karena tindakan pemeluknya yang cereboh dalam beragama, timbul kasak-kusuk “Islam itu agama yang memecah belah”. Naudzu billah![] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini diolah dari gagasan Gus Miftah yang disampaikan di channel YouTube Deddy Corbuzier

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Teroris MIT dan Polusi Akhlak

Bangkitnya MIT menghentak kita. Publik kembali dikagetkan dengan aksi pembantaian keji kepada satu keluarga yang dilakukan oleh Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora,...

Hizbullah Tuntut Pembunuhan Fakhrizadeh

Harakatuna.com. Bairut - Hizbullah mengecam keras pembunuhan Fakhrizadeh, fisikawan nuklir dan kepala pusat inovasi Kementerian Pertahanan Iran. Hizbullah menyebutnya sebagai serangan teroris. "Hizbullah mengecam keras serangan teroris...

Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Mengampanyekan Terorisme Bermodus Jihad

Beberapa hari yang lalu sekitar enam rumah di kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah diserang oleh orang tak dikenal (OTK). Beberapa media menyebutkan, orang tersebut adalah...

Ulama Harus Membawa Kedamaian dan Kerukunan Bagi Umat

Harakatuna.com. Jakarta - Tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia lahir dari peran penting para ulama. Ulama adalah teladan tidak hanya dalam aspek keagamaan,...

Tidak Dikatakan Beriman, Orang Yang Suka Mencaci Maki

Sekarang ini keadaan ruang publik kita bisa dikhawatirkan mencemaskan, kalau tidak ingin dikatakan darurat. Bagaimana tidak sekarang ujaran kebencian, saling mencaci terjadi dimana-mana mengisi...

Akademisi IAIN Palu, Lukman Thahir Sebut Pembunuh di Sigi Cari Perhatian Asing

Harakatuna.com. Palu-Akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, Dr Lukman S Thahir, berpandangan  aksi pembunuhan empat warga Sigi yang dilakukan oleh...

Habib Rizieq dan Peta Politik Islam Mendatang

Pada tanggal 10 November lalu Habib Rizieq Syihab (HRS) telah pulang ke tanah air. Kedatangannya disambut seperti pahlawan. Ribuan bahkan jutaan orang berkumpul di...