29.6 C
Jakarta

Fenomena “Star Syndrome” di Kalangan Penulis

Artikel Trending

KhazanahLiterasiFenomena “Star Syndrome” di Kalangan Penulis
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Masih hangat dalam memori ingatan, ketika beberapa waktu lalu, dua pria penyanyi kafe yang selama ini sering meng-cover beragam jenis lagu, dihujat habis-habisan oleh netizen gara-gara videonya (yang sedang menirukan gaya bernyanyi salah satu vokalis band ternama) tersebar di berbagai media, salah satunya tersebar luas lewat aplikasi TikTok.

Mengapa kedua pria tersebut dihujat habis-habisan, khususnya oleh para penggemar band ternama tersebut? Pasalnya, cara menirukan gaya bernyanyi sang vokalis band itu sudah melampaui batas dan lebih cenderung kepada mengolok-olok. Dari sini, netizen tentu lebih paham dan tak bisa dibohongi saat melihat gesture dan mulut kedua pria penyanyi kafe itu menirukan dan terkesan melecehkan gaya bernyanyi sang vokalis band tersebut. Kemungkinan besar, kedua penyanyi kafe yang sedang naik daun itu sedang terserang star syndrome.

Definisi star syndrome menurut dr. Vina Liliana adalah kondisi yang digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang merasa dirinya sudah sempurna dan sangat terkenal bagai bintang-bintang terkenal meski kenyataannya tidak seperti itu. Orang yang terkena gejala star syndrome biasanya memiliki ciri, antara lain: sering mengacuhkan dan menyepelekan orang lain, berusaha melakukan berbagai hal untuk menarik perhatian orang banyak, dan lain sebagainya. Star syndrome ini biasanya muncul pada orang-orang yang baru saja terkenal atau mendadak kaya, sehingga terjadi perubahan drastis dalam kehidupannya (sehatq.com).

Disadari atau tidak, star syndrome juga menjangkiti sebagian penulis atau pengarang. Berdasarkan pengamatan saya selama ini, ada sebagian penulis yang terkesan merasa sok hebat dan sok tahu segalanya ketimbang penulis lainnya. Bahkan, saya pernah melihat seorang penulis yang telah menerbitkan buku, begitu entengnya membuat semacam guyonan yang menjurus pada olok-olok atau merendahkan para pembaca buku-buku penulis best seller.

Padahal setahu saya, penulis yang membuat guyonan tak bermutu itu karyanya belum ada yang best seller. Saya lantas berpikir, jangan-jangan dia sedang terserang star syndrome, sebagaimana dialami oleh dua penyanyi kafe itu? Hanya karena (merasa) telah menjadi seorang pengarang yang telah melahirkan karya, lalu dengan mudahnya melecehkan karya penulis lain yang lebih banyak penggemarnya? Entahlah.

Sungguh sangat miris rasanya bila ada sebagian penulis yang mulutnya begitu enteng mengeluarkan kata-kata hinaan atau melecehkan penulis lainnya. Atau jari-jemarinya begitu ringan mengetikkan kata-kata yang merendahkan karya dari para penulis lain. Terlebih bila yang melakukannya adalah penulis yang tergolong senior, sudah lama berkecimpung di dunia kepenulisan. Mestinya, seorang penulis senior harus memberikan keteladanan yang baik kepada para penulis pemula.

BACA JUGA  Pegiat Literasi? Berikut Enam Nasihat Menulis dari George Orwell

Lebih miris lagi bila ada penulis yang baru melahirkan sedikit karya, tapi sudah merasa sok hebat, sok terkenal dan populer, sehingga dia merasa punya hak dan berani untuk melakukan olok-olok atau merendahkan karya para penulis senior yang telah memiliki karya yang sangat banyak dan sebagiannya masuk dalam jajaran buku-buku best seller.

Fenomena star syndrome di kalangan para penulis memang nyata adanya dan sebagai penulis kita harus selalu mewaspadai gejalanya. Ya, kita harus waspada, jangan sampai kita terjerumus pada penyakit hati bernama star syndrome yang bisa menyebabkan hubungan dengan sesama penulis menjadi renggang bahkan rentan terjadi permusuhan.

Setiap penulis, selain memiliki gaya atau ciri khas tersendiri juga memiliki selera bacaan yang berbeda. Satu hal terpenting yang harus kita waspadai ialah: ketika melihat karya orang lain yang bukan termasuk selera kita atau tidak berkenan di hati kita, tak perlu kita suarakan lewat status media sosial. Tak perlu kita mengumbar kekurangan atau aib penulis lainnya. Mengkritisi karya orang tentu sah-sah saja sebagai bentuk kritikan dan masukan yang membangun, tetapi harus dengan cara-cara yang santun, elegan, dan tak menyakiti hati mereka.

Sebagai seorang penulis, kita tetap harus mengedapkan attitude yang baik dengan para penulis lainnya. Tak perlu merasa diri lebih tinggi dari penulis lain hanya gara-gara kita telah memiliki jam terbang tinggi di dunia kepenulisan. Jangan sampai kita dicap sebagai seorang penulis yang sombong, angkuh, keras hati, dan hanya mau bergaul dengan para penulis ternama saja. Sementara dengan penulis-penulis baru atau pemula, enggan mengenal, menyapa, dan malah menyepelekannya.

Saya sengaja membuat tulisan ini sebagai sebuah alarm atau pengingat, khususnya bagi diri saya yang bekecimpung dalam dunia kepenulisan, agar selalu mewaspadai gejala-gejala star syndrome yang bisa saja muncul sewaktu-waktu dan dapat menjadi penghancur karier kita. Wallahu a’lam bish-shawaab.

Sam Edy Yuswanto
Sam Edy Yuswanto
Bermukim di Kebumen, tulisannya dalam berbagai genre tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional, antara lain: Koran Sindo, Jawa Pos, Republika, Kompas Anak, Jateng Pos, Radar Banyumas, Merapi, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dll.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru