27.8 C
Jakarta

Gerak-gerak Eksploitatif Radikalisme di Indonesia

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuGerak-gerak Eksploitatif Radikalisme di Indonesia
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF
Judul Buku: Islam dan Radikalisme di Indonesia, Penulis: Afadlal, Awani Irewati, Dhuroruduin Mashad, dkk, Penerbit: LIPI Press, Anggota IKAPI, Editor: Penyelaras Kata: Endang Turmudi, Riza Sihbudi, Desain Cover: Rahmatika Creative Design, Jumlah Halaman : xiv + 317 hlm.

Covid-19 masih melanda dunia termasuk negeri kita ini. Isu radikalisme dan terorisme  telah menjadi perbincangan serius di kalangan masyarakat bukan hanya negeri ini juga seluruh negara di dunia. Hal ini karena eksistensinya yang dapat menyerang siapa saja dan di mana saja tanpa mengenal waktu.

Saat ini hampir seluruh kasus berbau radikalisme dan terorisme yang terjadi di berbagai belahan dunia selalu mengatasnamakan jihad. Di antara kalangan yang gencar jadi target label radikalisme dan sejenisnya adalah umat Islam. Kabarnya banyak umat Islam yang bergabung ke kelompok teroris dengan “iming-iming” jihad, namun jihad yang mereka lakukan lebih menjurus ke arah terorisme.

Fenomena ini tentunya masih adanya umat Islam yang berpikir bahwa dengan melakukan tindakan yang menurut mereka adalah jihad akan mengantar mereka kepada kehidupan yang lebih baik di surga.

Merespons hal tersebut sangat layak kita mengisi hari dengan membaca bukuIslam dan Radikalisme di Indonesia“. Di era milenial ini, yakni era keterbukaan dan kebebasan sekarang ini telah muncul berbagai gerakan-gerakan Islam yang cukup radikal. Disebut radikal karena para pengikutnya terkadang melakukan aksi-aksi yang melanggar ukuran normal atau sangat keras dan kasar.

Kasus-kasus seperti ini tentunya sangat sering kita jumpai secara nyata maupun dalam media massa. Aksi-aksi gerakan radikal tersebut misalnya mereka mendatangi tempat-tempat hiburan dan kemudian merusak atau mengobrak-abriknya karena dianggap sebagai pusat maksiat.

Salah satu fakta menunjukkan bahwa jihad dalam konteks radikalisme yang mereka lakukan adalah adalah membunuh saudaranya sendiri. Membunuh orang lain, juga melakukan bom bunuh diri untuk kepentingan mereka sendiri.

Tidak dapat kita pungkiri,  teror sering teridentikkan fundamentalisme. Utamanya fundamentalisme Islam, artinya agama Islam diposisikan sebagai terdakwa yang ajaran-ajarannya membenarkan dan menghalalkan kekerasan sebagai tajuk atau wujud perjuangan.

Sebagai fenomena teks keagamaan, kata “jihad” seringkali dipahami oleh kelompok eksklusif sebagai suatu tindakan yang lekat dengan kekerasan. Dalam kaitannya dengan hal ini maka asumsi komunitas keagamaan eksklusif menyebut tidak sepenuhnya salah bila terorisme identik dengan Islam.

BACA JUGA  Merubuhkan Eksistensi Terorisme dengan Nilai Kultural

Hal demikian ini didukung dalil yang menyebutkan bahwa sesungguhnya setiap agama sangat potensial memunculkan fundamentalisme yang kemudian berkembang menjadi terorisme bila agama dianut secara eksklusif-tekstualistik dan intoleran dalam menyikapi realitas yang timpang.

Era milenial saat ini, problematika radikalisme Islam membesar karena pendukungnya juga semakin meningkat. Tetapi antargerakan Islam radikal ini terkadang juga mempunyai tujuan yang berbeda. Ada yang hanya sekadar memperjuangkan implementasi syariat Islam tanpa harus keharusan mendirikan ”Negara Syariat” atau slogan sejenis lainnya.

Di Indomesia sendiri telah banyak bermunculan gerakan Islam radikal seperti HTI dan lainnya. Namun antara masing-masing organisasi radikal tersebut mempunyai pola organisasi masing-masing mulai dari gerakan moral ideologi seperti MMI dan HTI sampai kepada gaya militer. Meskipun mempunyai pola organisasi beragam, umumnya mereka mempunyai persamaan dalam satu hal yaitu menghendaki penerapan syariat di bumi Nusantara ini.

Munculnya gerakan Islam radikal tersebut merupakan reaksi atas maraknya kemaksiatan dan premanisme yang makin terjangkau oleh hukum. Kita harus mengakui bahwa sebenarnya terdapat dua konsep penting tiap-tiap agama yang biasanya memengaruhi pola pikir para pemeluknya.

Serta mempengaruhi dalam berhubungan di antara mereka, yakni: fanatisme dan toleransi. Era milenial dewasa ini masyarakat yang mengalami sekularisasi, dedikasi moral dan krisis kepemimpinan, sehingga memantapkan niat bahwa solusi dari problem tersebut adalah Islam. Di antara indikator lahirnya radikalisasi yang tumbuh di kalangan Muslim adalah efek domino dari kebrobokan sistem sosial masyarakat yang tidak lagi mengindahkan peraturan agama.

Karenanya, mereka yakin Islam mampu menyelesaikan semua problem masyarakat sehingga Indonesia harus menjadi negara Islam. Pemahaman sebagian Muslim dengan doktrin agama yang sangat kaku, dengan seruan kembali ke masa klasik yakni Islam secara kaffah.

Sikap liberal yang memahami teks berkesesuaian atau sama dengan perilaku Nabi membuat Islam sebagai agama kontekstual. Jihad fi sabilillah sebagai salah satu seruan yang mereka dengungkan. Faktanya, mereka telah melenceng dari konteks hukum dan mengeksploitasi ajaran agama Islam itu sendiri.

Tgk. Helmi Abu Bakar El-Lamkawi
Tgk. Helmi Abu Bakar El-Lamkawi
Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga, Bireuen dan Ketua PC Ansor Pidie Jaya, Aceh.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru