26.6 C
Jakarta

Gus Miftah dan Keterbukaan dalam Beragama

Artikel Trending

Sebagai pendakwah, Gus Miftah konsisten menghadirkan dakwah yang santun, sehingga pesan-pesan dakwahnya mudah diterima oleh semua kalangan, tak terkecuali orang-orang yang baru mengenal Islam. Dakwah yang santun itu sedikit banyak mencolek dakwah kekerasan yang dilakukan oleh organisasi Front Pembela Islam (FPI) yang biasanya sulit berdamai dengan budaya yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia.

Gus Miftah melihat Islam itu sangat terbuka terhadap perbedaan. Gus Miftah bertanya: Apakah yang berbuat baik itu hanya orang Islam? Apakah orang non-Islam tidak bisa berbuat baik? Tidak benar kebaikan itu hanya milik dan dilakukan oleh orang Islam, melainkan pula orang di luar Islam. Tidak perlu mempersoalkan diterima atau tidak perbuatan orang di luar Islam. Tugas manusia itu hanya berbuat. Soal diterima atau tidak itu bukan urusan kita, tapi urusan Tuhan, manusia itu hanya berusaha.

Suatu ketika Nabi Musa mencari Tuhan. Sayang, Nabi Musa hanya ketemu orang miskin. Lalu, Tuhan berkata, “Musa, saya bersama orang miskin.” Tuhan tidak menyebutkan agama orang itu. Maksudnya, Tuhan tidak mempedulikan agamanya apa itu untuk berperilaku baik.

Selain itu, Islam terbuka terhadap budaya yang berkembang di tengah masyarakat. Tidak heran bila Gus Miftah menghadirkan dakwahnya dengan moto bukan mengagamakan budaya, tapi membudayakan agama. Soal menutup aurat di Indonesia dan di Arab itu berbeda. Di Indonesia aurat itu menemukan sikapnya, semisal, seorang penarik becak yang tidak harus pakai serban untuk mencari rezeki menyusuri perjalanan.

Tidak perlu mengkotak-kotakkan muslim dan non-muslim. Karena, agama itu tidak kaku. Agama itu terbuka terhadap perbedaan, termasuk perbedaan keyakinan. Islam sendiri tidak mempersoalkan bentuk, tapi lebih memfokuskan pada esensi. Esensinya paham monoteistik. Terserah, paham ini diimplementasikan dalam bentuk ibadah di masjid atau di luar masjid, bahkan masjid modelnya pun tidak perlu dipersoalkan.

Islam, bagi Gus Miftah, tidak mempersoalkan bahan yang dijadikan bangunan untuk masjid seperti keramik, kaca, dan lain-lain. Padahal, ada kemungkinan yang memproduksi bahan tersebut adalah orang non-muslim, bahkan pekerjanya pun bisa jadi non-muslim. Terus, apakah tidak boleh menggunakan bahan itu untuk tempat ibadah orang Islam? Jelas, agama memperbolehkan apapun itu dan siapapun yang memproduksi.

BACA JUGA  Gus Nur Bukan Ustadz, Tapi Provokator

Indonesia itu adalah kamar besar yang di dalamnya berisi enam kamar: ada kamar Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha, dan Konghuchu. Perbedaan agama ini tidak perlu dipersoalkan, kendati di Indonesia terdapat kelompok tertentu yang mempersoalkan agama di luar Islam. Sebut saja, Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), terorisme, dan lain-lain.

Mempersoalkan agama sesungguhnya adalah sikap orang yang picik. Mereka picik melihat kebenaran yang memiliki cakupan yang sangat luas. Tidak perlu lagi, semisal, mempersoalkan ucapan Selamat Natal kepada orang Kristen selagi tidak mengubah keyakinan yang tertanam kuat dalam hati. Bahkan, Gus Miftah sendiri selalu mendapat ucapan selamat Hari Raya Idhul Fitri dari tetangga dekatnya yang beragama Nasrani, sehingga sikap baik mereka mendorong Gus Miftah mengucapkan Selamat Natal pada saat mereka merayakannya.

BACA JUGA  Serial Kebangsaan (V): Cinta Tanah Air Melahirkan Spirit Kebangsaan

Orang-orang yang suka menghakimi dan menyalahkan orang lain dalam persoalan agama sesungguhnya itu bukan tindakan yang dibenarkan oleh agama sendiri. Agama tidak mengajarkan pemeluknya melakukan tindakan yang amoral. Biasanya orang semacam ini menjadikan agama sebagai jembatan untuk meraih kepentingan yang bersifat sesaat: kekuasaan di tengah pesta politik. FPI yang menggunakan jubah pasti tidak sepenuhnya murni kepentingan agama. Di sana FPI terjebak dalam ranjang kenikmatan politik.

Seharusnya, agama dihadirkan dalam berpolitik untuk menjadi tameng agar tidak melakukan tindakan yang amoral, bukan malah memanfaatkan agama untuk meraih kekuasaan. Agama yang sifatnya sakral anti kepentingan akan menjadi sesuatu yang tidak berdaya guna saat dihadirkan di tengah kepentingan yang berbau politik. Sehingga, karena tindakan pemeluknya yang cereboh dalam beragama, timbul kasak-kusuk “Islam itu agama yang memecah belah”. Naudzu billah![] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini diolah dari gagasan Gus Miftah yang disampaikan di channel YouTube Deddy Corbuzier

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru