25.7 C
Jakarta

Fatih Karim dan Gurita Bisnis Yayasan Penyebar Kegilaan Khilafah HTI

Artikel Trending

Milenial IslamFatih Karim dan Gurita Bisnis Yayasan Penyebar Kegilaan Khilafah HTI
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Fatih Karim, aktor penting dalam struktural organisasi HTI dan memiliki banyak yayasan di Indonesia. Yayasan-yayasan ini dijadikan sebagai lahan bisnis, sekaligus sebagai wadah dalam merekrut orang untuk masuk dalam organisasi HTI.

Gurita Bisnis HTI

Yayasan Cinta Quran Foundation dan yayasan Indonesia Bisa Mengaji adalah secuil contoh lahan bisnis mereka. Dua yayasan ini didirikan hanya untuk meraup untung dan pundi-pundi uang dengan memanfaatkan program-pogram Al-Qur’an. Al-Qur’an dijadikan sebagai binis dan jualan olehnya.

Tak asing memang program ini di Indonesia. Tapi riilnya, mereka bukan hanya mencari uang semata. Mereka juga memiliki misi gila yang kalau dibiarkan tumbuh akan menghanguskan keindonesiaan yang ada.

Yayasan Cinta Quran Foundation didirikan dengan legalitas akta notaris Andry Surya Darma Sakti, S.H., M.Kn No 01, pada Tanggal 20 November 2013 dengan lembaga yayasan bernama Yayasan Cinta Quran Global berkedudukan dan berkantor pusat di kota Bogor.

Sementara dalam Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI tercatat resmi pada 24 Januari 2012 dan terdaftar sebagai Yayasan Non-Profit (NGO) di Kemenhukham Republik Indonesia No. AHU – AHU-1713.AH.01.04 Tahun 2014. Termasuk terdaftar di Pemerintah Indonesia sebagai NPO, bernama Cinta Quran Foundation Non-profit organization registration number: 03.337.223.6.404.000 Surat Tanda Pencatatan Yayasan/Orsos, Nomor: 460/1138 – Bangsos.

Dari pendirian dan legal semua itu, mereka mempunyai maksud dan tujuan dengan alibi untuk bererak di sosial dan kemanusiaan. Faktanya, hingga saat ini, tujuan-tujuan untuk sosial dan kemanusiaan adalah bulsit belaka. Faktanya lain, yayasan itu ujungnya hanyalah ingin membesarkan HTI melalaui cara yang halus, yakni dengan menawarkan program baca tulis Al-Qur’an. Setelah mendapatkan banyak uang dari program ini, maka ia bisa membawa orang dan mendanai seluruh kegiatan HTI. Mereka tahu, tak ada yang tidak mungkin dengan uang dan agama di Indonesia ini.

Mereka sadar, HTI sudah tidak berdaya karena sudah dibubarkan oleh negara. Karena itu mereka tidak punya daya dalam menggelorakan ideologi dan program-program ajaran HTI. Makanya, dengan yayasan-yayasan Al-Qur’an ini, mereka bisa hidup dan bernafas lega, bisa kembali bertemu dengan targetnya.

Kibul di Lapangan

Apa yang mereka lakukan tidak ada lain selain untuk menawarkan ideologi HTI. Karena hal itu sudah menjadi jihad mereka. Jihad yang harus dan wajib dijalankan di Indonesia ini.

Di lapapangan, jalan pintas untuk menumbuhkan semangat keagamaan para anggotanya adalah dengan iming-iming surga, tempat, jabatan, dan cuan. Makanya banyak di kawasan pedesaan dan perkotaan di Indonesia menjamur wakaf-wakaf Qur’an, kegiatan Qur’an, termasuk rumah tahfiz Al-Qur’an.

BACA JUGA  Bjorka, Hilangnya Kepercayaan pada Pemerintah, dan Propaganda Teroris

Adalah target yang sering dihimbuskan kepada anggotanya, yayasan Yayasan Cinta Quran Foundation dan yayasan Indonesia Bisa Mengaji mendapat donatur sebanyak-banyaknya. Sejak permulaan dibentuknya pada 16 Januari 2016, lembaga ini mulai aktif bagaimana memperoleh dana Ziswaf (Zakat, Infaq, Waqaf) serta pematangan program-program unggulan yang akan di sampaikan ke halayak umum.

Apa yang akan dilakukan untuk umat Indonesia? Hanya iming-iming surga. Dari iming-iming itu Fatih mengajak umat Islam berwakaf Quran. Menurutnya, pahala wakaf akan terus mengalir meski pewakafnya meninggal dunia pahalanya tidak akan berhenti.

Gombalan Yayasan HTI

Fatih menggombal: “Sebab, Quran adalah sumber kemuliaan dan keindahan akan banyak mengubah kepribadian seseorang, seperti sahabat Nabi Khalid bin Walid berubah dengan Quran dan Umar bin Khattab berubah karena mendengar lantunan ayat suci Quran ia dekat dengan Quran,” kata Fatih dalam zoom virtual dengan tema “BWA Capai Satu Juta Wakaf Al-Qur’an” di Jakarta, Rabu (10/6).

Gombalan itu terlalu banyak ia sudah lontarkan kepada publik hanya untuk menarik perhatian. Fatih setali tiga uang dengan founder Badan Wakaf Al-Quran (BWA), Heru Binawan. Heru dengan BWAnya juga menggombal ingin melakukan penetrasi distribusi ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Bahkan Heru seperti kebiasannya berucap, “secara historis pernah dibuktikan bahwa Islam pernah mencatat tinta emas peradaban dunia. Ia pun mengapresiasi Badan Wakaf Al-Quran Indonesia pada April 2020 berhasil mencapai targetnya menghimpun satu juta kitab Al-Qur’an,” terangnya.

Kini mereka mengalami kejayaan. Yayasan Cinta Quran Foundation dan yayasan Indonesia Bisa Mengaji sudah mempunyai aset miliaran juta. Bahkan, Yayasan Wakaf Rumah Quran sudah memerima wakaf dari Keluarga Thalib berupa Radio Silaturahim Cibubur dengan aset senilai Rp4,5 miliar (tanah 600 meter dan bangunan tiga lantai), Radio Silaturahim Batam (Seila Fm Batam) yang akan dibaliknamakan, ditambah Sekolah Insan Mandiri Boarding School dengan ukuran tanah 2300 meter dan bangunan lima lantai dengan total aset senilai Rp23 miliar. Sebelumnya, mereka telah mengelola Masjid Umar Bin Khattab di Jatinegara, Jakarta Timur, wakaf dari Ir. Faried Thalib, pemilik asal Radio Silaturahim.

Yayasan HTI sudah menggurita di Indonesia. Dan sekarang umat Indonesia harus untuk menangkal pergerakan mereka. Termasuk pemerintah. Jika tidak, apalagi masih diberi akses, maka tunggulah mereka menguasai medan di Indonesia. Dan anak cucu kita yang menjadi tumbalnya. Mau?

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru