28.3 C
Jakarta

Generasi Kaffah, Kritis dengan Ilmu, Bijak Menentukan Sikap

Artikel Trending

KhazanahTelaahGenerasi Kaffah, Kritis dengan Ilmu, Bijak Menentukan Sikap
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Sahabatku para muslim dan muslimah, siapa yang tidak terlena dengan adanya media sosial? barangkali bisa kita pastikan, hampir tidak ada orang yang tidak menggunakan media sosial pada era saat ini. Keberadaan media sosial yang memberikan segala bentuk kemudahan untuk menjalankan kehidupan, banyak memiliki dampak positif bagi kita semua. Kapitalisme yang katanya mematikan kebudayaan karena tidak sejalan dengan Islam, nyatanya sedikit banyak memberikan manfaat yang luar biasa untuk semua masyarakat yang hidup di dunia. Bahkan sebagai umat muslim, justru kita yang berada dalam lingkaran kapitalisme turut merasakan bagaimana perkembangan kapitalisme itu sendiri.

Melihat kasus yang demikian, kalau kita mengkritik segala bentuk budaya yang ada di negara Barat seperti Amerika Serikat, ada banyak hal yang perlu dikritik untuk menjadi refleksi kita bahwa nilai-nilai yang dijalankan, bertentangan dengan agama Islam yang kita yakini. Namun, kebencian dan melakukan berbagai upaya penentangan kepada negara Barat, seharusnya bisa sejalan dengan hal-hal positif dan progresif yang dilakukan oleh kita sebagai umat muslim. Mampukan kita menjadi generasi yang kaffah dengan sikap kritis terhadap fenomena masa kini, dan sejalan dengan sikap bijak yang kita tampilkan untuk menuju perubahan?

Masalah umat muslim sampai saat ini

Faktanya, kebanyakan negara-negara muslim, seperti Indonesia, masih memiliki masalah dalam persoalan ekonomi, pendidikan, politik, sosial dan ekonomi. Artinya, negara yang memiliki penduduk mayoritas muslim, belum tampil sebagai negara adidaya dan belum menunjukkan wajah membanggakan atau kurang hebat dalam segala aspek. Kalau kita lihat data penduduk dunia, ada lebih satu setengah miliar penduduk beragama Islam. Artinya, jumlah penduduk muslim tergolong besar dibandingkan penganut agama-agama lainnya.

Dengan jumlah yang sangat banyak, mengapa penduduk mulim belum berhasil bangkit dan meraih kebangaan? Jangan-jangan kita hanya terlena oleh kejayaan Islam yang pernah diraih oleh zaman para khalifah. Semestinya, refleksi yang harus kita lanjutkan adalah bukan dari sistem khilafahnya, akan tetapi sikap kritis para pendahulu kita yang mampu membangkitkan kejayaan Islam.

Perlu diketahui bahwa, kemajuan Islam di masa silam, kunci adalah ilmu pengetahuan. Hal ini juga sejalan dengan ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah memberi inspirasi bagi umat Islam untuk melakukan kegiatan yang terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Atas dasar pijakan ini, maka selayaknya kita sebagai umat Islam, memiliki kekayaan ilmu pengetahuan dan lebih kreatif untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Artinya, ciri khas yang paling menonjol sebagai umat Islam adalah mengembangkan ilmu pengetahuan dan mampu menciptakan sesuatu yang baru.

Dari sinilah kita mengetahui bahwa, Islam memberikan landasan pijakan yang nyata kepada umatnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan agar tidak menjadi umat yang bodoh, dan hanya bergantung kepada umat lain untuk hidup.

Menjadi generasi kaffah

Menjadi generasi kaffah artinya menjadi generasi siap menjalankan segala bentuk perintah Allah dengan tetap kece beradaptasi dengan zaman. Istilah work life balance in Islamic perspective kiranya bisa menjadi referensi bagi kita semua untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Pengetahuan agama sangat penting untuk bekal menjalani kehidupan. Akan tetapi, kita juga butuh bekal pengetahuan umum untuk melatih berpikir kritis agar agama dijalankan tidak hanya berdasarkan keyakinan semata, akan tetapi berdasarkan refleksi total wujud diri dalam bentuk penyerahan sepenuhnya kepada Tuhan yang Maha Esa.

Sebagai anak muda, yang memiliki tantangan besar, dengan segala kemudahan akses untuk membaca segala jenis informasi, pengetahuan dari berbagai sumber, sikap kritis sangat wajib kita miliki sebagai generasi muslim. refleksi dari segala bentuk informasi yang kita dapatkan adalah, bagaimana posisi kita sebagai generasi muslim dan bangsa Indonesia.

Menjunjung tinggi pengetahuan agama sebagai landasan dan pijakan seorang muslim/muslimah adalah hal utama yang dilakukan. Akan tetapi, kita juga perlu menyadari bahwa selain menjadi generasi muslim, kita juga menjadi bangsa Indonesia yang memiliki tantangan kebangsaan sangat besar. Jika kita mampu memiliki sikap kritis dengan pengetahuan yang cukup. Maka sikap yang kita tampilkan adalah menjadi generasi muslim, yang menjunjung tinggi sikap kecintaan terhadap bangsa Indonesia yang sudah memberikan ruang yang aman dan nyaman untuk tetap tinggal dan belajar. Wallahu a’lam

 

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru