31.7 C
Jakarta

Genealogi Perdamaian di Bulan Ramadhan

Artikel Trending

KhazanahGenealogi Perdamaian di Bulan Ramadhan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Perdamaian adalah momen terbaik, khususnya di bulan ramadhan yang dikenal sebagai bulan penuh ampunan. Seorang hamba dianjurkan untuk mendekati pencipta-Nya untuk memperoleh ampunan Dari-Nya. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw telah bersabda,“Hai sekalian manusia! Taubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampun kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali”

Melalui hadits ini kita diajarkan untuk mengakui segala bentuk kesalahan kita dan meminta ampunan. Setiap kata maaf yang kita keluarkan akan membuka sedikit demi sedikit pintu kesadaran. Manusia sebagai tempat salah dan dosa, dan memohon ampunan sudah selayaknya dilakukan oleh manusia. Malah menjadi hal yang aneh jika kita menobatkan diri sendiri menjadi pribadi yang paling suci.

Tidak ada yang lebih berharga daripada mengakui semua kesalahan. Rasa bersalah ini akan membawa kita untuk mawas diri. Tidak mudah menyalahkan orang lain karena diri sendiri dipenuhi ribuan dosa yang terus menerus membayangi. Belum lagi berhadapan dengan sesama, kita sering lupa mengendalikan emosi yang berujung kepada rasa benci.

Penyesalan inilah yang akan membawa kita ke dalam pintu tobat. Tidak lagi menunda untuk bersujud dan memohon ampunan. Hati terketuk dan mulut berikrar tidak lagi mengulangi perbuatan tercela. Dengan diiringi air mata, munculah kalimat istighfar merayu sang Maha pengampun agar membuka pintu maaf selebar-lebarnya. Jika pertobatan kepada Tuhan telah dilakukan, tidak ada salahnya meminta ampunan kepada sesama. Banyak kekhilafan dan perbuatan salah yang pernah kita lakukan, bahkan sering mengakibatkan kebenian dan permusuhan. Maka meminta maaf dan memaafkan adalah kunci menggalang persaudaraan. Dengan lapang dada dan hati terbuka maafkanlah segala kesalahan saudaramu yang pernah menyakiti hatimu.

Ramadhan Raih Perdamaian

Kita harus menyadari bahwa sebesar apapun kesalahan seseorang, tentu tidak lepas dari diri kita yang berperan sebagai bagian sosialnya. Tidak ada api kalau tidak ada asap. Semua hinaan, cacian, serta kata-kata kasar tidak mungkin akan terucap apabila kita tidak berbuat. Jangan tumpahkan semua kesalahan padanya, sadarilah apa yang telah kita perbuat padanya.

Allah telah menetapkan Diri-Nya sifat kasih dan sayang. Bahkan rahmat Allah melampaui atas kemurkaan-Nya. Sangat sulit membuat Allah marah dan sangat mudah meminta ampunan kepada Allah. Sebanyak apapun kesalahan dan dosa yang pernah kita lakukan tidak akan melampaui keagungan dan ampunan Dari-Nya.

BACA JUGA  Al-Quran sebagai Penguat Keimanan, Bukan Penebar Kebencian

Sudah selayaknya sebagai seorang hamba kita mencontoh sang Maha pengampun. Mudah memaafkan sebesar apapun kesalahan yang pernah dilakukan. Tidak terjebak oleh rasa kebencian yang membuat sulit untuk memaafkan dan menjalin persaudaraan. Dekatkanlah dirimu kepada Tuhanmu dengan memaafkan segala kesalahan.

Dalam surat Q.S An-Nur ayat 22, Allah mengajarkan untuk membalas keburukan dengan kebaikan. Maka saling memaafkan lebih utama daripada membalas kejelekannya dengan perbuatan serupa. “… Dan hendaklah mereka memberi maaf dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S An-Nur: 22)

Mensucikan Umat

Dengan demikian, sebetulnya kedatangan bulan ramadhan tahun ini mengajak semua umat beragama untuk berkaca diri dan melakukan segala bentuk penghayatan terhadap nilai-nilai puasa. Segala bentuk konflik dan peperangan sejatinya muncul karena keadaan manusia yang tidak mampu mengendalikan emosi dan hawa nafsunya. Sejatinya, puasa mengendalikan ego dari sikap radikalisme dan perilaku kekerasan.

Akhirnya, bumi tidak lagi damai dan dipenuhi dengan peperangan. Hubungan antar negara diwarnai rasa curiga, sehingga seorang teman sekalipun dianggap sebagai seorang musuh yang patut dicurigai karena bisa menyerang kapan dan dimana saja. Akhirnya, kata sapaan tidak lagi terdengar diantara mereka, karena telah tenggelam dalam bumbu kecurigaaan.

Fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) dapat diartikan bahwa hari ini harus lebih bagus dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Apabila kemarin kita berbuat kesalahan, hari ini kita harus meminta maaf. Jika hari ini kita telah meminta maaf maka hari esok haruslah kita memaafkan.

Hal seperti inilah yang harusnya diulang-ulang dan dijadikan sebagai sebuah kebiasaan. Menjadi insan yang mulia dengan saling memaafkan. Maka gunakanlah sisa bulan ramadhan ini untuk menjadi manusia yang fitrah yaitu suci dari dosa. Hal ini dapat diwujudkan dengan bertobat dan memaafkan kesalahan saudara kita. Semoga ampunan dan rahmat Allah selalu tercurahkan kepada kita semua.

M. Nur Faizi
M. Nur Faizi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Bergiat sebagai reporter di LPM Metamorfosa, Belajar agama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru