26.8 C
Jakarta

Dukung Regenerasi dan Ekspansi ISIS dengan Baby Factory ISIS Season 2

Artikel Trending

KhazanahResonansiDukung Regenerasi dan Ekspansi ISIS dengan Baby Factory ISIS Season 2
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Banyak wanita dan anak-anak ISIS menantikan giliran mereka dapat dipulangkan ke negara asalnya. Mereka lelah dan pasrah selama hampir 6 (enam) tahun ini karena tidak mendapatkan kejelasan dari negara asalnya. Mereka kini masih tersebar di beberapa lokasi pengungsian seperti Al Hol di Suriah Timur, Al Roj di perbatasan Suriah dengan Irak dan Ein Issa yang berbatasan dengan Turki sejak kekalahan ISIS tahun 2017 silam.

Di Al Hol sendiri, setidaknya terdapat 50.000 pengungsi dengan hampir 20.000 dari mereka adalah anak-anak; sebagian besar sisanya adalah perempuan, istri dan janda pejuang ISIS. Pada bagian terpisah yang dijaga ketat yang dikenal dengan sebutan “the annex” atau paviliun, terdapat tambahan 10.000 orang: 2.000 wanita dari 57 negara yang dianggap sebagai the most die-hard ISIS supporters bersama dengan sekitar 8.000 anak mereka.

Mereka memilih untuk dapat dikembalikan ke negaranya daripada mereka harus bertahan di pengungsian tanpa kejelasan. Mereka memahami betul konsekuensi kembalinya akan mendapatkan hukuman pidana di negaranya, namun mereka menganggap pulang adalah pilihan terbaik.

Menilik kembali ke tahun 2017, terdapat Puluhan ribu anggota ISIS yang menyerahkan diri, sebagian besar pria ditahan di penjara SDF/Syrian Democratic Forces pimpinan Kurdi di Suriah, sementara perempuan dan anak-anak ditampung di berbagai kamp pengungsian.

Hingga saat ini, proses hukum untuk para tahanan ISIS terus berlanjut. Disisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terus mendorong negara-negara melakukan repatriasi pada 27.000 anak yang berada di pengungsian SDF. PBB meminta negara-negara untuk mempertimbangkan repatriasi atas nama kemanusiaan.

Kepala Kontra Terorisme PBB, VLadimir Voronkov pada pertemuan informal DK PBB pada 29 Januari 2021 mengatakan untuk negara-negara dunia mempertimbangkan keberlangsungan hidup anak-anak ini dengan mengatakan bahwa anak-anak di kamp pengungsian sedang menemui situasi yang mengerikan dan mereka rentan teradikalisasi di kamp.

Untuk itu, banyak negara-negara di dunia mulai mempertimbangkan upaya repatriasi dimulai dengan melakukan asssessment terlebih dahulu. Meski pada pada awalnya Amerika Serikat tegas menolak warga negara eks-ISIS untuk kembali dan Inggris juga menegaskan akan mencabut kewarganegaraan mereka yang telah mendukung ISIS kembali ke Inggris.

Namun, beberapa negara Eropa termasuk Belgia telah memahami urgensi PBB ini dengan membuat kebijakan untuk memulangkan dan memprioritaskan anak-anak untuk kembali ke Belgia secara bertahap pasca assessment. Inggris turut memulangkan sejumlah anak mulai dari September 2020 lalu. Australia juga memilih untuk memulangkan anak-anak dan mempertimbangkan kepulangan perempuan ISIS secara bertahap sejak 2019.

Berbeda dengan negara-negara tersebut, Amerika serikat berkeinginan untuk membawa pulang semua warganya yang di penjara dan telah melakukan repatriasi sejak awal tahun 2020 hingga hari ini. namun AS sepertinya tidak memprioritaskan kepulangan para wanita dan anak-anak saat ini.

Indonesia juga sepertinya terus mempertimbangkan upaya repatriasi ini. Namun Indonesia masih memprioritaskan faktor keamanan domestik dan masalah sosial juga akan timbul sebagai imbas dari repatriasi mantan militan ISIS ini. Menurut pakar kontra teror di Indonesia, Indonesia juga dinilai belum dapat mendekteksi kadar ideologi terorisme seseorang, sehingga sulit nampaknya melakukan objective assessment terhadap para pengungsi ISIS ini.

Pemerintah Indonesia turut menanggapi PBB melalui Menko Polhukam, Mahfud MD pada 12 Februari 2020, dengan menyampaikan bahwasanya Indonesia lebih cenderung akan mempertimbangkan kepulangan anak-anak yatim piatu usia di bawah 10 Tahun dan menguatkan keputusan pemerintah yang pernah disampaikan Presiden Joko Widodo untuk tidak memulangkan WNI yang terlibat ISIS dan konsisten ingin memberikan rasa aman kepada 267 juta rakyat Indonesia dari ancaman terorisme.

Saya pernah mencatat input yang diberikan oleh Sidney Jones (Direktur Eksekutif Institute For policy Analysis of Conflict/IPAC) untuk Indonesia, pada 22 Januari 2020, Indonesia dinilai tidak memiliki kemauan politik (political will) untuk memulangkan anak-anak. Jones menilai hal ini lebih diprioritaskan sekarang untuk menghindari resiko mereka menjadi radikal dan menjadi satu ancaman untuk masa depan Indonesia.

Dalam perkembangannya, BNPT sempat merencanakan melakukan assessment (pemeriksaan identitas dan status kewarganegaraan) terhadap FTF yang berada di kamp pengungsian ISIS di Irak, Suriah dan Turki. Hasil pemeriksaan itu yang nantinya didorong untuk menjadi bahan pertimbangan bagi Pemerintah Indonesia melakukan pemulangan ataupun repatriasi para FTF di luar negeri.

BNPT pada 28 desember 2022 telah mencatat dari 1.403 orang FTF, 545 orang masih ada di zona konflik Suriah dan Irak, 128 diketahui meninggal dunia, 174 orang menjadi returni, 556 orang menjadi deportan. Selain di zona konflik Suriah, Satgas FTF RI juga mencatat ada 37 FTF di Filipina, sebanyak 21 FTF di Afghanistan, dan 11 orang menjadi deportan. Satgas juga mencatat ada 138 anak-anak dalam kelompok tersebut.

Belum selesai dengan upaya repatriasi, kini muncul ancaman baru. Dailymail.co.uk  pada 23 Februari 2023, memberitakan bahwasanya banyak remaja laki-laki ISIS yang dipaksa untuk menjadi sex slave dan impregnate/menghamili wanita ISIS di kamp pengungsian Suriah untuk tujuan meningkatkan populasi Kekhalifahan di pengungsian.

Krisis laki-laki dewasa di Kamp pengungsian ISIS di Suriah membuat para wanita ini memaksa para anak laki-laki untuk menghamili mereka. Menurut kesaksian korban yang disebutkan dalam pemberitaan tersebut, Ahmed (13 Tahun) dan Hamid (14 Tahun) dipaksa untuk berhubungan seks dengan wanita ISIS untuk impregnate di kamp Al-Hol.

Keduanya mengklaim telah menjadi korban kekerasan seksual dan mereka mengatakan kepada staf kamp bahwa salah satu dari mereka, dipaksa berhubungan seks dengan delapan wanita ISIS hanya dalam beberapa hari. Terdapat 8 anak lainnya yang saat ini telah dibawa ke pusat rehabilitasi Orkesh di Kota Qamishli, timur laut Suriah. Mereka telah diselamatkan oleh SDF yang sempat disembunyikan oleh wanita ISIS dibawah terowongan bawah tanah.

Mirisnya, mereka (para anak-anak) dari awal tergabung dan bergabung dengan kelompok ISIS terus dipergunakan oleh pejuang ISIS melakukan berbagai upaya propaganda khususnya di media sosial dalam merekrut targetnya di seluruh dunia. Mereka nyaris “have no childhood” akibat dari ISIS me-weaponized anak-anak ini sebagai katalisasi radikalisme dan terorisme yang mereka lakukan terhadap dunia.

BACA JUGA  Bimtek PPIH 2024: Upaya Kementerian Agama Melahirkan Uwais Al-Qarni di Zaman Modern

Hal ini sesuai dengan argumentasi Bloom (2017) dalam kajiannya yang berjudul “The Islamic State Group has Weaponized Children” bahwasanya “the Islamic State has weaponized children”. Hal ini terlihat saat video propaganda ISIS memamerkan anak bernama Abdullah mengeksekusi 2 (dua) tahanan yang diduga mata-mata Rusia pada 13 Januari 2015. Ryan Essid juga pernah diminta mengeksekusi Muhammad Musallam yang dituduh sebagai mata-mata Mossad (Bacchi:2015).

Contoh ini hanya sedikit dari banyaknya peran besar lainnya yang dimainkan oleh pejuang ISIS untuk melibatkan anak-anak dalam propagandanya menjadi katalisator penyebaran paham radikalisme dan terorisme di dunia. Sehingga hal ini sepertinya dijadikan sebagai alat para perempuan ISIS yang terjebak akibat pencabutan hak kewarganegaraanya dan memilih untuk tidak kembali ke negaranya, meskipun ada opsi kembali, untuk meregenerasi dan melakukan ekspansi ISIS melalui jalan sex slavery anak laki-laki yang menginjak usia pubertas.

Mereka optimis para lelaki yang ditahan oleh SDF akan bebas, lalu menyelamatkan mereka dari ketidakpastian di pengungsian dan kembali membangun ISIS di Suriah. Oleh sebab itu, hal yang memungkinkan untuk mereka (para “The terror temptresses”) lakukan saat ini adalah dengan melahirkan dan meningkatkan populasi generasi baru Kekhalifahan ISIS di kamp pengungsian dan memberi makan mereka dengan ideologi ekstremis.

Hal inilah yang melatarbelakangi kebijakan SDF untuk mengadopsi kebijakan memindahkan anak-anak yang menuju masa pubertas ke fasilitas rehabilitasi untuk mendapatkan konseling anti-esktremisme dan dipersiapkan untuk reintegrasi ke dalam masyarakat. Namun kebijakan ini nampaknya mendapatkan respon kecaman dari PBB yang dikatakan hal ini sebagai “unlawful” dan menyarankan untuk “forcibly disappeared” atau penghilangan secara paksa atau dijual.

Dapat dikatakan bahwa, para wanita ISIS yang stateless ini memberikan dukungannya untuk ekspansi ISIS dengan membuka ruang baby factory di setiap pengungsian yang mereka tinggali saat ini. Selain itu, tewasnya pemimpin tertinggi mereka bernama Abu Ibrahim Al-Aqurashi dan Abu Hasan Al-Hashimi Al-Qurashi, dimungkinan juga sebagai motivasi mereka untuk bangkit dan membalaskan dendam kematian pemimpinnya itu.

Upaya baby factory pernah dianggap “berhasil” yang dilakukan oleh pejuang ISIS pada masa kejayaannya tahun 2014-2015 silam (kita sebut saja, baby factory season 1). Hal ini dibenarkan oleh Sophie Kasinki, seorang returnee dari Paris pada April 2016 yang menceritakan pengalaman buruknya sempat terjebak bergabung dengan ISIS tahun 2015 silam. Dalam bukunya yang berjudul Dans la Nuit de Daech (In the Night of Daesh) atau “suatu malam di negara Islam (ISIS)”, Kasinki menceritakan di Raqqa (salah satu wilayah kekuasaan ISIS), para wanita-wanita ISIS terus hamil dan dipaksa untuk melahirkan dengan operasi sesar di bangsal bersalin yang disebut disana sebagai “baby factory”.

Tahun itu, merupakan tahun kejayaan ISIS di beberapa wilayah Suriah dan Irak. Tidak sedikit para pejuang ISIS membuat propaganda untuk terus menghasilkan generasi baru dan mengajak banyak simpatisan bergabung ke wilayah kekuasaan ISIS pada saat itu. Tidak terkecuali propaganda ISIS yang melibatkan bayi ISIS yang baru lahir seperti gambar berikut:

Dalam foto tersebut, propagandis ISIS yang dianggap orang Indonesia (karena menggunakan pesan berbahasa Indonesia), menargetkan khususnya simpatisan ISIS di Indonesia untuk melakukan perjalanan ke Suriah dan Irak bergabung dengan mereka. Saat itu, Indonesia terus menjadi sasaran konversi radikal ISIS dan Pemerintah Fairfax County mencatat pada Agustus 2015, setidaknya sebanyak 700 orang Indonesia telah melakukan perjalanan ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS.

Meski stuck di kamp pengungsian, kini para perempuan ISIS semakin radikal dan ingin mendukung kembali para pejuang ISIS yang sudah kalah dengan melakukan birth rate enhancement untuk menambah populasi generasi ISIS di kamp-kamp pengungsian dengan memaksa para anak-anak yang baru pubertas untuk menghamili mereka. Inilah yang menurut penulis katakan sebagai potensi hadirnya ancaman ‘baby factory ISIS season 2’ sebagai jawaban untuk meregenerasi eksistensi simpatisan ISIS disana.

Jika hal ini dibiarkan, maka benar, populasi generasi penerus ISIS akan terus meningkat jumlahnya dan nisbi, anak-anak itu akan menjadi remaja radikal yang bisa menimbulkan aksi kekerasan yang mengarah kepada aksi terorisme di masa depan. Mengingat, cita-cita para wanita ISIS yang radikal ini melakukan berbagai upaya untuk meradikalisasi mereka hingga berhasil membangkitkan kembali “negara islam/Daesh”.

Padahal, para wanita ini digadang-gadang oleh negara di dunia untuk menjadi agents of change untuk mencegah adanya violent extremism dengan mengadaptasi kebijakan yang ada dan mengintegrasikan wanita dengan upaya-upaya yang pernah ISIS terapkan untuk merekrut dan meradikalisasi para simpatisannya.

Lalu, apa yang bisa pemerintah Indonesia lakukan saat ini?

Pemerintah Indonesia perlu terus didorong melakukan assessment untuk memverifikasi khususnya anak-anak yatim piatu yang berada di kamp-kamp pengungsian ISIS. Selain itu, Pemerintah juga perlu mempertimbangkan kontribusinya terhadap kebijakan pembangunan dan pusat rehabilitasi Orkesh di Kota Qamishli, timur laut Suriah sebagai upaya re-edukasi untuk memberikan nilai positif saat direpatriasi.

Pemberdayaan perempuan untuk dijadikan sebagai agents of change di kamp-kamp pengungsian juga perlu menjadi pertimbangan serius untuk menurunkan tingkat radikalisasi mereka sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk mendukung ISIS.

Mengingat pada pembebasan pertama 800 perempuan dan anak-anak dari pengungsian Al-Hol pada tanggal 14 Juni 2019, menguatkan semangat mereka untuk bergabung dengan ISIS seperti Safaa Mumen yang tanpa penyesalan mengatakan “Saya merasa senang bisa dibebaskan tapi saya harap ISIS akan memimpin kami kembali”.

Sehingga, perhatian dengan upaya deradikalisasi terhadap para perempuan ini perlu dilakukan melalui PBB sebagai upaya memitigasi potensi adanya ancaman di masa mendatang. Adanya kehadiran di masa mendatang, sosok para remaja lebih ekstrem dan radikal dilahirkan dari para radikalis ISIS untuk melakukan teror lebih massive yang mampu mengancam stabilitas keamanan dan pertahanan nasional, regional maupun global.

Siska A., M.Han
Siska A., M.Han
Pengamat dan Analis Kajian Gender dan Kontra Radikalisme Terorisme

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru