30 C
Jakarta
Array

Dua Tahun Perang Yaman, 7.700 Tewas dan 42.500 Terluka

Artikel Trending

Dua Tahun Perang Yaman, 7.700 Tewas dan 42.500 Terluka
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Sanaa. Tak terasa perang di Yaman sudah memasuki tahun kedua. Hasilnya, menurut data PBB, 7.700 orang tewas dan 42.500 orang lainnya terluka sejak koalisi pimpinan Arab Saudi terlibat dalam perang.

Konflik ini semakin menegaskan persaingan regional antara Iran lewat pemberontak Huthi yang didukungnya dan Arab Saudi yang memimpin sembilan negara koalisi.

Berikut ringkasan dua tahun perang di Yaman:

Operasi militer

Pada 26 Maret 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi menggelar operasi militer dengan sandi “Decisive Storm”.

Operasi militer ini diwarnai serangan udara terhadap pemberontak Huthi untuk membantu Presiden Abedrabbo Mansour Hadi yang mengungsi ke Riyadh.

Koalisi pimpinan Arab Saudi ini terdiri atas negara-negara Teluk yaitu Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab ditambah Mesir, Jordania, Maroko, dan Sudan.

Sebulan setelah digelar operasi militer ini berganti nama menjadi operasi “Pemulihan Harapan” atau “Restoring Hope”.

Tujuan operasi militer ini adalah mengalahkan pemberontak Syiah yang menguasai ibu kota Sanaa sejak September 2014 dan wilayah luas di sisi utara, tengah, dan barat Yaman.

Pada 17 Juli 2015, pemerintah Yaman mengumumkan dibebaskannya provinsi Aden di wilayah selatan lewat pertempuran selama empat bulan.

Pada Agustus 2015, operasi militer koalisi ditambah dengan pengerahan ratusn personel pasukan darat.

Pada pertengahan Agustus, pasukan yang loyal pada pemerintah merebut wilayah selatan Yaman tetapi menghadapi menguatnya kelompok Al Qaeda dan ISIS.

Pada Februari 2016, Riyadh mengabarkan, pasukan pemerintah sudah menguasai tiga perempat wilayah Yaman, meski masih tak mampu merebut provinsi Taez di barat daya dan Marib di wilayah tengah negeri itu.

Pembicaraan damai yang disponsori PBB berakhir dengan kebuntuan dan jet-jet tempur koalisi kembali menggempur Sanaa pada 9 Agustus 2016.

Pada 7 Januari 2017, pasukan pro-pemerintah yang didukung serangan udara koalisi menggelar operasi “Golden Spear” di sekitar teluk Bab-al Mandab yang strategis karena berada di antara Laut Merah dan Teluk Aden.

Gagalnya gencatan senjata

PBB dan AS mencoba menggelar tiga babak perundingan antara pihak bertikai di Yaman. Semuanya berakhir dengan kegagalan.

Tiga pembicaraan damai itu digelar di Swiss (Juni dan Desember 2015) dan di Kuwait (April 2016). Tujuh gencatan senjata disepakati tetapi seluruhnya dilanggar.

Hubungan yang memburuk antara Arab Saudi dan Iran membuat konflik semakin sulit diakhiri karena semakin menyulitkan tugas para diplomat.

Pemerintahan Presiden Hadi, yang diakui dunia internasional, akhirnya memiliki basis di kota pelabuhan Aden pada September 2016.

Dua bulan kemudian, pemberontak dan pasukan pendukung mantan presiden Ali Abdullah Saleh membentuk pemerintahan di Sanaa.

Langkah ini semakin menipiskan harapan terbentuknya pemerintah bersatu bentukan PBB.

(Kompas.com)

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru