32.1 C
Jakarta

Gagasan Ulama Bangsa Sebagai Kontra-Radikalisme di Internet

Artikel Trending

Hadirnya internet pada masa sekarang ini memang membawa kemajuan yang begitu pesat. Namun kemajuan ini bagai pisau bermata dua. Di satu sisi merupakan hal positif karena mempermudah penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan, namun di sisi lain juga negatif apabila informasi dan ilmu pengetahuan yang tersebar luas tersebut adalah sesuatu yang salah dan buruk. Sebab di internet data yang beredar hampir tanpa batas dan tanpa pengawasan.

Salah satu yang harus diwaspadai ialah maraknya konten yang mengandung paham ekstremisme beragama yang kerap kali disebarkan lewat internet. Penelitian PPIM UIN Jakarta pada 2017 menunjukkan siswa dan mahasiswa yang memiliki akses internet terpengaruh paham dan gerakan ekstremisme beragama lebih besar ketimbang yang tidak punya akses internet. Padahal mereka yang memiliki akses internet mencapai hingga 85%. Ini karena kebanyakan mereka menjadikan internet sebagai referensi dalam belajar agama (ppim.uinjkt.ac.id).

Kesimpulan yang sama juga ditunjukkan oleh Iman Fauzi Ghifari dalam artikelnya berjudul “Radikalisme di Internet” dalam Religious: Jurnal Agama dan Lintas Budaya Vol. 1 (2), Maret 2017, yang menyebutkan bahwa terjadi perubahan pola penyebaran di mana internet mengambil peranan yang sangat besar dalam memberikan informasi kepada publik, terutama kalangan anak muda, mengenai ideologi kelompok radikal.

Meningkatnya pemanfaatan internet untuk propaganda ini tidak lain karena kelebihannya yakni akses yang mudah, tidak adanya kontrol dan regulasi yang kuat dan mengikat, kecepatan arus informasi, murahnya biaya, hingga cakupan audiens yang luas.

Pemerintah Indonesia melaui Kominfo RI sudah bertindak. Sepanjang 2017 sampai 2019 saja sudah diblokir sebanyak 13.151 konten radikal di berbagai media sosial (kominfo.go.id). Namun apakah cukup dengan hanya melakukan upaya pemblokiran? Jawabnya tentu saja tidak. Ibarat pepatah, mati satu tumbuh seribu. Konten berpaham ekstremisme akan terus bermunculan meski terus diblokir.

Maka harus ada upaya lain, di antaranya memenuhi internet dengan konten yang mendukung pemahaman beragama yang moderat untuk melawan wacana ektremisme beragama itu. Masalahnya ialah di internet belum banyak menyediakan materi yang mendukung pemahaman agama yang moderat.

BACA JUGA  Kelompok Ekstremis, Kaum Muda, dan Pancasila

Apabila paham dan gerakan radikal ini biasanya mempertentangkan antara nilai keislaman dengan kebangsaan, seperti menghukumi Indonesia sebagai negeri kufur, UUD 1945 dan Pancasila adalah thaguth, hingga haramnya sistem demokrasi di Indonesia, maka sebagai kontra wacana perlu disebarkan narasi yang menyatakan bahwa antara Islam dan Indonesia, keduanya memiliki hubungan yang harmonis.

Misalnya dengan menggali berbagai pemikiran para ulama dan tokoh bangsa yang dapat membuka pemahaman bagaimana hubungan antara Islam dan Indonesia. Karena bagaimanapun NKRI ini juga didirikan oleh para ulama dan tokoh bangsa dari kalangan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa jika kita melihat ke belakang, tak ada pertentangan antara nilai keislaman dengan nilai kebangsaan seperti menerima negara Indonesia, Pancasila, atau sistem demokrasi.

BACA JUGA  Mengkaji Ayat Perang Melalui Dialektika Hegel

Oleh sebab itu penting untuk mengenalkan dan membumikan gagasan para ulama dan tokoh bangsa kita seperti Tjokroaminoto, H. Agus Salim, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hascboellah, Ki Bagus Hadikusumo, Mohammad Natsir, KH. Wahid Hasyim, Buya Hamka, dll yang memang sudah terbukti perjuangan dan gagasan mereka dalam membangun NKRI, bahkan sejak sebelum kemerdekaan.

Jangan sampai generasi milenial kita hanya mengenal tokoh-tokoh luar seperti Taqiyuddin an-Nabhani, Abu A’la al-Maududi, Muhammad bin Abdul Wahab, Sayyid Quthb, atau Osama bin Laden yang pemahaman keislaman mereka bisa bertentangan dengan nilai kebangsaan Indonesia apabila ditelan mentah-mentah.

Maka kita perlu menyediakan konten-konten yang membumikan gagasan dan cita-cita para ulama dan tokoh bangsa itu kepada generasi milenial melalui berbagai media yang populer khususnya di internet, seperti website, video youtube, podcast, instagram, dan lain sebagainya.

Mengenalkan gagasan para tokoh bangsa kita ini juga tidak lain agar generasi milenial ini tidak terputus dan tercabut dari akar sejarah dan identitas bangsanya, khususnya membangun keharmonisan identitas Islam dan keindonesiaan mereka. Sebagaimana Mohamad Assad dalam Islam at the Crossroad (1934) juga menyebutkan bahwa sebuah peradaban tidak berkembang bahkan tidak akan eksis apabila terputus dari kebanggaan dan sejarah masa lalunya.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru