30 C
Jakarta

Duh Lucunya, Maraknya Kampanye Khilafah Menjelang Pilpres 2024 Nanti!

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanDuh Lucunya, Maraknya Kampanye Khilafah Menjelang Pilpres 2024 Nanti!
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Pemilu 2024 nanti sudah diperbincangkan jauh dari hari kemarin. Kandidat calon presiden dan wakil presiden mulai dikampanyekan, meski belum jelas mereka calon jadi dan bergandengan dengan siapa.

Lucunya, di tengah hiruk-pikuk pemilu yang tinggal setahunan lebih nongol sales Khilafah yang mengampanyekan berdirinya pemimpin baru dan Khilafah Islamiyah pada tahun 2024 tersebut. Sales Khilafah yang dimaksud adalah pendakwah Ustadz Bachtiar Nasir.

Keterlibatan Nasir dalam kampanye Khilafah, apalagi mengaku sebagai ustadz jelas tidak dapat diterima. Selain sistem Khilafah yang bermasalah, Nasir sendiri pernah terlibat dalam kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dana Yayasan Keadilan untuk Semua (YKUS). Masihkah dia pantas menyandang sebutan Ustadz?

Sebelum lebih lanjut bahas kekeliruan Khilafah versi HTI, ISIS, dan beberapa organisasi lainnya, perlu ditegaskan duduk perkara sebutan Ustadz itu. Sebutan Ustadz sejatinya hanya layak disandang oleh orang yang bukan saja “alim” (menguasai ilmu pengetahuan) tapi juga “muallim” (menjadi teladan kepada orang lain).

Bagaimana mungkin Nasir dapat dijadikan teladan, baik ucapannya maupun perbuatannya, jika dia sendiri tidak memberikan contoh yang baik kepada orang lain? Bukankah sudah jelas bahwa Nasir ini terlibat dalam korupsi dan beberapa kasus yang lain? Layakkah Ustadz melakukan perbuatan tercela begitu?

Nah, jika Nasir tidak layak disebut Ustadz, maka segala ucapannya butuh dipertanyakan (bila enggan berkata “ditolak”). Apalagi, yang dikampanyekan adalah berdirinya Khilafah yang jelas-jelas menyalahi misi hadirnya Islam di tengah semesta.

Khilafah versi HTI, ISIS, dan lainnya jelas tidak dapat disamakan (karena memang tidak sama) dengan Khilafah yang disinggung dalam hadis Nabi Muhammad. Khilafah versi HTI dkk adalah sistem yang menolak sistem Demokrasi yang telah disepakati oleh ulama dan para pahlawan Indonesia. Sedang, Khilafah versi Nabi merupakan sistem yang menegakkan nilai-nilai kemaslahatan umat.

BACA JUGA  Buya Syafii Maarif dan Perjuangannya Menegakkan Toleransi di Indonesia

Nabi tidak mempersoalkan sistem suatu negara, meski tidak menyebut sistem itu Khilafah. Yang terpenting, sistem yang ditegakkan di suatu negara membawa nilai-nilai kemaslahatan. Misal, dengan sistem yang ada segala keburukan seperti korupsi, pencucian uang, dll dapat diatasi.

Maka, tidak keliru Indonesia menggunakan Demokrasi sebagai sistem suatu negara yang dapat merangkul ragam perbedaan, mulai perbedaan pemikiran hingga perbedaan keyakinan. Buktinya, Demokrasi mampu mempertemukan perbedaan agama yang ada dalam keyakinan terhadap keesaan Tuhan, sama-sama menegakkan keadilan, dan membangun persatuan.

Sales Khilafah, salah satunya Nasir, memang cukup lihai dalam mengkampanyekan sistem berbahaya ini. Mereka selalu mencari celah dan kesempatan di setiap isu yang sedang naik. Kemarin saat isu LGBT naik, sales Khilafah muncul dengan menghantam negara Demokrasi sedang dalam keadaan bermasalah. Bahkan, isu pilpres 2024 naik sales Khilafah kembali memperlihatkan batang hidungnya.

Kelihaian sales Khilafah tidak dapat dianggap sepele. Meski isu Khilafah hanyalah sebatas imajinasi, ia cukup berbahaya terhadap eksistensi masa depan Demokrasi. Masyarakat yang tidak tahu duduk persoalannya akan dengan mudahnya digiring untuk mengkampanyekan Khilafah sebagai bagian dari negara. Bahkan, tragisnya Khilafah dipercayai sebagai bagian dari syariat Islam.

Maka dari itu diperlukan kontra-Khilafah sebagai bentuk preventif atas masa depan bangsa. Kontra-Khilafah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Penulis dapat melakukan kontra-Khilafah lewat tulisan. Penceramah dapat menyerang balik sales Khilafah lewat ceramahnya. Dan seterusnya.

Isu Khilafah tidak bakal punah sebelum politik itu punah terlebih dahulu. Khilafah yang dikampanyekan HTI, ISIS, dan beberapa organisasi lainnya bukan murni untuk kepentingan agama, melainkan hanya untuk kepentingan politik semata. Sales Khilafah hanya berbaju agama untuk membohongi publik demi tercapainya kekuasaan.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru