31.7 C
Jakarta

Fitrah Tauhid dalam Alquran

Artikel Trending

Asas-asas IslamAl-Qur’anFitrah Tauhid dalam Alquran
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan hanya menjadi salah satu butir Pancasila yang selanjutnya menjadi pedoman hidup kita bersama. Menyembah dan meng-Esa-kan Tuhan atau tauhid kepada Allah Swt. justru merupakan fitrah bawaan yang dimiliki oleh setiap manusia.

Allah berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30).

Mengenai ini, kita sepertinya juga perlu mengingat kembali perjanjian primordial kita dengan Tuhan sebagaimana yang termaktub dalam Alquran surat Al-A’raf ayat 172 yang mengatakan, “Alastu birabbikum qalu bala syahidna, an taqulu yaum alquyamah inna kunna ‘an hadza gafilin.”

Bukankah Aku ini Tuhan kalian? Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. Kami lakukan yang demikian itu, agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, `Sesungguhnya kami adalah (lapis-lapis) diri yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).‘”

Alquran juga memberikan informasi tentang sejarah agama umat manusia, sekaligus meluruskan ajaran tentang politeisme, animisme, dan dinamisme melalui konsep Tauhid, serta meng-Esa-kan Allah Swt. sebagai ajaran yang benar. Mengenai ini, Allah telah mengabarkan, seluruh umat manusia pada awalnya berada di atas akidah tauhid yang lurus. “Manusia dahulunya hanyalah satu umat.” (QS Yunus: 19). Pertanyaannya, kenapa manusia cenderung melakukan kemusyrikan dan memberhalakan selain Allah Swt.?

Kemusyrikan, menurut Ibnu Katsir, disebutkan sebagai hal yang baru muncul belakangan dalam sejarah peradaban manusia. Karen Amstrong, penulis buku The History of God juga menyebut, pergantian kepercayaan manusia yang awalnya hanya percaya akan satu Tuhan berubah menjadi kepercayaan pagan, yang memiliki banyak Tuhan menyerupai manusia, merupakan dalih manusia untuk mendekatkan dimensi ketuhanan yang sebelumnya tidak dapat dijangkau ke dalam peradaban manusia. Pendapat tersebut, sesungguhnya juga didukung oleh Ibnu Abbas radliyallau ‘anhu yang mengatakan, “Antara Adam dan Nuh terdapat jarak 10 abad, semuanya Islam [tauhid].” (Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Tafsir, 29/99].

BACA JUGA  Tuntunan Al-Qur’an dalam Membina Rumah Tangga

Lebih lanjut, seorang peneliti sejarah agama dan misionaris, Don Richardson, juga pernah menulis dalam bukunya The Eternity in Their Hearts bahwa 90 persen agama tradisional dunia adalah monoteisme, tetapi Allah telah menegaskan bahwa 100 persen seluruh agama adalah tauhid. Setelah banjir besar, ketiga putra Nabi Nuh yang beriman sebagaimana bapaknya, yaitu Yafith, Sam, dan Ham berpencar dan melahirkan bangsa-bangsa. Yafith adalah nenek moyang bangsa Eropa hingga Turki, Sedangkan Sam melahirkan bangsa Ibrani, Persia, Yaman, dan India. Adapun Ham adalah bapak dari bangsa Mesir, Hijaz, dan Afrika. (Sami bin Abdullah Al Maghluts, Atlas Siratul Anbiya’ war Rusul).

Tauhid adalah Misi Kenabian

Dan, perlu diketahui, tauhid inilah dakwah utama dan pertama seluruh Nabi dan Rasul sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Tidak ada nabi dan rasul yang diutus ke muka bumi tanpa tanggungjawab untuk berseru kepada ketauhidan. Maka itu, dalam sejarah kenabian, tidak pernah ditemukan bukti akurat yang mengatakan bahwa salah satu nabi atau utusan Allah mengajak pada politeisme atau kemusyrikan. Allah berfirman, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat: ‘Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut’.” (QS an-Nahl: 36).

Tauhid merupakan sebaik-baik amal saleh. Sebaliknya, syirik ialah seburuk-buruk kezaliman. Tauhid menjadi kunci surga sementara syirik menceburkan kita ke dalam api neraka. Tauhid, juga menjadi fondasi utama shalat, puasa, haji, sedekah, dan jihad.

Jika fondasi itu lemah atau sirna, niscaya robohlah semua bangunan yang berdiri di atasnya. Sebaliknya, semakin kokoh fondasi yang dibangun, maka akan semakin kokoh bangunan yang berdiri di atasnya. Amalan-amalan saleh yang dikerjakan akan menjadi sia-sia. Allah berfirman: “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS al-An’am: 88). Wallahu a’lam bish-shawaab.

Mohammad Sholihul Wafi, S.Pd.
Mohammad Sholihul Wafi, S.Pd.
Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tim penulis buku “Revolusi Pemikiran Kaum Muda”. sekarang mengajar di Pondok Pesantren Shiratul Fuqoha’, Kudus.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru