30.2 C
Jakarta

Eks-Napiter, Deradikalisasi, dan Pelajaran untuk Kita

Artikel Trending

Milenial IslamEks-Napiter, Deradikalisasi, dan Pelajaran untuk Kita
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Ketika mengucapkan belasungkawa atas wafatnya Aiptu Sofyan Didu, juga beberapa korban yang terluka akibat bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar, Bandung, Rabu (7/12) kemarin, seorang rekan berkomentar penasaran, “Siapa pelaku bom kemarin?”, “JAD,” jawab saya. Ia kemudian melanjutkan pertanyaannya, kali ini agak sinis, “Ngapain ngebom di situ?”, saya kemudian menjawab, “Apa maksud pertanyaan ini? Apakah hendak menuduh peristiwa kemarin sebagai rekayasa?”

Pertanyaan semacam itu lumrah. Dalam anggapan orang-orang yang skeptis, terorisme adalah konspirasi belaka. Mereka, sebagaimana teroris yang tidak percaya demokrasi, tidak percaya semua yang berkenaan dengan terorisme. Baik itu aparat, pelaku, atau korban. Aparat dianggap sengaja merekayasa kejadian, pelaku dianggap suruhan untuk menjelekkan Islam, dan korban dianggap hanyalah tumbal proyek. Tak ada simpati. Termasuk pada tragedi bom bunuh diri.

Pelaku teror di Polsek Astana Anyar kemarin memang mengagetkan banyak pihak. Sebab, pelaku, yakni Agus Sujatno, merupakan residivis bom Cicendo, Bandung pada 2017 silam. Setelah dipenjara empat tahun di Lapas Nusakambangan dan bebas pada 2021, bersama pendampingan deradikalisasi rutin, Agus tetap tidak mau tanda tangan ikrar NKRI. Dengan kebebasan yang diberikan padanya, ternyata ia belum puas. Ia membenci aparat sebagai anshar al-thaghut, lalu ia pun lakukan bunuh diri.

Eks-napiter Agus dan aksinya kemarin menyudutkan deradikalisasi. Efektivitas deradikalisasi disangsikan hanya karena satu dari ratusan orang yang sudah kembali ke NKRI berulah. Tentu saja dari situ banyak pelajaran didapat. Namun, untuk menganggap deradikalisasi sebagai sesuatu yang gagal, itu terlalu buru-buru. Karena banyak faktor, aksi teror terjadi. Artinya, deradikalisasi tidak bisa dijadikan satu-satunya kambing hitam. Aksi eks-napiter harus dilihat dalam dalam lanskap yang lebih luas.

Membunuh Anshar al-Thaghut

Sementara masyarakat beranggapan, bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar salah sasaran. Seorang eks-napiter dari kelompok yang berbeda dengan Agus Sujatno bahkan berkomentar, “Bodoh ngebom di situ, kalau mau bunuh thaghut kenapa gak di gereja saja?”. Tentu saja, komentar tersebut bukan dalam rangka meminta pengeboman gereja. Hanya perpeloncoan. Bagaimanapun, polisi dianggap anshar al-thaghut, pembantu thaghut. Maka merekalah yang jadi target untuk dibunuh.

Namun, karena peristiwa kemarin, eks-napiter lainnya yang sudah menjalani pembinaan dan berikrar setia NKRI ikut kena imbas. Masyarakat saat ini mempunyai dua uneg-uneg: mempertanyakan efektivitas deradikalisasi dan meragukan ketulusan eks-napiter itu sendiri. Di kalangan eks-napiter yang sudah benar-benar hijrah ke NKRI, mereka bilang sangat menyayangkan aksi teroris JAD kemarin. Sementara di kalangan aparat, mereka butuh evaluasi untuk agenda ke depan.

Apakah pandangan masyarakat tersebut bisa dimaklumi? Jelas. Tetapi pelajaran dari peristiwa kemarin tidak bisa parsial hanya dengan menyorot eks-napiter dan deradikalisasi. Ada masalah yang jauh lebih urgen untuk dipahami dan menjadi langkah strategis bersama ke depan, yakni perihal JAD itu sendiri. JAD adalah kelompok teror afiliasi ISIS. Apa yang Agus lakukan di Polsek Astana Anyar mirip dengan yang dilakukan Amir/Khalifah ISIS, Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurasyi, pada Februari lalu.

Setelah itu, ISIS dipimpin oleh Abu al-Hasan al-Hashimi al-Qurashi sejak bulan Maret. Namun tidak lama, ia juga tewas. Khalifah keempat kemudian diangkat seminggu lalu, 30 November. Juru bicara ISIS Abu Omar al-Muhajir mengumumkan Abu al-Hussein al-Husseini al-Qurashi sebagai penerus Abu al-Hasan. Gerakan ISIS terus berlanjut, suksesi kepemimpinan juga tidak putus. Lalu tersiar kabar dari Suriah, mengapa jihadis Asia Tenggara pada tiarap. JAD menjawabnya melalui bom Polsek Astana Anyar.

Artinya, tidak sulit untuk menganalisis peristiwa kemarin sebagai sinyal pemantik teroris JAD untuk membangunkan para militan lain dan kembali menunjukkan taringnya. Ke depan, bisa jadi eskalasinya meningkat karena menjelang akhir tahun. Ada dua pelajaran yang bisa ditangkap dari peristiwa bom di Polsek Astana Anyar. Pertama, jaringan JAD belum punah, bahkan masih besar, sehingga harus ditelusuri lagi. Kedua, deradikalisasi belum sukses total, dan teroris berpotensi bangun lagi.

Deradikalisasi Eks-Napiter

Hari ini, semarak diperbincangkan masyarakat, bahkan dikritik Australia, adalah kabar kebebasan Umar Patek. Pelaku Bom Bali tersebut bebas bersyarat pada Rabu (7/12), di hari yang sama dengan peristiwa bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar. Perbincangan mengerucut pada soal layakkah ia bebas, dan apakah ia dijamin tidak akan berulah lagi. Banyak yang percaya Umar akan jadi warga yang baik pasca-bebas, yang artinya deradikalisasi terhadapnya berhasil.

Namun demikian, deradikalisasi eks-napiter bukan pembinaan yang hampa. Ia butuh akomodasi yang tidak sedikit dan mempertaruhkan dua hal besar: kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan konsistensi eks-napiter terhadap deradikalisasi itu sendiri. Faktanya, setiap aksi teror pasca-pembinaan berasal dari inisiatif personal sehingga tidak bisa digeneralisasi sebagai kegagalan deradikalisasi. Berbenah, jelas, tetapi bukan berarti barometer kegagalan.

Deradikalisasi ibarat komponen dalam pesawat. Dalam satu kecelakaan penerbangan, kebijakannya tidak melalui penghapusan komponen tersebut karena kejadiannya akan lebih fatal. Hari ini, eks-napiter yang berhasil hijrah dengan tulus sangat banyak. Segelintir dari mereka yang menggunakan deradikalisasi dan ikrar setia NKRI sebagai taktik bebas belaka tak menjadikan deradikalisasi sebagai sesuatu yang tidak penting. Sekali lagi, hanya perlu evaluasi dan berbenah.

Dari eks-napiter, semua harus belajar bahwa ideologi teror sangat berbahaya. Sekali terpapar, penyakitnya sulit sembuh. Dari deradikalisasi, semua juga harus belajar bahwa NKRI adalah sesuatu yang mahal. Karenanya, menghindari terorisme dan mencintai NKRI adalah keharusan yang paten dilakukan sejak dini. Bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar merupakan preseden buruk dari sikap anti-NKRI, sehingga tugas deradikalisasi untuk eks-napiter harus ditingkatkan lagi. Terorisme masih sangat mengancam.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru