31.7 C
Jakarta

Formula Mencari Ide dan Menabungnya Hingga Jadi Tulisan

Artikel Trending

KhazanahLiterasiFormula Mencari Ide dan Menabungnya Hingga Jadi Tulisan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Sebagai penulis, pernah gak kalian merasa bingung untuk menulis. Nulis apa lagi ya? Nulis ini sudah, nulis itu sudah, kayaknya sudah semuanya deh ditulis. Pernah mengalami hal buntu seperti itu? Kalau saya yang ditanya, jawabannya, sering banget. Namun, itu diri saya yang dulu, sebelum menemukan formula mencari ide dan menabungnya.

Sebelum membahas lebih jauh. Alangkah baiknya kalau kita mencari tahu cara menemukan ide menulis. Sebenarnya alam semesta beserta isinya merupakan bahan tulisan yang tidak ada habisnya. Hanya saja, terkadang kita tidak peka.

Langkah awal menemukan ide yaitu dengan melakukan pengamatan. Mengamati apa pun, dimanapun, dan kapanpun. Mengamati lingkungan, makanan, hewan, mainan, orang-orang sekitar, benda, bangunan, atau apapun. Entah berada dalam kendaraan umum, di taman, makam, masjid, perkantoran, sekolah, atau dimanapun.

Dalam keadaan hujan, terik, malam, siang, atau, kapanpun kondisinya. Terlebih lagi jika kita menggunakan semua panca indera yang dimiliki untuk mengamati sesuatu. Mulai dari indra pendengaran, penglihatan, pengecap, dan peraba. Semua itu bisa kita jadikan media untuk mencari ide menulis. Kita hanya perlu amati dengan sedikit imajinasi—bagaimana jika.

Misalnya ketika berada dalam kamar yang hanya ditemani sebuah bantal dan guling. Lalu berimajinasi, bagaimana jika bantal dan guling tersebut adalah sepasang kekasih. Atau, ketika sedang menuntaskan hajat di atas kloset, apa yang dirasakan kloset saat digunakan?

Pengamatan yang dibarengi dengan imajinasi—bagaimana jika, bagi saya sebuah formula jitu untuk medapatkan ide menulis. Pertanyaan-pertanyaan aneh yang tercipta, menggiring otak berpikir menemukan jawab. Sehingga dapat menciptakan ide tulisan yang berkembang dan berevolusi menjadi karya.

Itu hanya dua tempat yang selama ini kita gunakan, tetapi luput untuk diamati. Nah, kalau kita sedang bingung ingin menulis. Coba, amati apa pun, di mana pun, kapan pun, dan gunakan imajinasi—bagaimana jika.

Setelah ide menulis sudah dalam genggaman. Lakukan riset dan sesuaikan dengan pengalaman. Niscaya ide tersebut akan berkembang menjadi sebuah tulisan utuh. Jika tulisan dirasa sangat monoton, coba menulis dengan sudut pandang lain. Selain itu, perbanyak membaca referensi agar wawasan kita lebih berkembang.

BACA JUGA  Refleksi Dunia Literasi; Suka Duka Menjadi Seorang Penulis

Apabila kita sudah terbiasa mengamati. Biasanya, kerap kali melihat sesuatu yang aneh atau di luar kebiasaan. Ide menulis tiba-tiba akan muncul—berseliweran di kepala. Kalau seperti itu, apa yang harus dilakukan agar ide tetap ada. Kita hanya perlu menangkap ide yang muncul lalu mencatatnya. Catat ide yang kita tangkap di buku kecil, memo handphone, perekam suara, atau media penyimpanan apapun.

Penting untuk mencatat ide yang sudah kita tangkap. Hal ini karena manusia memiliki dua ingatan; ingatan jangka pendek dan panjang. Ketika manusia melakukan sesuatu hanya sekali tanpa adanya upaya mengingat (mencatat), hal tersebut hanya akan menjadi ingatan jangka pendek yang akan terlupakan. Apabila kita mencatatnya, maka ide tersebut akan menjadi ingatan jangka panjang. Catatan yang kita simpan lalu membacanya kembali setelah sekian lama. Secara otomatis otak akan berusaha mengingat kemudian meraba kejadian yang tercatat.

Ide tulisan yang tertangkap, kemudian dicatat sehingga menjadi daftar dalam media penyimpanan disebut dengan tabungan ide. Bagi penulis, tabungan ide adalah sebuah investasi yang menguntungkan. Dari ide-ide tersebut akan lahir sebuah tulisan atau karya disaat penulis mengalami writer’s block. Namun, dituntut untuk tetap menulis.

Tabungan ide yang kita miliki dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan tulisan. Sesuaikan dengan topik dan tema yang ingin diangkat. Dalam mengembangkan tulisan, pasti tidak ada yang sempurna pada awalnya. Namun, yang perlu kita lakukan hanyalah menulis dan menulis. Jangan sesekali melakukan edit ditengah menulis.

Apabila dilakukan, tulisan tidak akan pernah selesai karena setiap detik akan mengalami perubahan sesuai emosi manusia yang mudah berubah. Selesaikan dulu tulisannya, diendapkan sekian waktu, lalu melakukan self editing. Itu langkah terbaik mengembangkan ide menjadi sebuah tulisan utuh. Tentunya harus disertai dengan tambahan riset mendalam dan pengalaman.

Ternyata menemukan ide menulis tidak sesulit yang dibayangkan, bukan. Kita hanya perlu lebih peka dan mengamati yang ada di sekitar. Tidak perlu harus bepergian jauh-jauh dan mengeluarkan biaya mahal. Tengok saja galeri handphone kalian, bagaimana jika ia bertanya, untuk apa swafoto dengan KTP?

Dwi Noviyanti
Dwi Noviyanti
Penulis Lepas

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru