Gelombang Pasang Arus Balik Perjuangan (Bagian I)


0
53 shares

Malam itu, sekitar jam 22.00 saya keliling melihat suasana GBK jelang pelaksanaan acara  Harlah Muslimat NU ke 73 yg dirangkai dengan acara Maulidirrasul dan Doa Untuk Keselamatan Bangsa. Suasana sekeliling GBK sudah mulai ramai meski acara baru akan dimulai pukul 02.30.

Beberapa bus dari luar kota sudah masuk area GBK. ibu-ibu berseragam batik dominan warna hijau turun dari bus, kemudian batis berjalan kaki menuju pintu masuk GBK yang belum dibuka. Barisan di pimpin seseorang yang membawa bendera kecil sebagai penanda rombongan. Mirip dengan jamaah haji di Makkah. Di beberapa tempat mereka bergerombol sambil duduk melepas lelah serelah menempuh perjalanan panjang dari daerah.

Di depan pintu Kuning, saya melihat segerombolan ibu-ibu menggelar plastik seadanya. Mereka tiduran menunggu waktu dimulainya acara. Di sekekeliling mereka bertumpuk bekal makanan dari rumah dan peralatan sholat yang dibungkus plastik kresek yang lusuh. Mereka menggunakan potongan kain kardus untuk kipas mengusir udara panas yang mulai merayap tubuh.

Saya mendekati mereka mereka dan bertanya: “rombongan dari mana bu?”

“Dari Subang mas” jawab seorang ibu yang masih duduk diantara temannnya yang sudah rebahan.

“Kok awal banget sudah sampe GBK?” Tanya saya lebih lanjut

“Iya mas supaya tidak kena macet dan bisa dapat shof di depan saat sholat tahajud berjamaah” jawab orang yang sama sambil terus kipas-kipas dengan potongan kertas kerdus.

Setelah dialog dengan ibu-ibu Muslimat dari Subang itu saya melanjutkan keliling sambil melihat suasana yang makin ramai karena kedatangan ibu-ibu dari segenap penjuru tanah air.

Rombongan ibu-ibu terus berdatangan dan mulai mengular di sepanjang jalan menuju pintu stadion. Karena padatnya kendaraan mereka tidak bisa turun tepat di tempat pemberhentian yang sudah disiapkan. Karena ingin segera sampai mereka turun di sepanjang jalan dalam komplek GBK kemudian berjalan kaki menuju pintu masuk GBK.

Baca Juga:  Masih Islam Nusantara

Beberapa saat pintu di buka, para rombongan ibu2 yang penuh semangat itu langsung masuk stadion GBK. Seperti air mengalir menuju tempat2 kosong. Menata barisan di lapangan dekat panggung untuk mempersiapkan shalat tahajud dan dzikir.

Udara dingin mulai menerpa. Bahkan menusuk sampai ke pori-pori kulit. Kaim batik warna hijau yang sudah mulai lungsek itu tak mampu menahan udara malam. Namun para ibu2 seolah tidak mempedulikan semua itu. Bagai batu karang yang kokoh berdiri tegak melawan hembusan udara malam dan terpaan ombak. Aku melihat usia mereja tidak lagi muda. Beberapa diantara mereka bahkan sudah nenek-nenek dengan kerut kulit di beberapa bagian tubuh. Namun semangat dan ketulusan mereka seolah kekuatan gelombang pasang yang mampu mengusir segala kelelahan dan dan cuaca.

Tak ada wajah letih diantara mereka bahkan tanda-tanda kecapean sama sekali tak terlihat. Semua tampak segar bugar dan ceria. Dari sorot mata yang polos dan lagu itu, saya melihat kekuatan dahsyat yang mampu menembuh tembok dan dinding baja sekalipun… yah kekuatan hati yang tulus ikhlas yang kemudian mewujud dalam sikap sabar. Kekuatan ini tanpa batas dan sekat. Tak bisa dilawan dan dibendung oleh apapun. Mungkin inilah kekuatan yang oleh Vaclaf Havel (1978) sebagai kekuatan  orang2 yang tak punya kekuatan (Power of the Powerless)

Gerakan mereka lembut seperti angin. Tapi kekuatannya mampu menembus bilik-bilik hati dan relung jiwa. Menggetarkan siapa saja yang masih punya nurani. Pelan2 saya mulai merinding melihat ibu-ibu yang mulai datang secara berfelombang. Makin menuju pagi gelombang itu makin besar seperti ombak yang siap menggulung apa saja. Saya membayangkan, gerakan ibu-ibu ini seperti air yang selama ini tenang dan diam meski dihina, dicaci, dipinggirkan kali ini mereka bangkit dan menunjukkan eksistensi menjadi gelombang pasang berkekuatan penuh mengepung GBK. Yah, di pagi yang dini itu aku seperti melihat arus balik yang dahsyat sari kaum ibu yang selama ini diam.

Baca Juga:  Masjid Bukan Tempat Untuk Berpolitik (2-Habis)

Al-Zastrouw

 

 


Like it? Share with your friends!

0
53 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.