32.2 C
Jakarta

FKPT Sulbar Libatkan Perempuan Cegah Merebaknya Paham Radikalisme dan Terorisme

Artikel Trending

AkhbarDaerahFKPT Sulbar Libatkan Perempuan Cegah Merebaknya Paham Radikalisme dan Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Sulawesi – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Barat (Sulbar) melibatkan perempuan dalam upaya pencegahan paham radikal di masyarakat.

Lewat workshop perempuan teladan, Optimis dan Produktif (TOP) mengusung tema viralkan perdamaian dalam pencegahan radikalisme dan terorisme. Berlangsung di aula hotel Berkah Jl Soekarno Hatta, Kelurahan Karema, Mamuju, Rabu (28/9/2022).

Ketua FKPT Sulbar, Muhammad Imran Idris mengatakan hasil riset dan kajian yang telah dilakukan, pengguna sosial media di Sulbar di dominasi oleh perempuan. “Dimana perempuan menggunakan sosial media dengan persentase 78 persen, sehingga sangat rentan terhadap faham radikalisme,” terang Muhammad Imran Idris dalam sambutanya.

Belum lagi lanjut dia, indeks potensi radikalisme cenderung lebih tinggi di kalangan perempuan. Untuk itu ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mewaspadai paham radikal dan terorisme itu. “Salah satunya dengan cara workshop atau sosialiasi ini, yang menghadirkan para kaum perempuan, dan mahasiswi ini,” pungkasnya.

Ia pun berharap para peserta yang hadir dapat mengikuti secara keseluruhan materi-materi yang dihadirkan dalam workshop itu. Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Sulbar, Djamilah turut mengapresiasi sosialisasi tersebut.

Djamilah menjelaskan isu radikalisme dan terorisme yang merebak dikalangan perempuan bukanlah hal yang baru. Dikatakan penduduk Sulbar sendiri terdiri dari 49 persen perempuan, dan 59 persen laki-laki. “Sehingga para kaum perempuan cukup potensial dalam pusaran terorisme, isu ini bukanlah hal baru dikalangan perempuan,” terang Djamila dalam sambutannya.

Ia menjelaskan selain isu paham radikalisme dan terorisme, kekerasan terhadap perempuan juga marak terjadi. Salah satu penyebabnya, ialah akses informasi yang begitu cepat belum lagi, penggunaan sosial media didominasi oleh perempuan.

BACA JUGA  Polres Sukoharjo Lakukan Kontra Radikalisasi Melalui Penguatan Ideologi Pancasila

Selain itu, budaya patriarki, dan ketergantungan dari sisi ekonomi, juga salah satu penyebabnya. “Dimana perempuan sangat tunduk dan ikut kepada suami, bergantung secara ekonomi kepada suaminya,” lanjut Djamila.

Sehingga, kata dia, perempuan dalam pusaran radikalisme dan terorisme bisa saja menjadi korban, dan dapat pula menjadi pelaku. Untuk itu ia berharap, workshop viralkan perdamaian ini, harus diikuti sampai selesai oleh para mahasiswi.

Dimana generasi mudah atau para mahasiswi yang cukup rentan terhadap paham radikalisme dan terorisme.
Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozihttps://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru