31.7 C
Jakarta

Gus Dur Tentang Keterlibatan FPI Pada Aksi Terorisme

Artikel Trending

KhazanahTelaahGus Dur Tentang Keterlibatan FPI Pada Aksi Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Isu aksi terorisme kembali mencuat dan kembali ramai tatkala terjadinya pengeboman di Gereja Katedral Makassar pada 28/03/21 lalu. fakta tersebut disusul dengan adanya penangkapan yang diduga teroris, hingga baru-baru ini (31/03/21), pelaku aksi terorisme di Mabes Polri berhasil ditembak mati oleh pihak kepolisian.

Tanpa melihat latar belakang kelompok dari mana berasal pelaku aksi terorisme tersebut, ada hal yang perlu disoroti secara mendalam berkenaan dengan keterkaitan FPI dalam berbagai aksi terorisme yang terjadi. Mulai dari ditemukannya atribut FPI, ada yang menjadi donatur perakitan bom. Hingga keterlibatan para laskar FPI dalam aksi-aksi terorisme yang ada.

Ini penting untuk dibahas sebagai upaya untuk mengetahui langkah preventif yang bisa dilakukan dengan melihat sosok siapa saja kelompok-kelompok yang jadi perusuh dan di mana rahim terciptanya benih-benih aksi terorisme. Temuan ini mengindikasikan bahwa FPI menjadi rahim lahirnya pelaku aksi terorisme dan menjadin pukulan telak dengan berbagai fakta yang ada.

Kenyataan ini juga mengharuskan kita lebih tegas untuk memberantas kelompok-kelompok FPI tanpa diganggu gugat!

Respons Gus Dur atas Sikap Rizieq Shihab

Dalam buku “Islamku, Islam Anda dan Islam Kita” yang diterbitkan pada tahun 2006, ada bagian menarik yang bisa dipahami melalui judul “Kepala Sama Berbulu, Pendapat Berlain-lain”, dalam tulisan tersebut Gusdur menyinggung Habib Rizieq yang ditangkap oleh Polda Metrojaya.  Penangkapan tersebut sangat tidak sesuai dengan prosedur dan cacat hukum serta ilegal, menurutnya.

Singkat cerita, ia menyuruh pengacara untuk berunding atas kejadian tersebut, dan diperoleh keputusan bahwa Habib Rizieq menjadi tahanan rumah. Begitulah cerita Habib Rizieq dalam tulisa Gus Dur yang tidak pernah salah dimata hukum, ia selalu memperoleh perlindungan atas hukuman itu sendiri.

Pada kenyatannya, Habib Rizieq memiliki pandangan yang pada kenyataannya sangat jauh dari negara dan hukum yang di Indonesia, akan tetapi ia selalu bisa menjaga dirinya dari tindakan apapun. Bisa jadi ia melanggar aturan hukum, justru hukum itulah yang melindungi dirinya sendiri.

“Sebagai seorang penduduk biasa, Habib Rizieq memperoleh perlindungan politik dari tindakan apapun, walaupun secara politik pula ia sering menganggu hak-hak war­ga negara yang lain, seperti ketika ia memerintahkan sweeping”.

Dapat dipahami bahwa dalam tulisan tersebut, Habib Rizieq tidak pernah kehabisan cara dalam merespons berbagai aksi-aski yang dilakukan dengan tidak menyerahkan diri atas perilaku yang dilakukan. Tidak hanya itu, narasi “sebagai orang biasa” mungkin bisa diubah dengan pemaknaan terhadap konteks masa kini, bahwa pada kenyataannya Habib Rizieq pada saat ini bukanlah rakyat biasa.

BACA JUGA  Penguatan Identitas Muslimah: Pola Gerakan Perempuan dalam Terorisme

FPI dan Sinyal Aksi Terorisme

Dia memiliki power lebih, ceramahnya melebihi para ulama yang memiliki kadar kualitas keilmuan dan kebangsaan yang jelas berseberangan dengan apa yang dilakukan. Dia melebihi influencer yang seharusnya memberikan kampanye damai, akan tetapi sebaliknya. Dia melebihi napi koruptor yang disambut secara hangat pada saat menjalani proses sidang. Justru, Habib Riziq melebih Justien Biebier yang kedatangannya dari Arab dipenuhi oleh sambutan luar biasa dari para pendukungnya. Luar biasa bukan?

Berbagai strategi licik selalu digencarkan olehnya, kelompoknya dan para pengikutnya agar sosok Habib ini tidak salah dimata hukum. Gusdur memiliki pandangan jauh ke depan dari apa yang tidak dipahami oleh kebanyakan orang. Melalui tulisan tersebut, kita bisa melihat bagaimana sikap reaktif yang diberikan oleh Habib Rizieq dan para pengikutnya saat ditetapkan untuk melaksanakan persidangan secara virtual. Namun, lagi-lagi kita justru terkecoh dengan sikap reaktif yang digencarkan oleh Habib Rizieq tersebut.

Belum selesai dengan sikap reaktif yang diberikan, hingga dalil-dalil disampaikan. Sikap reaktif juga digencarkan oleh pengacara, mantan jajaran pengurus FPI hingga massa pendukung Habib Rizieq. Belum selesai dengan persidangan yang dilakukan. muncul lagi kenyataan akan keterlibatan FPI dalam aksi terorisme yang terjadi beberapa waktu terakhir ini.

Kenyataan ini justru dibantah telak oleh kelompok FPI dengan dalih semacamnya. Bahkan yang dikeluarkan justru dalil Al-Qur’an dan hadis. Ini menambah kefanatikan para pengikut FPI yang minim literasi agama semakin menghamba terhadap FPI.

Kita perlu belajar banyak dari pandangan Gusdur soal aksi terorisme, dan keterlibatan FPI yang sudah diprediksi jauh dari apa yang dibayangkan oleh banyak orang. Wallahu a’lam.

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru