27.3 C
Jakarta

Generasi Z Darurat Teror, Bisakah Moderasi Beragama Jadi Solusi?

Artikel Trending

KhazanahOpiniGenerasi Z Darurat Teror, Bisakah Moderasi Beragama Jadi Solusi?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah moderasi agama yang digaungkan oleh banyak orang dari berbagai kalangan, baik dari kalangan akademik, politik bahkan para agamawan, yang ditujukan untuk para muda-mudi, khususnya yang saat ini masuk dalam kategori generasi Z. Sebenarnya apa moderasi beragama itu? Apa urgensi dari moderasi beragama sendiri? Khususnya jika dikaitkan dengan masa kini dan dalam ruang lingkup bangsa Indonesia, dan mengapa harus generasi Z yang menjadi sasaran utama?

Moderasi beragama berasal dari dua kata yaitu “Moderat” dan “Agama”. Mari kita cari tau satu persatu makna dari kata-kata tersebut. Moderat merupakan sebuah kata sifat, yang merupakan turunan dari kata moderation dalam bahasa Inggris, yang berarti sedang atau tidak berlebih-lebihan.

Kata moderasi sendiri berasal dari bahasa Latin moderatio, yang memiliki arti ke-sedangan-an, tidak kelebihan, dan tidak kekurangan, atau dalam kata lain berarti seimbang. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kata moderasi didefinisikan sebagai pengurangan kekerasan atau penghindaran keekstreman.

Maka, jika kata moderasi disandingkan dengan kata beragama dan menjadi istilah moderasi beragama, istilah tersebut akan merujuk kepada cara beragama yang tidak berlebihan atau ekstrem dan menghindari kekerasan, baik dalam cara pandang, perilaku, maupun praktik keagamaan. Adapun lawan kata dari moderat adalah ekstrem, ekstrem dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sangat keras, teguh dan fanatik.

Ekstremitas berarti tindakan yang melewati batas. Maka ekstremitas dalam beragama adalah tindakan berlebih-lebihan di luar batas-batas agama yang disebabkan karena sikap fanatik terhadap suatu pandangan dalam beragama, sehingga cenderung menyalahkan orang yang tidak sepaham dengannya.

Jika dikaitkan dengan  konteks keindonesiaan  moderasi beragama kiranya sangat penting untuk diterapkan. Mengingat Indonesia adalah negara kesatuan yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan budaya. Sehingga sangat memungkinkan terjadinya perbedaan pandangan dalam beragama.

Hal seperti ini memang tidak dapat dihindari, namun setidaknya dengan adanya moderasi beragama kita dapat mengambil sikap tengah agar tidak terlalu ekstrem ke kiri (radikal) dengan pemikiran keagamaan yang sempit dan cenderung menyalahkan orang lain yang tidak sepaham dengannya.

Ataupun ekstrem kanan (liberal) dengan mempertaruhkan keyakinan dasar agama atas dasar toleransi. Moderasi beragama kiranya dapat menjadi jalan tengah dari dua kutub yang saling berlawanan tersebut.

Moderasi beragama  menjadi semakin penting, saat kita melihat fenomena radikalisme yang akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia. Jika radikalisme ini masih dalam bentuk keyakinan atau cara pandang semata, mungkin tidak begitu masalah. Namun yang terjadi kelompok-kelompok radikal ini mulai melakukan tindakan-tindakan yang kerap kali merugikan masyarakat bahkan sampai mengancam kedaulatan bangsa.

Contohnya bisa kita lihat dari tindakan terorisme yang melakukan pengeboman dengan alasan jihad yang mengatasnamakan agama. Hal ini disebabkan karena para radikalis memahami arti jihad secara sempit, menganggap  cara mereka beragamalah yang paling benar, dan menyalahkan yang lainya. Sehingga mereka tidak segan bertindak ekstrim dengan melakukan terorisme.

Lalu, mengapa harus generasi Z yang menjadi sasaran utama dalam moderasi beragama? Sebelum menjawab pertanyaan itu, mari kita cari tahu terlebih dulu, apa itu generasi Z dan bagaimana karakteristik mereka.  Generasi Z sendiri merujuk pada penduduk yang lahir pada kurun waktu 1997-2012, yang mana saat ini mereka berusia sekitar 9-24 tahun. Rentang usia tersebut mengindikasikan bahwa mayoritas dari generasi Z saat ini berusia remaja.

BACA JUGA  Mendidik Anak, Membangun Bangsa: Belajar dari Ibunda Imam Syafi’i

Seperti yang kita tahu bahwa masa remaja adalah masa di mana seseorang berusaha mencari jati dirinya, sehingga kerap kali seorang remaja bersikap labil dan gampang terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Hal inilah yang membuat generasi Z mudah sekali untuk dipengaruhi doktrin-doktrin radikal yang mereka terima.

Selain faktor usia, hal ini juga didukung dengan rentang tahun kelahiran dari generasi Z. Rentang tahun kelahiran mereka merupakan tahun-tahun digital, di mana pada tahun-tahun ini perkembangan teknologi digital sangatlah pesat. Hal ini membuat generasi Z sangat akrab dengan teknologi digital, seperti smartphone, internet dan media sosial. Akibatnya generasi Z akan sangat rentan terhadap pengaruh-pengaruh radikalisme. Sebab, komunikasi dan informasi yang mereka akses sudah tidak terbatas.

Dan yang palin penting mengapa generasi Z lah yang dijadikan sasaran dalam moderasi beragama, adalah karena generasi Z lah yang saat ini sedang dalam masa-masa belajar dan menempuh pendidikan. Maka kelak generasi inilah yang akan menjadi penerus bagi generasi sebelumnya untuk melangsungkan kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama.

Sehingga dapat dibayangkan, betapa mengerikanya kelangsungan negara Indonesia ini jika para penerusnya adalah orang-orang yang radikal, suka menyalahkan dan sering melakukan tindakan ekstrem. Tentu bukan hal itu yang kita inginkan. Oleh karena itu, moderasi beragama dirasa sangat penting untuk generasi Z.

Adapun hal yang dapat dilakukan untuk mengenalkan generasi Z dengan moderasi beragama diantaranya adalah; Pertama, memanfaatkan teknologi digital sebagai media pengenalan dan pembelajaran yang dikemas dengan konten ringan dan menarik. Hal ini karena generasi Z lebih menyukai konten-konten yang ringan dan menarik. Kedua, memasukkan pembelajaran moderasi beragama dalam kurikulum pendidikan. Tentu saja hal ini penting dilakukan, karena sebagian besar mereka sedang dalam masa pendidikan.

Ketiga, mengajak generasi Z untuk berdialog. Hal ini penting untuk membuka pemikiran mereka sehingga tidak berpikiran sempit. Keempat, mengikutsertakan generasi Z untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial masyarakat. Hal ini juga sangat penting untuk mengembangkan jiwa sosial dan membangun solidaritas di antara mereka.

Jika hal-hal di atas dapat terlaksana dengan baik. Maka besar kemungkinan bahwa bangsa Indonesia akan memiliki generasi penerus yang mampu bersikap moderat. Sekaligus menyeimbangkan antara ajaran agama dan komitmen kebangsaan. Sehingga persatuan, kesatuan  serta kedamaian dalam beragama masih bisa dirasakan oleh generasi berikutnya.

Pada intinya, urgensi dari moderasi beragama di indonesia disebabkan karena kemajemukan bagsa Indonesia sendiri, sehingga memunculkan perbedaan cara pandang dalam beragama. Adapun Urgensi moderasi beragama bagi generasi Z disebabkan karena usia mereka yang masih labil dan kehidupan mereka yang sangat erat dengan teknologi digital.

Hal ini membuat generasi Z sangat mudah dipengaruhi oleh paham-paham radikal. Selain itu, generasi Z merupakan generasi muda penerus bangsa, sehingga keberlangsungan bangsa ini sangat bergantung pada mereka.

Kholifah Rahmawati
Kholifah Rahmawati
Mahasiswa UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Instagram: @kholifahrahma3.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru