26.3 C
Jakarta

Dua Hal yang Dilarang Rasulullah dalam Bercanda

Artikel Trending

Asas-asas IslamSirah NabawiyahDua Hal yang Dilarang Rasulullah dalam Bercanda
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Tertawa merupakan salah satu fitrah manusia. Selama ini kita cenderung menyukai kebahagiaan dan kesenangan. Tak seorang pun yang ingin dilanda murung dan kesedihan. Terutama di masa pandemi, kesehatan tubuh ikut dipengaruhi oleh tingkat kebahagiaan. Jadi, setiap kita harus bisa menjaga mood tubuh, salah satunya dengan tertawa.

Islam juga menganjurkan tertawa. Sebab, banyak sekali manfaatnya, salah satunya sebagai katarsis pembersihan dari masalah hidup, setelah tertawa beban terasa lebih ringan. Dikisahkan dalam Al-Qur’an bahwa Nabi Sulaiman juga tertawa saat melihat sekelompok semut yang bertepi lantaran sang Nabi ingin lewat. Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim juga sama halnya, tertawa ketika mendengar kabar akan melahirkan seorang Nabi bernama Ishaq.

Di majlis virtual Gus Baha menjelaskan bahwa bergembira menjadi perintah khusus dalam Alquran. Qul bifaḍlillāhi wa biraḥmatihī fa biżālika falyafraḥụ, huwa khairum mimmā yajma’ụn.

Artinya: “Katakanlah: Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. “Senang itu diperintahkan Tuhan. Ekspresi senang paling gampang ya guyon itu,” imbuhnya.

Meskipun diperbolehkan, kita tetap harus waspada. Jangan sampai tertawa mengeraskan hati dan mengundang dosa. Lalu hal apa sajakah yang tidak diperbolehkan dalam bercanda.

Berdusta atau Memfitnah Orang lain

Tentunya, kita banyak menemukan di dunia digital kata-kata, video atau meme yang lucu. Bentuk candaannya pun beragam. Ada yang memposting dagelan dengan informasi hoaks hanya demi mengundang tawa banyak orang dan dapat banyak like. Perbuatan seperti itu tidak diperbolehkan. Nabi SAW bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya.” [HR Abu Dawud no. 4990. Hasan]

Tak hanya itu, ada pula yang membuat video berisi isu isu selebriti yang tidak valid. Hanya demi membuat orang tertawa atau mendapat banyak views. Jelas, hal semacam itu sangat merugikan orang lain. Bisa jadi setelah video tersebut viral selebriti tersebut mendapat hujatan dari banyak pihak.

BACA JUGA  Perhatikanlah 3 Hal Yang Dikhawatirkan Rasulullah

Abu Daud meriwayatkan Rasulullah bersabda: Aku menjamin sebuah istana di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan kebohongan meskipun hanya bergurau.

Bahkan Rasulullah pun berani menjamin ganjaran bagi mereka yang meninggalkan berkata dusta dalam bercanda. Tertawa termasuk proses katarsis, namun jika dilakukan dengan cara yang salah maka akan menimbulkan dosa.

Overdosis
Segala sesuatu yang berlebihan tidak diperbolehkan. Begitupula dalam tertawa. Sebab, tertawa yang berlebihan membuat hati menjadi keras. Kata Plato, orang yang berlebihan dalam humor akan kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Jika kekurangan tertawa kita menjadi orang beku, overdosis tertawa bisa mematikan hati. Maka, tertawa sekedarnya saja.

Kita pun harus tahu tempat dan objek jika ingin bercanda. Jangan sampai bercanda kita menyakiti hati orang lain. Misalnya, ketika melihat atau mendengar musibah justru kita tertawa, melihat kecelakaan tertawa. Hal yang seperti itu sangat tidak manusiawi. Dalam kitab Adabud dunya wad-Din karya Imam Al-Mawardi jika ingin bersenda gurau, maka lakukankah seperti memberi garam pada makanan. Hidangan yang terlalu banyak garam tidak bisa dimakan, begitupun jika kurang garam akan hambar, maka secukupnya saja.

وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ

Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.” [HR. Tirmidzi 2/50]

Mubarakfuri maestro kitab Sirah Nabawiyah menguraikan bahwa tertawa terbaha-bahak dan berlebihan akan menjadikan hati tenggelam dalam kegelapan. Kondisi hati yang gelap menjadikan seseorang bagaikan mayat yang tidak bisa memberikan manfaat bagi dirinya sendiri serta menolak nasehat.

Demikianlah hal-hal yang menyebabkan tertawa menjadi sebuah bencana. Di balik anjuran tertawa yang telah tertulis dalam kitabNya, sebagai umat Islam yang taat kita tetap perlu berhati-hati. Semoga aktivitas tertawa kita tetap dinilai sebagai bagian dari ibadah.

Marisa Rahmashifa, adalah mahasiswa Jurusan Sastra Inggris UIN Malang

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru