29.8 C
Jakarta

Fenomena Basi, Kuno, dan Tak Menariknya Kontra-Khilafah Bagi Milenial

Artikel Trending

Kalau hari ini kita; para orang tua, para pengamat sosial-kenegaraan, masih meyakini, bahwa persoalan utama kalangan milenial adalah pergaulan bebas yang memusimkan free sex, maka sudah sepatutnya kita menoleh terhadap tantangan lain pergaulan mereka. Yang dahulu suka foya-foya, bandel, kini telah banyak yang hijrah, taubat. Masalahnya adalah, mereka salah memilih pengajian, keliru menentukan idola yang mengajari keagamaan. Alih-alih membaik, mereka justru semakin terjerumus kegelapan.

Barangkali sebab kesamaan masa lalu, tidak sedikit milenial yang memutuskan hijrah malah memilih ustaz yang juga produk hijrah. Yang dahulu suka bermain wanita, kini ngustad dan menasihati milenial untuk bercinta secara syar’i—ta’aruf. Kesamaan frekuensi masa lalu, ditambah penyampaian yang memukau, mereka tidak hanya mengais untung dengan dakwahnya. Lebih dari itu, bahkan, mereka memegang ubun-ubun milenial, menggiring mereka terhadap doktrin keagamaan yang sarat ideologis.

Salah satunya, ketika mereka dibuat salah paham, ahistoris, tentang khilafah Islam dan khilafah ala Hizbut Tahrir. Sekarang kalau mereka kita suguhkan kontra-narasi radikalis dan sejenisnya, bahwa Hizbu Tahrir memang betul-betul tengah gentayangan fi negeri ini, mereka akan mengomentari: “khilafah itu ajaran Islam, “basi,” “kuno,” “fitnah,” dan sejenisnya. Mereka sudah tidak percaya lagi, tak lagi mempan dinasihati. Bagi milenial, yang hijrah ataupun tidak, melalui makiannya, kontra-khilafah tidak lebih dari “proyek cari makan”.

Siapa yang bertanggung jawab atas kebrutalan keislaman sementara milenial ini? Dan, apa jadinya kalau mereka dibiarkan begitu saja, mengikuti doktrinan para tokoh agama palsu idola mereka? Di sini tidak akan menuduh, bahwa Felix Siauw dkk, termasuk Ismail Yusanto, adalah dalang di balik ironi ini. Pergerakan radikal itu tidak tunggal, tidak satu instansi dan, karenanya, tidak dapat digeneralisasi. Yang terang, kita yang ingin negeri selamat dari perpecahan, memiliki tanggung jawab moral bersama: mendidik sekaligus mengkonter mereka.

Fakta, HTI memang sudah bubar. Apa karena itu kontra-khilafah dianggap kuno, basi, dan tak relevan? Jika iya, maka jelas, milenial kita tengah dalam gerayangan musibah besar.

Milenial yang Ditumbalkan

Ibarat komandan dan prajurit, prajurit selalu dikerahkan, atau mengerahkan diri, untuk menyelamatkan atasan-junjungan mereka. Para tokoh penyeru khilafah tak ubahnya seorang komandan perang yang, kalau kita mengkonter pergerakan mereka, maka kita akan diserang habis-habisan oleh para pengikutnya. Pengikutnya yang didominasi milenial dikenal memiliki ghirah keagamaan yang tinggi bahkan melampaui batas. Bagi mereka, satu dan sudah final: khilafah adalah syariat yang harus ditegakkan.

Misal, kita tidak bisa menepis kenyataan bahwa ghirah kontra-khilafah, hari-hari ini, juga mengalami eskalasi yang cukup signifikan. Pada Sabtu (18/7) lalu, webinar bertema “Menangkal Virus Khilafahisme, Radikalisme dan Ekstremisme di Kampus” dihelat dengan mengundang Islah Bahrawi sebagai keynote speaker dan empat narasumber lainnya. Itu berarti terjadi tiga hari sebelum webinar manipulatif kaum khilafahisme bertajuk “Harga Mati Bahaya RUU BPIP Bagi Keutuhan Bangsa” yang mendatangkan tetua HTI, Ismail Yusanto.

Pekan berikutnya, Sabtu (25/7), kembali digelar webinar kontra-khilafah bertajuk “Antisipasi Paham Khilafah Tahririyah (HTI) dan ISIS dalam Negara Pancasila” dengan mendatangkan Ayik Heriansyah, mantan Ketua HTI Bangka Belitung, bersama tiga narasumber lainnya. Ayik menguliti pergerakan khilafahisme luar-dalam, menelanjangi manipulasi-manipulasi mereka dalam segala dakwahnya. Bahwa otak para pengikut khilafah itu dibekukan oleh konsep manipulatif ideologi mereka sendiri.

BACA JUGA  Ihsan Tanjung, Pembatal Iman, dan Pemurnian Tauhid

Tidak hanya sampai di situ, malam harinya, di tanggal yang sama, diskusi publik dengan tema “Mungkinkah Sistem Khilafah Islam Bisa Setia Pada Negara dan Pancasila?” digelar dengan mengundang, salah satunya, Makmun Rasyid, penulis buku HTI Gagal Paham Khilafah. Upaya-upaya yang lumayan masif ini ternyata tidak banyak mengubah cara pandang milenial yang telah terjebak khilafahisme. Justru, kanal YouTube kajian-kajian tadi diserang para milenial, dengan motif yang sudah disinggung di muka.

BACA JUGA  Sebulan Insiden KM50; FPI Masih Buta Kebenaran

Kita, jelas, tidak akan melihat para dedengkot khilafah itu koar-koar. Tidak. Mereka tak menanggapi, namun terus melakukan indoktrinasi melalui kajian-kajian pentingnya mendirikan khilafah yang siap menjerumuskan para pendengarnya. Perlawanan mereka diwakilkan kepada para milenial pengikutnya. Mereka aktif mencaci-maki di YouTube. Mereka menjadi tumbal para atasannya.

Manipulator Khilafah Tahririyah

Istilah tersebut bukan sesuatu yang baru. Khilafah Tahririyah adalah istilah transformatif terhadap narasi khilafah ala Hizbut Tahrir. Oleh karena HTI dibubarkan, dan orangnya tersebar di mana-mana, maka menggeneralisasi mereka sudah tidak lagi memungkinkan. Satu-satunya cara ialah menandai: mereka tetap menggandeng ideologi HTI. Dan bahwa yang namanya narasi khilafah, itu sama sekali tak sesuai syariat, palsu, justru merupakan cerminan ideologi HTI belaka. Itulah fakta yang tak bisa disangkal.

Tetapi, perlu dicatat, itu perspektif presisi kita. Bagi mereka tidak demikian. Bagi para aktivisnya, khilafah ya khilafah. Bukan produk HTI, bukan pembuat onar, tidak berniat memecah-belah NKRI, dan yang terpenting, merupakan syariat Islam. Sedemikian doktrin ini merasuki para pengikut. Oleh para manipulator Khilafah Tahririyah, mereka sudah dibawa ke mindset terdalam yang telah rusak. Seberapa pun diluruskan, justru mereka akan menyengat balik kita.

Maka narasi ‘basi’, ‘kuno’, ‘tak menarik’ de el el bukanlah  sesuatu yang mesti mengernyitkan dahi. Respons tersebut merupakan konsekuensi logis dari dalamnya indoktrinasi merasuki kepala mereka. Mereka jadi bebal, beku, dan buta. Atasan mereka, para manipulator pun terbahak-bahak; mereka sukses membodohi milenial lugu berhasrat keagamaan tinggi tetapi tidak paham apa-apa perihal yang sebenarnya. Dan kalau pun diajari kontra-khilafah, mereka pasti menolaknya dengan cacian serupa.

Alhasil, kita berada di depan perang, antara ideologi melawan kebenaran. Kebenaran yang ideologis jelas keliru, karena mereka memakai tolok ukur kebenaran melalui kacamata ideologinya sendiri. Sementara kita yang mencoba realistis-kontekstual dituduh liberal, thaghut, dan penolakan lainnya. Upaya kita menolong mereka dari keterjerumusan lembah gelap khilafah, justru diserang balik melalui anggapan basi dan kuno. Ironi. Kita memang menghadapi pilihan yang sangat dilematis: mau ditolong kita diserang, mau dibiarkan kita semua hancur bersama. Na‘udzu billah.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru