25 C
Jakarta

Fenomena Muhammad Kace dan Konsekuensi Logis Ruang Maya

Artikel Trending

KhazanahTelaahFenomena Muhammad Kace dan Konsekuensi Logis Ruang Maya
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.comMuhammad Kace, seorang YouTuber yang sedang naik daun akibat postingannya melalui kanal YouTube pribadinya. Kalimat yang dilontarkan olehnya menuai banyak kontroversi, dan dianggap menistakaan agama Islam. Respons berbagai pihakterus berdatangan. Ada banyak sekali kelompok melaporkan tindakan tersebut ke pihak kepolisian, mulai dari Muhammadiyah, NU, SI dan beberapa kelompok umat Islam yang merasa bahwa apa yang dilakukan oleh Muhammad Kace ini tidak beradab dan biadab.

Jika kita melihat video yang tampil di beberapa ruang maya, ada beberapa yang bisa dilihat dari pernyataan Muhammad Kace dalam video yang berjudul “Kitab Kuning Membingungkan”, ia menyebut bahwa Muhammad bin Abdul pengikut Jin.  Pada video lain, ia juga menyebut bahwa Muhammad dikerumuni Jin serta Muhammad tidak ada ayatnya dekat dengan Allah.

“Islam ini hanya sebatas politik untuk cari makan, jangan jadi marketing Arab orang Indonesia. jangan menyebarluaskan membanga-banggakan alam. Tidak ada apa-apanya Muhammad bin Abdullah itu. Makanya di Al-Qur’an tidak tertulis Muhammad bin Abdullah. Karena Tuhan tahu, katanya Muhammad itu utusan Allah. Tapi kenapa tidak satupun wahyu yang turu kepada Muhammad”, begitulah cuplikan isi video singkat yang tersebar dari Muhammad Kace.

Apa yang dilakukan oleh Muhammad Kace ini sebenarnya sudah dilaporkan sejak April 2021 silam. Akan tetapi sampai saat ini belum mendapat respond dan penindakan secara tegas oleh pihak yang berwajib. Meskipun demikian, viralnya kalimat yang disampaikan oleh Muhammad Kace ini bisa memicu kemarahan publik, khususnya umat Islam yang selama ini berpegang teguh terhadap Al-Quran dan Hadis, serta menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai role model, dalam kerasulan dan adab paling mulia disisi Allah sebagai kekasihNya.

Ruang Maya Bebas Berekspresi, Bahkan Orang Gila Sekalipun

Kita sepakat bahwa media sosial adalah ruang berekspresi manusia modern, dalam menyampaikan segala kegelisahan yang dialaminya. Menjadi ruang yang memberikan ilmu pengetahuan, informasi bahkan ruang dakwah untuk sebagian orang. Sebagian yang lain memanfaatkan sebagai sumber rezeki bagi dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, serta ruang eksis dan pegakuan diri menjadi manusia yang utuh.

BACA JUGA  Menimbang Sisi Toleransi Ustaz Sobri Lubis

Berdasarkan hal ini, maka konsekuensi logis dari ruang ekspresi ini juga diberikan kepada orang-orang  tanpa melihat jenis kelamin, kegalauan yang dialaminya bahkan orang gila sekalipun bisa mengakses media sosial dan membuat konten YouTube. Fenomena ini sama seperti yang terjadi pada Muhammad Kace.

Jika melihat lebih jauh, apa yang dilakukan oleh Muhammad Kace sebenarnya salah satu alasannya agar dia bisa eksis dan dikenal publik secara luas. Pernyataan yang kontroversial, bahkan menghina agama, sekalipun ia berpeci dan berpenampilan seperti layaknya orang Islam, tidak lantas membuat seseorang berperilaku sama seperti yang diajarkan oleh Allah dan Rasulullah.

Apalagi jika melihat postingan melalui kanal YouTube-nya, sejak postingannya muncul dari tahun 2020, ia mencantumkan nomor rekening yang bisa digunakan oleh para penonton youtube untuk memberikan donasi atas apa yang sudah diberikan oleh Muhammad Kace berupa video yang sangat tidak beradab tersebut.

Fenomena ini bukanlah hal baru. Banyak sekali orang-orang sejenis dengan Muhammad Kace ini seperti ingin diperhatikan, ia butuh perhatian, akan tetapi menggunakan cara yang berbeda. Ia butuh pengakuan publik, dengan cara yang tidak biasa dilakukan oleh para youtuber muslim lainnya. Akhirnya melalui kasus ini, rating youtubenya akan naik, namanya akan dikenal banyak orang dan bisa menjadi ajang eksistensi yang utuh bagi dirinya.

Umat Islam yang kemudian agresif semakin kesal dengan perilaku orang gila semacam ini, meskipun pada dasarnya apa yang disampaikan oleh Muhammad Kace ini tidak akan diterima publik, bukan berarti kita memberikan ruang aman dan kebebasan untuk dia bersuara dan terus menghidupkan virus masyarakat semacam itu.

Kita tidak bisa mentolerir perbuatan Muhammad Kace yang berbuat semaunya, bahkan dianggap wajar sebagai kebebasan. Ada nilai yang dilabrak oleh Muhammad Kace, mulai dari tidak menghargai agama Islam, menghina, menistakan, mencaci maki serta ujaran kebencial lainnya.

Akan tetapi media sosial tidak membatasi orang semacam ini. Ruang media sosial sangat moderat dengan tetap memberikan ruang bagi siapapun untuk berekspresi, termasuk orang gila seperti Muhammad Kace ini.

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru