Generasi Millenial, Menulislah!


0
2 shares

Kamu tentu bisa katakan padaku, zaman sudah berubah dan buku bukanlah sumber ilmu utama. Maka menulis bukanlah hal utama dalam bergulatan ilmu pengetahuan.

Tak kan kusangkal itu karena ada begitu banyak rekaman dan catatan selain tulisan yang bisa mengantarkan ilmu. Ada video yang merekam kesan dan impresi lebih baik dari tulisan. Ada gambar yang tiap wujudnya bahkan bisa mengantikan seribu kata, atau diam yang setara seribu bahasa. Mengapa harus menulis? Mungkin demikian kautanya.

Dunia telah berubah. Benar adanya. Bahwa julat kemampuan para muda untuk memperhatikan satu perihal kini sangatlah pendek, itu juga benar. Tak lebih dari sepuluh putaran cepat jarum jam bisa kaulewatkan untuk memberi perhatian pada satu perkara. Kata orang di jauh benua, span of attention adalah barang mahal. Perhatian anak muda sepertimu terlalu mudah dicuri dan dibagi. Maka tulisan yang teliti dan berpanjang-panjang tak lagi memikatmu.

Mereka telah menjadi obat tidur yang memanjakan kantukmu dan mengubahnya jadi mimpi di siang hari. Aku tak hanya paham, aku juga telah menjadi korban kenyataan itu. Aku seorang guru, aku tahu apa yang terjadi.

Menyadari semua yang terjadi, aku berubah sekuat tenaga. Aku tahu, cerita dan celoteh kami di kelas tak boleh lagi hambar dan biasa. Mengertilah, kami berusaha penuh seluruh. Kusiapkan jeda di menit kesebalas karena kutahu, tanpa itu, kamu akan berlari meninggalkan kami untuk berpelukan dengan gawai yang begitu menawan.

Kusiapkan loncatan energi di menit kesebelas agar terbebas dirimu dari cerita yang mendayu-dayu tentang wibawa ilmu pengetahuan yang tak pernah memikatmu secara penuh. Harapanku, di menit keempat belas kamu terpikat lagi dan mengizinkanku untuk mendongeng lagi. Mendongeng tentang dasar-dasar ilmu yang mungkin tak selalu menemukan pesonanya di ruang-ruang kelas yang bosan dan muram.

Baca Juga:  Lakukanlah Riset Sebelum Menulis

Percayalah, aku berusaha sekuat tenaga, mengumpulkan gairah dan menjaga adrenalin tetap di permukaan agar pesona yang tak seberapa menemukan puncak kekuatannya. Tak mudah, terutama jika cengkerama ilmu pengetahuan itu terjadi sehabis sholat duhur saat gravitasi bekerja sangat gigih pada kelopak mata bagian atas. Pernahkah sejenak kaubiarkan empatimu mengerti bahwa perjuangan kami tidak lah mudah? Sadarkah kau bahwa aku bukan seorang orator ulung, bukan pendakwah sejuta umat dan bukan pula motivator kelas kakap yang bisa membuatmu terjaga dalam sekali petik jari?

Dan ketika tulisan adalah satu-satunya yang dimiliki sebagian dari kami, maka awal dari kegagalan telah tersibak di depan mata. Kami gagal memesonamu hanya dengan tulisan.

Tapi kawan, menulis bukanlah hanya perihal menuai ilmu. Menulis adalah tentang memberitahu dunia akan kebisaanmu. Dunia boleh berubah, vlog boleh saja menggeser blog tapi lulus tidakmu dari sebuah perguruan belum akan diukur dengan blog apalagi vlog. Ada prasasti amat tua bernama skripsi yang kan menjadi karya sakralmu dan dengan itulah orang akan menundukkan kepala mengakui kedigdayaan akademikmu.

Menulislah karena makalah adalah tulisan. Menulislah karena skripsi adalah tulisan. Aku belum melihat masa depan akan segera memberimu izin untuk meraih gelar sarjana dengan vlog, apalagi posting Instagram.

Belajarlah menulis panjang karena skripsi adalah tulisan yang panjang dan selembar ijazah akan lahir dari keringat dan air mata yang menetes dari perjuanganmu menghasilkan tulisan panjang itu.

Menulislah!

 


Like it? Share with your friends!

0
2 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
M Arif Rohman Hakim
Bukan siapa-siapa. Hanya anak pasangan petani sederhana yang tidak ingin hidupnya berlalu saja tanpa makna. Terobsesi pada kata-kata yang cerah-gerakkan manusia. Senang mendengar dan berbagi cerita, namun tak pernah mau berbagi suaranya dengan yang lain. Sebab, menulis merupakan sarana yang digunakannya untuk berbagi.