28.2 C
Jakarta

Fanatisme dan Eksklusivisme dalam Lingkaran Orang ‘Moderat’

Artikel Trending

KhazanahPerspektifFanatisme dan Eksklusivisme dalam Lingkaran Orang ‘Moderat’
image_pdfDownload PDF

Promosi konsep moderat semakin menjalar ke berbagai bidang. Mulanya, ajakan bersikap moderat hanya melingkupi kesadaran masing-masing individu, karena berawal dari diri sendirilah, kemoderatan dapat merasuk ke sendi-sendi lainnya. Kini, konsep moderat sudah mengalami pelembagaan yang dapat dilihat melalui integrasi dengan ranah-ranah tertentu, seperti moderasi pendidikan dan moderasi beragama.

Konsep moderat disinyalir sebagai konsep paling solutif dalam menghadapi situasi yang kian tak keruan, terutama perihal keberagamaan. Maka, sejurus dengan melangitnya konsep moderat, muncullah kelompok-kelompok tertentu sebagai bentuk respons terhadap hal tersebut.

Moderat (moderation), secara umum dapat dipahami sebagai sikap yang mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan, moral, dan watak, baik ketika memperlakukan orang lain sebagai individu, maupun ketika berhadapan dengan institusi negara. Sedangkan dalam khazanah Islam, moderasi dikenal dengan kata wasath atau wasathiyah, yang memiliki padanan makna dengan kata tawassuth (tengah-tengah), i’tidal (adil), dan tawazun (berimbang). Secara sederhana, moderat adalah suatu sikap yang adil dan arif dalam memperlakukan suatu hal.

Terkait dengan konsep moderat, menurut saya, setidaknya ada dua model kelompok agama yang meresponsnya. Tetapi sebelum membahas itu, terlebih dahulu perlu kita sepakati bahwa tujuan sejati dipromosikannya konsep moderat tak lain sebagai konter pemahaman radikal agama yang kerap berujung pada tindak terorisme. Kecenderungan perihal paham radikal tersebut mengarah pada suatu kelompok tertentu. Kelompok inilah yang kemudian saya sebut sebagai kelompok pertama.

Keberadaan kelompok pertama merupakan target dari anggapan-anggapan radikalisme-terorisme. Stigmaisasi yang menyudutkan mereka sebagai bagian dari pihak yang patut dicurigai, telanjur tertanam di benak orang banyak. Memang tak sedikit yang terbukti demikian, namun bukan berarti semua individu berlaku serupa.

Justru, stigma yang melekat pada mereka seakan jadi penyulut amarah sehingga timbul kekecewaan. Menjadi masuk akal jika sebagian dari mereka, alih-alih bertobat malah semakin mengekspresikan melalui tindakan yang mengarah pada terorisme. Maka, ketika disodori konsep moderat, respons mereka adalah menolak secara tegas.

Respons selanjutnya adalah dari kelompok kedua, yaitu kelompok yang terang-terangan mengamini sekaligus memberikan dukungan perihal konsep moderat. Konsekuansi logisnya, tentu saja mereka turut meyakini bahwa pemahaman kelompok pertama mesti dijegal dan diperangi menggunakan wacana-wacana yang visioner.

Kelompok kedua meyakini bahwa konsep moderat bakal menimbulkan situasi seimbang. Berkurangnya ekstistensi kelompok pertama, yang berarti berkurang pula tindakan-tindakan radikalisme-terorisme. Kondisi keberagamaan dalam ragam dan rupa-rupa yang terjadi di Indonesia, lambat laun akan dipenuhi nuansa perdamaian. Kelompok ini pun percaya bahwa perbedaan adalah sunnatullah, keniscayaan yang mustahil dielakkan. Bukan saja perihal antaragama, bahkan dalam satu agama, misal Islam, memiliki corak penganutnya yang berbeda pula.

Atas kesesuaiannya dengan konsep moderat yang begitu dielu-elukan, kelompok kedua mengambil peran sebagai pihak yang paling kaffah kemoderatannya. Mereka merasa sudah sangat berlaku bijak bersikap pada agama selain Islam, menjunjung toleransi tanpa tedheng aling-aling.

Di saat yang bersamaan, saking gigihnya merawat kemoderatannya, tak sedikit dari mereka yang terjerembab pada laku fanatisme. Fanatisme sendiri ialah keyakinan yang terlalu kuat terhadap sebuah ajaran, baik politik, agama, dan sebagainya. Menurut Karlina Supelli (2011), fanatik ditandani dengan munculnya sikap dogmatik, yakni penerimaan sebuah ajaran sebagai hal yang baik sehingga tak boleh terbantahkan lagi.

BACA JUGA  Kontra-Radikalisme: Memberantas Fenomena Taklid Buta yang Berbahaya

Saya harus jujur, seringkali saya jumpai tipe orang yang saya tahu ia tergolong kelompok kedua, tetapi begitu anti dengan kelompok pertama. Bahkan beberapa ada yang sangat membencinya. Orang tersebut dengan percaya diri mengaku moderat, menghargai perbedaan dan bersikap toleran. Tetapi di sisi lain, ia juga terang-terangan tak menyukai orang-orang kelompok pertama, serta skeptis terhadap apapun yang menyangkutnya. Orang yang begini ini juga tak mau tahu perihal dinamika sesungguhnya dari kelompok pertama. Ia memukul rata bahwa kelompok pertama adalah pihak yang wajib dijauhi (titik!).

Lantas saya jadi berpikir, apakah sikap tersebut masih tergolong dalam konsep moderat? Yang konon, berdiri pada sisi tengah tanpa tendesi menyudutkan salah satu dari yang mengapitnya. Seiring waktu, saya malah berpandangan, bahwa model orang yang mengaku paling moderat itu, tak lain sudah kelewat batas kelaziman atas nama memerangi radikalisme-terorisme. Mereka melupakan salah satu asas penting, yakni kemanusiaan yang pada dasarnya memandang manusia sebagai subjek tunggal tanpa mempertimbangkan hal-hal yang mengitari manusia itu sendiri.

Sederhananya, orang yang mengaku paling moderat tersebut, sesungguhnya telah benar-benar terkukung dalam sikap fanatik, yang berakibat pada eksklusivisme semata. Benar, boleh jadi ia berlaku bijak dengan orang yang beragama selain Islam. Akan tetapi di saat yang sama, ia juga menorehkan luka pada saudara sesama Islam, yang kebetulan berada di posisi kelompok pertama tadi.

Eksklusivisme orang ‘moderat’ menjadi semacam keambiguan dalam rangka menyadarkan kelompok pertama, yang juga cenderung eksklusif. Maksud saya, akankah berhasil misi tersebut jika sikap eksklusif selalu dilawan menggunakan sikap eksklusif pula. Semacam memadamkan api dengan api, rasanya tak mungkin.

Metode pendekatan dengan orang-orang kelompok pertama justru dimulai dari keterbukaan atas segala hal. Pendekatan humanis, mengedepankan rasa sesama manusia, bukan dengan prasangka. Jika pun mereka (kelompok pertama) menolak untuk didekati, tak perlu kiranya membenci, apalagi anti pati.

Memang bukan perkara yang mudah bersikap demikian. Sama halnya tak mudah pula bersikap moderat. Maka jangan buru-buru mengaku moderat jika belum bisa bersikap adil terhadap segala kalangan. Jika ada orang yang mengaku moderat beranggapan bahwa kelompok pertama sedang dalam keadaan kurang waras, maka jangan ikut-ikutan kurang waras juga.

Tetapi jika masih ingin berlarut-larut dalam fanatisme dan eksklusivisme sebagai prinsip yang teranut, pertanyaanya, masih pantaskah orang tersebut menyematkan embel-embel ‘moderat’ pada dirinya sendiri!?

Indarka Putra
Indarka Putra
Alumni Fakultas Syariah IAIN Surakarta, Ketua Umum Generasi Baru Indonesia (GenBI) Jawa Tengah periode 2020-2022, bermukim di Telatah Kartasura.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru