27.8 C
Jakarta

Gamal Abdul Nasser dan Gagasannya Tentang Nasionalisme Dunia Arab

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahUlasan Timur TengahGamal Abdul Nasser dan Gagasannya Tentang Nasionalisme Dunia Arab
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Salah satu tokoh modern Mesir yang namanya terukir oleh dalam sejarah bangsa Mesir dan dikenal oleh dunia adalah Gamal Abdul Nasser. Sosok yang bergelar Jenderal ini bahkan tidak hanya dikenal di kalangan Mesir saja, tetapi juga di seluruh dunia. Sebab banyak jasa yang ditorehkan dalam pentas sejarah, khususnya sejarah politik dan perjalanan bangsa Mesir di era modern. Di antaranya adalah ketika menjadikan Mesir sebagai Negara Republik setelah menggulingkan pemerintahan monarkhi Mesir pada 1952, ikut berpartisipasi dalam terselenggaranya Konferensi Asia Afrika (KAA) Bandung 1956, berdirinya negara-negara Timur Tengah dan perang Arab-Israel.

Di dunia Arab, Gamal Abdul Nasser dikenal sebagai sosok yang tegas dalam menentang keberadaan Yahudi-Israel di Palestina. Sebab sering menggelorakan semangat jihad bagi bangsa Arab dalam menentang pendudukan Israel terhadap Palestina. Selain itu, dia juga dikenal sebagai sosok yang menggelorakan semangat anti Israel dengan gagasannya yaitu Sosialisme Arab  dan Nasionalisme Arab atau Pan Arabisme.

Gamal Abdul Nasser lahir di Iskandariyah pada tanggal 15 Januari 1918 dan meninggal 1970. Pada masa hidupnya, yaitu pada abad 19 dan awal abad 20 an atau yang dikenal dengan masa Kolonialisme di benua Asia dan Afrika, di mana masih banyak negara-negara di benua ini yang dijajah oleh negara-negara Eropa termasuk Mesir yang menjadi tempat hidup Gamal dan telah membuat situasi dan kondisi berada dalam cengkeraman kolonialisme Eropa. Di mana seluruh aktivitas sosial-politik ditentukan oleh kaum penjajah. Di masa inilah, Gamal hidup di bawah bayang-bayang cengkeraman feodalisme kerajaan dan penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Barat. Dan kondisi inilah yang juga mempengaruhi gagasan dan gerakan yang dibuat oleh Gamal.

Gagasan dan gerakan yang dibuat Gamal adalah membangun Mesir yang dinamakannya dengan Nasionalisme Arab. Yaitu sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara yang didasarkan dengan adanya kesamaan bahasa, ekonomi dan politik bagi negara-negara Arab atau bangsa-bangsa yang berbahasa dan berbudaya Arab, dan pada umumnya mereka beragama Islam. Yang digaungkan dari Arab, Asia dan Afrika atau negara-negara yang berada di kawasan Timur Tengah seperti Mesir, Sudan, Suriah, Libia, Aljazair.

Gamal adalah sosok yang selalu mengobarkan semangat anti Israel di kalangan bangsa Arab dengan gagasannya yaitu Sosialisme Arab dan Nasionalisme Arab. Ide Sosialisme Arab Gamal adalah tentang kesatuan bangsa Arab dalam satu wadah tatanan ekonomi sosialis. Karena ekonomi sosialis bagi Gamal lebih dekat dengan semangat ajaran Islam, dan mampu mendorong semangat kesejahteraan sosial. Gagasan ini pun banyak disambut oleh bangsa Arab, sebab dianggap bisa menolong umat yang berada dalam kesengsaraan akibat penjajahan.

Selain itu, Gamal juga menggagas ide tentang Nasionalisme Arab. Di mana dalam gagasan ini, Gamal ingin agar ada kesatuan bangsa Arab dalam satu kepemimpinan yang merdeka dari cengkeraman bangsa Eropa. Ketika mengenalkan gagasannya tentang Nasionalisme Arab, dia tidak hanya ingin gagasannya tersebut dikembangkan di Mesir saja tetapi juga ke berbagai wilayah Asia Afrika. Dari sinilah, muncul gerakan-gerakan kemerdekaan di belahan dunia dari penjajahan Eropa. Hal ini juga menunjukkan bahwa Gamal mempunyai pengaruh besar dalam dunia politik di Timur Tengah bahkan dunia pada saat itu.

Nasionalisme Arab sendiri berawal dari pemikiran Gamal tentang konsep negara. Tepatnya  ketika dia menjadikan menggulingkan rezim monarkhi Mesir dan menjadikan Mesir sebagai negara republik. Bagi Gamal, negara kerajaan dianggap tidak bisa menyentuh kepentingan umum masyarakat Arab, sehingga pada waktu itu muncul revolusi Mesir yang mengubah Mesir menjadi negara republik.

Dalam bukunya Philosofi of Revolution, Gamal menjelaskan bahwa Nasionalisme Arab atau yang dikenal dengan Pan Arabisme adalah persatuan bangsa Arab dalam menghadapi bangsa asing dan Israel dalam satu persamaan senasib akibat penjajahan, adanya persamaan agama, persamaan kultur, persamaan bahasa yaitu bahasa Arab. Hal ini juga dilatarbelakangi dengan retaknya persatuan bangsa Arab pada abad kesembilan belas akibat penjajahan bangsa Eropa dan berdirinya kekuatan baru yang bernama Israel yang disokong penuh oleh Amerika dalam menduduki Palestina. Bahkan berbagai kekuatan Islam pun diarahkan untuk mendukung dan memperkuat gagasannya, simbol-simbol keagamaan juga diperbolehkan untuk merealisasikan dan mendukung gerakannya.

Bagi Gamal, Nasionalisme Arab mutlak harus terwujud karena mempunyai hubungan erat dengan perjuangan antar bangsa Arab dalam menyingkirkan dominasi asing dan perjuangan melawan Israel. Baginya, imperialisme adalah ancaman bersama. Sehingga mengatasinya adalah dengan solidaritas bersama bangsa Arab. Sebab, bangsa Arab dalam kenyataannya saling bergantung satusama lainnya. Dan harus bekerjasama dan meningglkan sekat-sekat regional untuk melawan imperialisme Barat.

Walaupun yang digagas oleh Gamal adalah kelanjutan dari ide sekularisasi, khususnya sekularisasi terhadap Mesir yang mana pemikiran ini sebelumnya telah digaungkan oleh Taha Husein yaitu tentang sekularissi Islam. Namun bagi Gamal, sekularisasi dianggap perlu demi kemajuan bangsa. Tetapi peran agama tetap selalu menjadi bingkai penyelenggaraan bernegara. Dalam artian, agama tidak dilepas sama sekali.

Gamal juga mempertegas bahwa dalam Islam tidak ada perintah untuk mendirikan negara yang bersistem Islam. Namun tidak ada alasan untuk meninggalkan terwujudnya kedamaian hidup. Dan ide sekularisasi inipun secara konseptual didukung salah satunya oleh ulama terkemuka pada waktu itu yaitu Ali Abdurraziq.

Dalam karyanya yang berjudul Islam wa Ushul al-Hukmi, dia menyatakan bahwa tidak ada perintah mendirikan negara dalam Islam. Namun yang diwajibkan adalah supaya umatnya merealisasikan kesejahteraan hidup, mentaati aturan para pemimpin mereka. Sehingga hal ini memberikan sebuah peluang untuk membentuk negara dengan sistem pemerintahan apapun, asal terwujud pelaksanaan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Dengan kata lain, Islam tidak mengatur secara tegas tentang bentuk sistem kehidupan dalam bernegara, tetapi mewajibkan kehidupan yang damai, aman, sejahtera lahir batin. Sebab sebuah negara yang dibangun di atas fondasi yang kokoh, kemudian didukung penuh oleh seluruh warganya, tanpa ada diskriminasi suku, ras  atau pun agama, adanya kepastian hukum bagi warganya, akan mempermudah jalan menjadi negara yang kuat dan sejahtera. Sebaliknya, negara yang tidak memiliki fondasi kuat walaupun menerapkan konsep yang dianggap sebagai konsep negara yang diperintahkan Islam akan selalu goyah sepanjang waktu dan stabilitas nasionalnya akan selalu goyah.

Nur Hasan, Penulis adalah Alumnus Islamic Studies International University of Africa, Sudan.

 

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru