29.4 C
Jakarta

FPI Jebakan Romantisme Organisasi Islam Indonesia

Artikel Trending

Milenial IslamFPI Jebakan Romantisme Organisasi Islam Indonesia
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Siapa yang tidak tertarik ketika FPI (Forum Persatuan Islam), bangkit dengan semangat moderasinya. Dalam visi-misinya, ia ingin dekat dengan masyarakat yang rentan, khususnya yang beragama Islam. Juga ingin meninggikan kelas dan nilai Islam. Jihad untuk Islam, bahasa FPI.

Dari situlah FPI mencoba memantik kobaran cinta dari umat Islam. Siapa tahu, dengan semangat yang tertulis di visi-misi FPI baru ini, menjadikan umat muslim Indonesia, tertarik bergabung bersamanya. Dengan begitu, mereka bisa menjalankan program-program FPI.

Taktik dan Spirit FPI

Memang betul, di beberapa daerah, orang banyak bergabung. Karena alasan, FPI baru ini tidak bakal sama dengan FPI (Front Pembela Islam) lama. Di mana, FPI lama, sering melakukan kekerasan, tidak hanya di dalam pikiran, namun di dalam kenyataan. Maka, dari alasan itu, FPI baru ini berdiri di mana-mana. Di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan Madura juga masuk dalam godaan FPI ini.

Bergabungnya mereka tak ada alasan lain selain demi tingginya martabat Islam. Islam harus dibela, katanya. Sikap itu menjadi spirit bagi umat-umat FPI. Terbukti, jika ada orang yang dengan tidak sengaja menyinggung Islam, maka dengan sendirinya kawan-kawan FPI ini turun ke jalan. FPI menjadi fanatikus terhadap ajaran agama, bukan pada agamanya itu sendiri.

Senyatanya, praktik itu bukan lahir secara tiba-tiba. Ada sebab dan latar belakang yang ikut menguatkannya. Sikap fanatik lahir dari adanya pikiran fanatik. Artinya, fanatisme terhadap agama pertama-tama merupakan cara berpikir. Sikap lanjutan dari buah pikiran. Sebagaimana sikap fanatik lebih dari adanya orang yang fanatik agama.

Fanatik Menjadikan Citra Islam Buruk

Orang fanatik macam FPI ini nantinya mengidap penyakit keragaman. Mereka berpikir atas sebuah totalitas dan hegemonitas. Cara berpikir fanatic ala FPI ini, menolak keragaman dan perbedaan, demi keseragaman. Puncaknya, mereka bersikap intoleran dan tidak segan menggunakan kekerasan terhadap orang lain karena membenci yang beda, dan menyanjung yang sama.

Di dalam isi pikirannya, hanya mereka “orang-orang yang benar” dan “orang-orang suci”. Maka untuk hal-hal yang plural, toleransi, dan keragaman untuk mencipta kedamaian, tidak ada yang perlu dinegoisasi. Kata Hegel, sebenarnya orang-orang ini diam dan hidup di alam yang nihilistis, karena membasmi partikularitas.

BACA JUGA  Sekarang Juga, Indonesia Butuh Sekularisasi Islam

Atas dasar itu, doktrin tentang Tuhan menjadi lebih penting daripada Tuhan sendiri. Menurut fisikawan, insting otak-otak ini diperintah oleh insting rendah. Otak yang diperintah oleh insting rendah mendorong mereka menjadi manusia agresif terhadap orang lain, dan tingkat selera kepemujaannya terhadap yang mitos-keras tapi salah, meningkat luar biasa tinggi.

Dalam praksisnya, orang-orang fanatik tidak suka segala bentuk healing, meditasi, apalagi kontemplasi. FPI menjauh dari kerumitan, enggan atas jawaban dan solusi yang penjang, dan tidak percaya pada ijtihad, digdayanya pikiran, dan argumen rasionalitas. Ia lebih suka pada keyakinan mistis, sentimental, ekstatis, dan bahkan histeris. Kata Budi Hardiman, orang yang fanatik, cenderung berjarak pada wawasan dunia.

Pentingnya Bersikap Moderat

Sebaliknya, orang-orang moderat cenderung rendah hati. Orang-orang moderat ini mudah berpindah sikap karena tidak terhisap ke dalam satu-satunya sistem nilai (kebenaran) yang hierarkis dan ubsolut. Orang-orang ini lebih memilih pertanyaan “bagaimana” ketimbang “apa”. Dan lebih memilih jawaban panjang, bercabang, penuh tafsir dan percaya atas rasionalitas yang beriringan dengan wahyu. Mereka tetap merasa bahwa dirinya tetap dirinya sendiri; agama tetap agama, ajaran agama adalah ajaran agama, dan Tuhan beda dengan dengan yang lain.

Kerendahatian berbanding terbalik dengan fanatik. Karendahatian mengantar orang untuk mendengar dan menerima pendapat dan kehadiran orang lain. Ia bisa dan boleh pendapat-barangnya dipinjam dan meminjamkan terhadap orang lain. Namun hal itu tidak dimiliki oleh mereka yang dirasuki fanatisme, entah fanatisme terhadap agama, tokoh, politik, atau ideologi. FPI mungkin tak seluruhnya masuk ke dalam fanatisme ini. Tapi seluruhnya bisa masuk.

Fanatisme keagamaan yang mengklaim punya kebenaran di atas kebenaran yang ubsolut terhadap dirinya sendiri. Menjadikan orang pongah, tersumbantnya pikiran, terhalanginya dialog, bahkan menjadi orang bersikap sinisme yang memandang sesuatu yang beda harus dibumihanguskan. Dan sikap itu merusak agama itu sendiri, yang suci.

Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru