34.2 C
Jakarta

Fenomena Penghafal al-Qur’an di Kalangan Muslim Milenial

Artikel Trending

KhazanahOpiniFenomena Penghafal al-Qur'an di Kalangan Muslim Milenial
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Saya kira setiap Muslim sepakat bahwa mengafal al-Qur’an merupakan perbuatan yang sangat mulia. Karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa al-Qur’an adalah sumber pedoman bagi seluruh umat Islam, dari segala tempat dan zaman.

Tradisi menghafal sebenarnya sudah ada sejak zaman pewahyuan. Karena kala itu setiap al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad langsung dihafalkan oleh Nabi, kemudian disampaikan kepada para sahabat dengan metode oral. Meskipun adakalanya wahyu yang diturunkan oleh Allah kemudian ditulis oleh para sahabat Nabi yang diutus oleh Nabi seperti Zaid bin Tsabit.

Perlu diketahui, pada mulanya al-Qur’an adalah firman Allah yang dijaga oleh Nabi dan sahabat dengan cara menghafal. Dulu belum ada mushaf  seperti yang kita lihat saat ini. Dalam catatan sejarah, pembukuan al-Qur’an pertama kali diprakarsai oleh khalifah Utsman bin Affan, merupakan proyek lanjutan dari hasil kompilasi kepingan-kepingan pada masa Umar bin Khattab.

Alasan kenapa Utsman bin Affan kemudian membukukan al-Qur’an adalah, di antaranya, karena banyaknya para penghafal al-Qur’an yang gugur di peperangan. Alasan yang lain timbul dari “konspirasi” bidang qira’at, yaitu untuk menyelaraskan bacaan dalam al-Qur’an. Juga disebabkan beberapa beberapa politik kekhalifaan.

Pembukuan yang dilakukan oleh khalifah Utsman bin Affan sangat berkontribusi besar bagi umat muslim. Karena adanya mushaf yang saat ini kita baca tidak mungkin terlepas dari mushaf proyek dari khalifah Utsman bin Affan itu.

Perlu diketahui juga, berkat adanya mushaf Utsmani yang disebarkan ke berbagai belahan dunia, seluruh umat Muslim dapat membaca firman-firman Allah. Dengan sebab ini pula, setiap umat Muslim berusaha untuk mencoba memahami dan mempelajari apa saja yang terkait dengan al-Qur’an. Salah satunya adalah dengan menghafal.

Hikmah Penyebaran al-Qur’an

Dampak lain dengan dikenalnya al-Qur’an ke suluruh dunia, setiap Muslim yang mempelajarinya sudah mutlak hukumnya untuk menguasai bahasa Arab. Karena al-Qur’an sendiri diturunkan dengan bahasa Arab. Namun tidak hanya itu, dalam memahaminya pun harus menguasai fan-fan ilmu yang berhubungan dengannya atau yang disebut dengan Kaidah Tafsir. Hal demikian tidak terlepas dari keagungan dan keindahan bahasa al-Qur’an.

Tentu berbicara tentang kompleksitas dalam memahami al-Qur’an tidak dapat penulis jelaskan secara komprehensif di sini. Jadi itu hanyalah gambaran. Intinya, penulis hendak mengungkapkan bahwa menghafal merupakan salah satu dari bidang ilmu dari al-Qur’an itu sendiri.

Penting untuk digarisbawahi, bahwa orientasi dan tradisi dalam menghafal al-Qur’an dari era terdahulu hingga sekarang sudah berubah seiring perkembangannya zaman. Hal itu tidak terlepas dari keterbatasan umat Muslim sendiri. Masalah bagi kami para pembelajar  saat ini ada dua pilihan, yaitu kita menginginkan untuk hafal dengan sangat lancar. Namun di sisi lain, kita juga dituntut untuk mempelajari segala aspek keilmuan yang tujuannya adalah untuk memahami al-Qur’an. Dan itu juga bukan suatu hal yang mudah.

BACA JUGA  Pemilu 2024: Menyelamatkan Demokrasi dari Ancaman Radikalisme

Oleh karenanya dalam pengamatan penulis, setidaknya terdapat tiga fenomena orang yang menghafalkan di era zaman sekarang. Pertama, adalah seorang yang menghafal al-Qur’an karena tujuan eksistensi. Biasanya fenomena ini dilatarbelakangi tuntutan dari orang tua, kerabat, saudara ataupun keadaan. Misalnya ia malu berada di dekat para penghafal, sedangkan dirinya tidak. Lalu muncullah motivasi untuk menghafal.

Golongan ini sangat eksis dan bahkan tidak akan berpikir ulang untuk mengultimatum kepada semua orang bahwa “saya adalah seorang penghafal”. Makanya tidak jarang orang-orang seperti ini selalu mengekspos kegiatannya yang berkaitan dengan penunjukan eksistensinya.

Dimana Posisi Penulis?

Penulis di sini jelas hanya menceritakan hasil pengamatan, bukan tuduhan yang final, apalagi menghukumi. Selebihnya silahkan teman-teman kroscek dan silahkan diamati secara seksama.
Kedua, adalah golongan yang benar-benar mencintai al-Qur’an. Biasanya golongan ini berbarengan dengan hobi psikolognya yang lebih condong berkemampuan untuk menghafal.

Golongan seperti ini sudah bukan masalah eksistensi lagi yang dipikirkan, tetapi mereka benar-benar menikmati ketika ia sedang membaca dan menghafal al-Qur’an. Jadi tidak jarang bagi golongan ini mengahabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membaca al-Qur’an. Bahkan kata mereka “kalo sehari aku tidak nderes aku meresa menjadi orang paling buruk di Dunia.

Ketiga, adalah golongan para penghafal Qur’an yang menganggap sebagai salah satu usaha dalam memahaminya. Biasanya golongan ini sangat merahasiakan hafalannya, karena bagi mereka menghafalkan al-Qur’an adalah suatu yang sangat privasi. Golongan ini juga beranggapan bahwa dengan menghafal  dia dapat dengan mudah untuk berdialog kepada Allah SWT. Oleh karenya bagi golongan ini cukuplah aku dan Allah saja yang tau tentang hafalanku ini.

Golongan ini orientasinya sangat sederhana namun ribet. Karena bagi mereka menghafal bukan tentang lancar dan berani dikontestasikan, tapi bagi mereka adalah bagaimana kita sudah berusaha untuk memahami kalam-kalam tuhan dengan jalan mencoba menghafal. Jadi sangat wajar jika golongan sangat enggan untuk melakukan Simakan dan tradisi-tradisi lain sebagaimana penghafal al-Qur’an.

Karena bagi golongan ini pencapaian yang paling membangkan ketika menghafal bukan ketika hafal, lancar, berani simakan dan diwisudakan. Melainkan dengan memahami dan mendalami dari satu ayat ke ayat lain bagi mereka adalah sesuatu yang sangat memuaskan.

Lalu manakah yang paling benar? Lagi-lagi penulis katakan bahwa itu bukan ranah penulis untuk menghakimi dan menjudge mana yang benar. Itu hanyalah pengamatan singkat yang dilakukan oleh penulis dan berkeinginan untuk menceritakan. Tentunya, penulis tidak menutup kemungkinan jika masih ada golongan-golongan yang lain selain tiga di atas.

Namun terlepas dari semua itu, penulis sangat meyakini bahwa menghafal adalah sesuatu yang sangat agung dan mulia. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita bersyukur karena masih banyak remaja Muslim di Indonesia yang bersusah payah menghafalkan al-Qur’an.

Latif Sulton, M.A
Latif Sulton, M.A
Pegiat Kajian Islam dan Politik

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru