28.3 C
Jakarta

Edan, Memperebutkan Kekuasaan dengan Mengatasnamakan Tuhan!

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanEdan, Memperebutkan Kekuasaan dengan Mengatasnamakan Tuhan!
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Ada sebuah tulisan KH. Husein Muhammad dalam sebuah buku berjudul Islam: Cinta, Keindahan, dan Kemanusian. Tulisan yang dimaksud bertajuk Atas Nama Tuhan: Merusak Citra Agama. Pada tulisan ini Kyai Husein memulai dengan perselisihan antara dua kelompok Islam, yaitu kelompok konservatif dan kelompok progresif. Kelompok konservatif menuduh kelompok progresif dengan klaim kafir dan menghancurkan agama. Bahkan, mereka dituduh pula sebagai antek Barat, sekularis, liberal, sinkretis, dan lain-lain.

Sebaliknya, kelompok progresif menyebut kelompok konservatif dengan orang yang memasung, menghambat, mematikan dinamika dan sirkuit kemajuan umat dan bangsa-bangsa. Karena, dengan kehadiran kelompok konservatif ini, bagi kelompok progresif, umat Islam ke depan semakin terpuruk, bodoh, miskin, dan tidak berdaya. Kelompok progresif mengharapkan masyarakat muslim harus dibebaskan dari rantai dan belenggu-belenggu yang memasung mereka.

Perselisihan antara dua kelompok tersebut, jika diperhatikan sekilas, disebabkan karena alasan ideologis dan teologis. Karena, yang diperselisihkan di antara kedua kelompok ini berkutat pada tema-tema agama dan ketuhanan. Mereka mempersoalkan penafsiran terhadap teks agama, baik terlalu sempit (tertutup) ataupun terlalu luas (liberal). Perselisihan semacam ini mirip dengan perdebatan teologis antara kelompok Sunni dan Syiah, antara kelompok Qadariyah dan Jabariyah, dan seterusnya. Pertanyaannya, benarkah perselisihan itu hanya sebatas motif ideologi dan teologi?

Farah Anton–sebagaimana dikutip oleh Kyai Husein dalam tulisannya–menulis dalam buku Ibnu Rusyd wa Falsafatuhu bahwa perang antara kaum Salafi, Asy’ariyan, dan Mu’tazilah sama sekali bukan karena motif teologis, meski di antara mereka terdapat perbedaan teologis yang amat tajam. Kemudian, pemberontakan Khawarij, peristiwa penyerangan gerakan Karamit, dan lain-lain terjadi karena dipicu oleh kepentingan-kepentingan politik dalam rangka penguasaan atas rakyat.

Pandangan Anton itu memang benar adanya. Bahwa perselisihan dan perang itu terjadi bukan murni karena perang ideologi dan teologi melainkan karena dorongan politik yang melatarbelakangi. Perhatikan saja perselisihan orang-orang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menentang kebijakan pemerintahan yang sah. HTI berani melakukan itu semua karena untuk merebut kekuasaan dari tangan pemerintahan itu. Meski, mereka sendiri sering membungkus kepentingannya dengan isu-isu agama. Semisal, pentingnya mendirikan Khilafah dan membentuk Negara Islam (Daulah Islamiyah).

Selain itu, aksi-aksi kelompok teroris yang mengebom kantor kepolisian di beberapa wilayah di Indonesia sesungguhnya bukan karena kepentingan agama, melainkan kepentingan politik dan kelompok. Kelompok teroris ini merasa kecewa dengan sistem negara yang sedang berlangsung. Kekecewaan itu tidak bisa disampaikan langsung dan belum didengar oleh pemerintah atau lebih khususnya presiden. Langkah nekat dan instan mereka lakukan dengan bom tempat kepolisian yang dianggap kafir dan bom bunuh diri di beberapa tempat, agar pemerintah menyerah atau bertekuk lutut.

Sungguh bodoh memang orang yang berselisih atau berperang karena motif politik, apalagi sampai mengatasnamakan agama. Muhammad Abduh menyebutkan, tak ada penyakit yang lebih besar yang merasuk dalam tubuh, akal, dan semangat kaum muslimin, kecuali masuknya orang-orang bodoh (al-jahalah) ke dalam pemerintahan. Al-Jahalah adalah mereka yang berhati kasar (al-khusyunah) dan berkepribadian sangat arogan (al-ghatrasah). Mereka tidak mengerti Islam yang benar, keimanan mereka semu dah tak mendalam.

Pandangan Abduh tersebut, meski sudah lama disampaikan, masih tetap relevan dihadapkan dengan perselisihan antar kelompok progresif dan konservatif di era sekarang ini. Mereka hanya berselisih untuk meraih kekuasaan, bukan untuk memperjuangkan kemanusiaan. Hanya mungkin ada beberapa orang yang berselisih demi kemanusian. Katakan saja, Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur yang ikhlas melepas jabatannya sebagai presiden karena untuk menghindari pertumpahan darah di negeri ini. Gus Dur lebih mengutamakan kepentingan kemanusian dibandingkan kepentingan politik atau kelompok. Makanya, tidak heran jika Gus Dur disebut sebagai bapak humanis.

Sebagai penutup, hindari perselisihan karena memperebutkan kekuasaan. Kekuasaan itu hanyalah sementara. Carilah sesuatu yang abadi yaitu memperjuangkan tegaknya kemanusian di negeri ini. Bela kelompok yang tertindas, baik kelompok minoritas maupun kelompok mayoritas. Dengan cara itulah, nama kita akan abadi seperti para pahlawan, meski raganya sudah tiada, nilai-nilai perjuangan tetap dikenang sepanjang masa.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru